Dec 09 2010

Kepala Sekolah sebagai Manager sekaligus Leader: sebuah tantangan bagi profesi guru

Published by under Courses

Baca lebih lanjut di sini.

No responses yet

Sep 25 2010

Social Networking

Published by under Opinion

Beberapa minggu belakangan ini saya semakin sering mendengar pemberitaan di media televisi mengenai anak gadis  belasan tahun yang dikabarkan hilang bahkan menghilang dari rumahnya dengan teman lelaki yang dikenalnya melalui situs jejaring sosial yang berjudul ef-be. Pada umumnya mereka dikabarkan berkenalan, kemudian setelah beberapa kali saling berkomunikasi disepakatilah temu darat, dan seterusnya akhirnya merekapun bepergian ke tempat-tempat yang tak disebutkan di mana..

Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Mengapa ya hal ini bisa terjadi?

3 responses so far

Sep 18 2010

Back to nature life style

Published by under Leisure

‘Boras is a small but safe city’, a friend of mine informed me about this city. This information was being one of many factors encouraging me to visit this place. How? As technology has been provided information regarding opportunities for scholarship I started searching for this. Erasmus Mundus External Windows Cooperation (EMECW) was an activity created by eleven universities from European and Asean countries. They were offering staffs and students of universities involved in this program to join exchange program. This opportunity was pushed myself to learn, apply, and win this. Then… finally…… I have won an opportunity to stay for one month in Hogskolan i Boras. The program is Staff Mobility (Exhange Staff) for the Teacher Training at the School of Education & Behavioral Science.

My flight arrived Landveter on Friday, 14 August 2010.
Located in about the middle of Sweden, fourty five minutes by car to the east from the Landveter Airport of Gotheborg.
I was surprissed when I did not find any crowded and bussy people in the airport.
Before Lillemore, a profesor of Boras, who picked me up at the airport call my name I did not realized that I have already out of airport.

The day after Ingeborg invited me and some Erasmus’ friends for a barbeque.
It was a Ramadhan fasting for me.
But, joint them to the lake would be great.
During their barbeque, I spent my time enjoying the lake.
Some children were swimming in the lake.
Some couples were jogging climb up the hill.

Children are swimming in the lake

The first time I came to the office, I saw a lot of students ride their bicycle.

A week after I have stayed in this city I found that more people enjoyed walking, hiking, and love their nature.

Children are swimming in the lake

No responses yet

Aug 31 2010

Grown up Digital

Published by under Opinion

Saya baru saja membaca sebuah buku yang berjudul “Grown up Digital” karya Don Tapscott. Seorang adjunct profesor of management at the Joseph L. Rotman dari University of Toronto. Don juga menulis buku “Wikinomics” and “Growing up Digital”.

Seringkali saya mendengar orang tua mengeluhkan anaknya yang terlalu menikmati berinteraksi dengan kotak kecil dan ajaib bernama komputer. Mereka juga mengeluhkan anak-anak mereka berbicara amat lugas seakan tidak mengenal tata krama warisan leluhur. Dan yang amat amat sering keluhan anak-anak mereka diam-diam mengambil uang dari dompet orang tuanya untuk membayar sewa “Game center”.

Pada saat terlibat pembicaraan dengan para orang tua ini, secara amat transparan saya melihat diri saya sendiri dengan berbagai mis-understanding dengan anak-anak saya yang seringkali bersumber dari perbedaan cara memandang sebuah kondisi. Mengapa perbedaan? Untuk menjawab ini, saya mengutip pendapat Don Tapscott yang mengelompokkan penduduk bumi ini ke dalam empat generasi, yaitu:

1. The Baby Boom Generation: Kelompok ini terdiri dari penduduk yang dilahirkan antara 1946 – 1964.
2. Generation X: terdiri dari anda yang dilahirkan pada periode 1965 – 1976.
3. The Net Generation: berisi generasi seusia anak-anak saya yang dilahirkan antara 1977 – 1997.
4. Generation Next: adalah yang lahir pada periode 1998 – sekarang.

Setiap generasi hidup pada era yang berbeda. Jika generasi orang tua saya (the baby boomers) seakan dikagetkan dengan kemunculan televisi kemudian saya ingat sekali mereka pada saat itu mulai membuat rambu-rambu untuk membatasi jam menonton acara televisi. Rambu-rambu ini amat erat kaitannya dengan kekhawatiran akan menurunnya prestasi sekolah. Menonton televisi pada jam-jam premium tentu saja mengurangi jam belajar di malam hari.

Saat ini saya dan rekan-rekan seusia (generasi X) mulai khawatir terhadap anak-anak yang kami lahirkan di era generasi net. Mereka lahir di era teknologi. Ibaratnya orang dilahirkan menghirup udara segar, mereka dilahirkan di tengah maraknya berbagai teknologi komunikasi. Lha apa bedanya dengan saya? Jika saya menganggap teknologi sebagai alat maka anak-anak itu hidup dengan teknologi. Tapscott menyatakan bahwa dikalangan gerasi net, teknologi amat transparan. Don mengutip Coco Conn, cofounder dari Web-based Cityspace projek bahwa bagi generasi net teknologi itu transparan dan seakan tak terlihat, “It doesn’t exist. It’s like the air”. Mereka bernafas dengan teknologi.

Membaca bagian ini membuat saya tercenung. Saya ingat juga dengan pendapat Marc Prensky, seorang penulis kondang yang mendengungkan istilah ‘digital native’ bagi anak-anak yang lahir di era digital, sedangkan kelompok saya sebagai ‘digital immigrant’. Lha bayangkan saja jika seorang native berbicara mereka juga berpikir dengan cara budaya tempat bahasa tersebut berasal. Sebaliknya seorang immigrant yang fasih menggunakan bahasa tempat dia hidup sekarang tetapi seringkali masih menggunakan pola pikir yang dia bawa dari daerah asalnya. Makanya saya kalau berbicara dengan anak-anak sering kali slenco (bahasa jawa yang kira-kira maksudnya tidak tepat karena menggunakan kerangka pikir yang berbeda) …. saya manggut-manggut..

5 responses so far

Jul 27 2010

Opera House nan cantik mempesona

Published by under Leisure

waww..

mataku tak berkedip memandangnya
ketika angin dan udara dingin semakin merasuk
secara reflek keduanya pun berkedip
bengongnya pindah ke mulutku
setengah menganga
orang jawa bilang ‘mlongo’ hehehehh
betul-betul terpana aku dibuatnya
sebuah gedung di pinggir pantai
ada sebuah jembatan melintas di atasnya
langit biru benar-benar biru ru ru
opera house
cantiknya… tulus sekali aku lontarkan
persis seperti Upin dan Ipin memuji atas keseronokan gedung ini

wah pas banget nih mejeng di kejauhan biar kelihatan jelas si gedung cantik

wah pas banget nih mejeng di kejauhan biar kelihatan jelas si gedung cantik

No responses yet

May 30 2010

Belajar dari Pak Min

Published by under Life Skills

Liburan panjang akhir pekan ini saya habiskan di Kaliurang bersama Tim Titian Foundation dan Bapak/Ibu Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Negeri 1 Bayat. Berikut catatan yang sengaja saya kompilasikan dari milist TitianFoundation mengenai seorang Pak Min.

Siapa dan Mengapa Pak Min?
Pak Min yang bernama lengkap Sudarmin adalah seorang pria paruh baya. Sehari-hari, ia bekerja sebagai tenaga pembersih atau lebih sering dikenal dengan sebutan pak Bon atau pesuruh, bahkan ada juga yang menyebutnya sebagai OB, di SMPN1 Banyuripan Bayat. Kemarin pak Min ikut didalam daftar peserta Workshop Pengembangan Sekolah SMPN1 Banyuripan, yang diadakan 2 hari di Kaliurang..  Workshop ini memang dirancang untuk diikuti oleh segenap warga sekolah karena workshop ini bertujuan merembug arah pengembangan ke depan sekolah ini.

Pada workshop hari pertama, semua warga sekolah diajak membangun dan merumuskan mimpi mereka mengenai sekolah ini. Teknisnya, ke enampuluh peserta dibagi menjadi enam kelompok kemudian masing-masing akan mempresentasikan hasil karya mereka di kelas besar. Salah satu presenter yang menarik perhatian adalah Pak Min, yang saat itu menjadi wakil kelompok 6 mempresentasikan hasil diskusi mengenai usulan visi  SMPN 1 kedepan..

Dengan gayanya yang khas, dan meyakinkan pak Min menjelaskan usulan visi SMPN1 – menjadi Sekolah unggul pada tingkat nasional … dst.. Oleh karena cita-cita sekolah akan menjadi yang unggul di tingkat nasional, maka guru-guru harus menguasai “didaktik metodik” … dst.. Tak heran jika presentasi Pak Min ini disambut dengan tepuk tangan dari peserta lain..

Pada saat mendengarkan presentasi itu, saya belum mengetahui siapakah sebenarnya Pak Min ini. Rasa heran memuncak seketika mendengar sambutan dari semua hadirin… Terus terang saya amat terpukau dengan presentasi yang walaupun disampaikan dengan kata-kata yang amat sederhana tetapi amat mengena.. Ketika Pak Min selesai menyampaikan presentasinya, Bu Astuti yang nampaknya menangkap isyarat ketidaktahuan saya membisikkan bahwa pak Min adalah pak bon yang lulusan Sekolah Dasar..

Saya lupa mengenai kata apa yang saya ucapkan saat itu. Yang saya ingat:

Subhanallah,
Alhamdulillah…
Tuhan telah mengirimkan seorang pak Min
Untuk mengetuk hati nurani,
Membakar motivasi,
Setiap warga sekolah ini, dan tentu saja
Kami semua untuk terus belajar…

Gebrakan Pak Min tidak berhenti sampai di sini. Seakan terbakar semangat, malam harinya – setelah diskusi kelompok mengenai Misi sekolah – kembali pak Min mewakili kelompoknya untuk presentasi..  Salah satu petikan dari presentasinya yang dituliskan di email oleh Bu Astuti sebagai “fenomenal”  adalah sbb:

Siswa-siswa harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. tapi tidak hanya siswa, gurupun harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti contohnya dalam ilmu geografi – ada Heliocentrism– dulu kita mengetahui bahwa bumi berputar mengelilingi matahari – matahari sebagai pusat. ternyata kemudian diketahui bahwa matahari mengelilingi galaksi – dan galaksi berputar mengelilingi lubang hitam (black hole).. Jadi guru yang mengajar geografi harus tau perkembangan yang terjadi ..dst..dst
…. guru harusnya mendidik, tidak hanya mengajar…. dst .. dst

Saya terperangah sambil berkali-kali memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah mengirimkan seorang pencerah.. Subhanallah…

Siapakah Pak Min?
Gogon menuliskan di salah satu emailnya, bahwa Pak Min berasal dari Trenggalek Jawa Timur. Ia adalah seorang pria yang gigih penuh motivasi, mencintai isteri dan anak-anaknya. Menurut Anita, di SMP Bayat ini pak Min sangat rajin mengunjungi perpustakaan. Dia sangat rajin browsing internet utk mengupdate pengetahuannya. Beliau juga salah satu peminjam buku pertama… kalau beliau tau ada buku baru biasanya beliau akan bersegera menyusul ke perpustakaan…

Terima kasih Pak Min,
Saya jadi malu
karena sering tidak rajin membaca
tidak rajin meng update ilmu…

6 responses so far

May 22 2010

May is coming

Published by under Courses,Leisure

Inget lyric lagunya Bee Gees yang ini?

When I was small, and christmas trees were tall,
We used to love while others used to play.
Dont ask me why, but time has passed us by,
Some one else moved in from far away.

(chorus)
Now we are tall, and christmas trees are small,
And you dont ask the time of day.
But you and i, our love will never die,
But guess well cry come first of may.

The apple tree that grew for you and me,
I watched the apples falling one by one.
And I recall the moment of them all,
The day I kissed your cheek and you were mine.

(chorus…)

When I was small, and christmas trees were tall,
Do do do do do do do do do…
Dont ask me why, but time has passed us by,
Some one else moved in from far away.

May..May…May… you are coming now. I am still sitting on the same place.

Last year, on May I promised to finish writing this book.
To day, May 22 the book has not done yet..

No responses yet

May 22 2010

Padang pasir: sudah menghijau?

Published by under Leisure

April tanggal 25 lalu saya mendapat kesempatan berkunjung ke Doha, Qatar. Undangan dari ROTA ini sebetulnya sudah kutunggu semenjak lama. ROTA adalah sebuah organisasi yang amat concern dengan pendidikan di negara-negara yang belum maju. Organisasi ini menjunjung tinggi visi meningkatkan aksesabilitas pendidikan bagi insan yang kurang beruntung. Visi ini berjodoh dengan yang dijunjung tinggi oleh Titian Foundation.

Saya bergabung sebagai volunteer pada Titian Foundation semenjak yayasan ini berdiri. Melalui Titian, saya dapat meningkatkan kiprah dalam bidang pendidikan. Berbagai ide seakan berkembang subur semenjak saya bergabung dengan yayasan ini. Salah satunya adalah TQI alias Teacher Quality Improvement yang telah membawa saya menginjakkan kaki kembali ke negara  yang berlokasi di tengah padang pasir.

Dua tahun lalru, saya beserta suami dan ibunda berkesempatan bersujud di Baitullah..

Kali ini saya bersama dengan bu Lily Kasoem mengunjungi Qatar, salah satu negara kecil yang terletak di wilayah middle east. Negara padang pasir yang kubayangkan adalah negara yang gersang bebatuan. Pohon yang tumbuh hanya pohon penghasil buah korma. Tapi apa yang kulihat tidak seperti yang kubayangkan. Negara padang pasir ini bisa hijau. Gedung perkantoran berhalaman rumput hijau bak lapangan golf di lembah merapi.

salah satu pemandangan di depan istana nan hijau
Pemandangan di depan istana nan hijau

Salah satu pemandangan yang setiap hari kulewati dalam perjalanan pergi dan pulang dari hotel menuju kantor ROTA adalah sebuah istana yang halaman rumputnya menghijau sebagaimana tampak di gambar sebelah ini. Hijau khan??

No responses yet

May 11 2010

Meraih Sekolah Favorit: Mengapa?

Published by under Opinion

‘Saya cemas menghadapi tahun ajaran ini karena si Bungsu nilainya pas-pas an’, begitulah ujar Indri teman saya. Indri seorang ibu dari tiga anak, laki-laki semua. Putra pertama Indri saat ini mulai masuk Universitas negeri ternama, sudah dinyatakan diterima melalui jalur khusus. Putra keduanya kelas 2 di sebuah SMP favorit di kota ini, sedangkan si Bungsu Irfan saat ini lulus SD dengan nilai (menurut Indri) pas-pas an sehingga Indri amat bingung karena khawatir Irfan tidak dapat masuk di sekolah favorit sebagaimana kakak-kakaknya.

Mengapa sebuah sekolah menjadi favorit?
Pertanyaan ini dilontarkan anak laki-laki saya kira-kira 6 tahun lalu. Ketika itu, ia lulus ujian SMP Negeri pinggiran yang tidak favorit. Ia heran mengapa semua orang tua membicarakan sekolah favorit. Bukankah semua sekolah itu harusnya favorit bagi anak-anak? Begitulah celotehnya.

Anak saya menghabiskan masa sekolah dasar hingga kelas 7 (identik dengan kelas 1 SMP) di Inggris. Ia hanya mengenal sistem yang sama di semua sekolah. Ia tidak pernah mendengar kedua orang tuanya memperbincangkan mana sekolah favorit dan mana pula sekolah yang tidak favorit. Sayapun sebagai orang tua tidak pernah mau menyibukkan diri dan tidak pernah sempat membahas masalah ini sampai akhirnya kami pulang ke tanah air tercinta ini. Di sini anak-anak harus mencari sekolah yang terbaik karena ternyata banyak sekolah yang (menurut cerita orang kebanyakan) tidak dikelola dengan baik. Lebih sedih lagi sekolah-sekolah tersebut tidak memiliki guru-guru yang memiliki dedikasi kepada dunia pendidikan. Sejak saat itu sayapun akhirnya mulai berpikir untuk mencarikan sekolah terbaik untuk anak-anak sampai akhirnya anak laki-laki saya meneriakkan protes tersebut.

Cerita itu telah berlalu bertahun-tahun lalu.
Kerisauan para orang tua mengenai sekolah mana yang terbaik masih saja terdengar.
Jauh-jauh hari para orang tua sibuk mencarikan tempat belajar tambahan agar anaknya dapat mengejar nilai tertinggi sebagai syarat masuk sekolah lanjutan yang favorit.
Apakah favorit itu sama artinya dengan terbaik?
Saya sendiri tidak dapat menjawab dengan pasti.

Ada yang mau berbagi?
Mengapa para orang tua rebutan memfavoritkan sebuah sekolah
kemudian berusaha
sekuat tenaga,
mengumpulkan biaya
untuk membiayai anak-anaknya sekolah
di sekolah favorit
dengan biaya selangit…

5 responses so far

Apr 14 2010

Spring, blooming…

Published by under Leisure

‘Spring’

Spring, spring is coming soon,
Grass is green and flowers bloom,
Birds returning from the south,
Bees are buzzing all about,
Leaves are buddign everywhere,
Spring, spring is finally here!

Ingat lagu anak-anak yang sering dinyanyikan anak saya waktu kecil ‘twinkle twikle little star’. Syair tersebutpun boleh dinyanyikan dengan nada twinkle twinkle little star ini.

Bulan April ini saya kembali mengunjungi kota kecil di kawasan Indiana, IN. Mendarat di Indianapolis, sebuah airport yang terakhir saya kunjungi pada November 3 tahun lalu. Kesan pertama: banyak sekali perubahan. Airport yang tidak hanya tampak lebih modern tetapi juga tertata rapi.Seperti biasa, mejeng di depan papan nama airport segera dilakukan. Wah saking seringnya melakukan ini saya sudah lupa apakah ini lucu, memalukan, atau menyenangkan. Yang penting Do it if you think you like it…kok bingung amat dengan apa yang dipikirkan orang lain, ya gak?

Indianapolis, Airport 2010

Indianapolis, Airport 2010

Setelah dijepret, Dave, rekan kerja dari IUPUI pun datang menjemput saya. Dave nampak sehat, dan tentu saja tetap dengan penuh keramahan khas British yang ada pada dirinya. Dari airport, kami langsung menuju Bloomington, sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil. Dave sengaja mengendarai mobil perlahan sambil mengajak saya menikmati keindahan sang spring.

Spring adalah sebuah musim yang membuat semua orang yang dapat menikmatinya menjadi cerah, gembira, dan tertawa. Spring ditandai dengan pepohonan dan rerumputan yang penuh bunga. Indah sekali. Hilang rasanya capek sepanjang perjalanan selama lebih kurang 23 jam di udara pada saat menikmati pepohonan berbunga ini.

Pemandangan yang unik sekaligus indah.

Pemandangan yang unik sekaligus indah.

Di Bloomington sudah ditunggu Susan, istri Dave yang sedang sibuk masak untuk makan siang. Penyambutan yang hangat di lingkungan yang penuh dengan bunga tentu saja akan memberikan iklim kerja produktif bagi saya dan juga teman-teman kerja yang terlibat dalam kerjasama ini. Tapi jet leg juga e ternyata setelah makan ngantukkk luar biasa.

3 responses so far

« Prev - Next »