Feb 05 2014

Mendampingi anak-anak di era digital

Published by under Courses,Cyber Psychology

Selalu menyenangkan dan selalu menumbuhkan semangat.. Begitulah rasanya hati saya setiap kali diundang untuk berbagi dengan bapak/ibu guru..

Sore kemaren, 5 Februari 2014 saya diminta bu Esti, rekan dosen Fakultas Psikologi unutk berbagi dengan bapa/ibu guru dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan yang amat biasanya dilakukan oleh insan yang mengemban amanah sebagai dosen. Memang agak berbada kali ini karena topiknya adalah toppik yang sebagian besar dihadapi oleh para guru dan orang tua.. seputar teknologi..

Apakah layak kita sebagai guru melarang anak membawa HP ke sekolah?

Bagaimana jika orang tua protes pada saat sekolah menetapkan larangan memabawa HP ke sekolah?

Seorang anak sudah beberapa kali dinyatakan tidak dapat memenuhi syarat minimum TPM, ketika kami mengundang dan membicarakan dengan orang tua maka orang tua menyatakan bahwa problem mereka di rumah adalah menghadapi kenyataan anak tidak bisa lepas dari HP??

Banyak sekali pertanyaan dan saya sudah menjawab dengan lisan pada saat seminar.. Tentu saja saya ingin menuliskannya di sini karena saya yakin di luar sana ratusan bahkan ribuan guru dan orang tua mengadapi permasalahan serupa..

Berikut Moral Education for Digital Generation.ppt seminar yang saya susun berbdasarkan berbagai sumber.. silahkan sharen dan pelajari sehingga suatu saat kita dapat diskusi dan sarasehan menganai hal ini…

 

 

 

4 responses so far

Jan 12 2014

Adaptasi bahasa dan budaya Big Five Inventory

Published by under Books & Journals

Penggunaan taksonomi kepribadian Big Five di dalam penelitian psikologi makin hari makin meningkat. Di Indonesia, riset yang menggunakan inventori kepribadian Big Five memrediksi perilaku konsumtif, minat kewirausahaan, kepuasan konsumen, hingga komitmen organisasi.  Ada yang menggunakan Big Five Inventory, ada juga yang menggunakan Five Factor Model. Jumlah itemnya pun berbeda-beda, ada yang 44 item, 50 item, 100 item, bahkan ada yang 300 item.

Riset ini bertujuan untuk mengadaptasi Big Five Inventory (BFI) ke dalam Bahasa Indonesia, yang disajikan dalam dua tahap. Pertama, proses penerjemahan BFI yang dikembangkan oleh Oliver John, terdiri dari 44 item. Penerjemahan dilakukan oleh dua orang Indonesia berlatar belakang ilmu psikologi yang pernah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari lima tahun. Hasil terjemahan ini didiskusikan untuk memperoleh kesamaan pemaknaan masing-masing item. Proses diskusi ini dimoderatori oleh seorang psikolog yang bergelar Ph.D lulusan Amerika Serikat. Hasil terjemahan yang disepakati ini, selanjutnya diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh seorang penerjemah professional yang tidak berlatar belakang ilmu psikologi. Hasil terjemahan ulang ke dalam bahasa Inggris ini dibandingkan dengan BFI asli. Diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan makna antara item-item BFI asli dengan terjemahan ulang BFI versi bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Selanjutnya, BFI versi bahasa Indonesia ini dibaca oleh tiga orang awam yang bertujuan untuk mengetahui apakah hasil terjemahan tersebut dapat dipahami. Setelah diyakini bahwa item-item tersebut dipahami sesuai dengan tujuan masing-masing item maka tahap pertama riset ini dianggap selesai. Kedua, BFI versi bahasa Indonesia disajikan kepada 790 orang responden dengan latar belakang usia, pendidikan, dan daerah asal yang beragam.

Hasil penelitian tahap satu disajikan dalam bentuk paparan proses penerjemahan. Hasil penelitian tahap dua berupa uji korelasi tiap item dengan skor total. Hasil tahap dua ini menunjukkan bahwa korelasi item dengan total untuk dimensi Extraversion bergerak antara 0,30 – 0,52, Agreeableness 0,32 – 0,60, Conscientiousness 0,30 – 0,60, Neuroticism 0,31 – 0,58, dan Openness 0,30 – 0,65. Reliabelitas kelima dimensi BFI bergerak antara 0,70 – 0,78.

Baikkah tingkat kesesuaian item-item yang saya terjemahkan tersebut dengan dimensi yang dikemukakan oleh Goldberg maupun dengan skala BFI yang disusun Oliver John? Untuk mendapatkan kejelasan mengenai hal ini saya menguji model pengukuran yang disusun Oliver John ini dengan menggunakan SEM. Silahkan dibaca artikel Big Five‘ yang dimuat di Jurnal Psikologi, 39(2), halaman 189-207 ini.

Kata kunci: Big Five Inventory, reliabelitas, adaptasi budaya, kepribadian

38 responses so far

Oct 26 2013

Mulut, kata-kata, dan harimau

Published by under Life Skills

‘Aji ne diri ono ing lathi’

Pepatah ini saya baca di perempatan ring road utara atau tepatnya di dekat apotik Kentungan sebelah selatan jalan.. Sudah lama saya membaca itu, dan sesungguhnya spanduk itu dibuat untuk iklan sebuah rumah mode, karena di bawahnya ada lanjutannya yaitu ‘aji ne saliro ono ing busono’. Apa makna kata-kata tersebut?

Sebagai seorang kelahiran dan hidup besar di Sumatera, saya tidak begitu pandai berbahasa Jawa. Namun dari hasil tanya-tanya sana dan sini saya mendapatkan jawaban bahwa ‘Aji ne diri ono ing lathi’ bermakna ‘keunggulan diri ada di lidah’ atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa harga diri seseorang sangat tergantung kepada kata-kata yang diucapakannya. Sedangkan, ‘aji ne raga ono ing busono’ bermakna ‘keunggulan penampilan fisik ada pada busana’ atau dalam kalimat yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa kecantikan atau ketampanan seseorang tergantung kepada pakaian yang dikenakannya.

Saya tidak begitu tertarik kepada kata-kata yang kedua karena sesungguhnya tulisan ini lebih kepada pengingat bagi saya khususnya dan teman-teman pembaca catatan ini bahwa semua kata-kata yang kita ucapkan sangat menentukan citra diri kita. Kata-kata ini tentu saja dapat berupa teks tertulis maupun ucapan lisan.

Saya ingat pepatah lain ‘mulutmu harimaumu’…

Sudah lama sekali pepatah ini saya peroleh dari para guru dannorang tua di dalam proses pendidikan yang saya terima. Pepatah itu seakan terlupakan sejenak. Di era teknologi ini dimana setiap orang dapat menyebarluaskan ucapan atau tulisannya melalui media sosial, website, blog, twitter, bahkan media lain yang dimiliki instansi yang biasa digunakan untuk berkomunikasi antar karyawan…pepatah tersebut tiba-tiba mendesak menyeruak muncul di kepala saya… Pepatah tersebut di atas menjadi amat penting untuk diingat lagi.

Media komunikasi IT dapat menjadi beranda bagi citra diri seseorang. Segala tulisan dan foto yang kita sajikan dapat menjadi potret dari diri seseorang… Berhati-hati di dalam mempublikasikan menjadi bijak apalagi pesan yang dituliskan mengandung pesan bermuatan negatif mengenai seseorang.. Kata-katamu adalah harimaumu yang mungkin siap menerkammu bahkan siapa saja yang membacanya…

 

No responses yet

Aug 06 2013

Bermain dan belajar bersama anak-anak di alam bebas

Published by under Life Skills

Tinggal di desa merupakan sebuah kemewahan bagi saya. Bayangkan saja, setiap hari saya bisa berpuas diri menghirup udara segar dan menikmati semilir angin… Kenikmatan yang akhir-akhir ini hanya sesekali dapat dijiwai pada saat memandu acara outdoor. Lucu memang..tinggal di desa tetapi berkarya di berbagai kota..

Gak lengkap rasanya jika selama ini saya banyak kali memandu aktivitas outdoor untuk institusi lain tapi tidak di desa sendiri. Desa Palgading, itulah namanya. Sebuah Desa yang kaya akan potensi alam maupun karya warga. Mumpung sedang libur, saya menyempatkan diri bersama teman-teman mengumpulkan anak-anak. Outdoor activities untuk anak. wah keren juga ya rasanya..

Dua puluh empat anak lengkar satu lusin perem[puan dan satu lusin laki-laki… bermain bersama sambil belajar tentang alam sekitar beserta property nya.. belajar saling peduli antar sesama teman.. belajar bekerjasama… belajar sabar.. dan tentu saja belajar berani..

2 responses so far

Aug 03 2013

Menjadi Guru Inspiratif

Published by under Books & Journals

Sebuah judul yang dirancang sedeikian rupa. Huruf Guru yang letaknya di tengah ditulis menjadi lebih besar. Bukan tanpa makna karena peran Guru berbeda dengan sekedar profesi guru. Peran Guru itu ada pada setiap orang, terutama yang sudah dewasa.

Guru-Guru yang telah sedikit-demi-sedikit memahat rasa peduli ke dalam diri. Kepedulian yang sangat kepada proses pembelajaran di sekolah, sebuah transfer yang seharusnya tidak hanya ilmu pengetahuan tetapi lebih daripada itu menggugah rasa sehingga berbuah karakter kepada setiap muridnya. Sebuah proses yang memang tidak mudah namun menjadi kewajiban bagi setiap orang dewasa. Tidak hanya bicara tetapi beraksi membimbing generasi menjadi seorang yang ingin membesarkan bangsanya. Mereka tidak terlalu banyak bicara dan kagum akan kebesaran bangsa lain tetapi lebih banyak bertindak membesarkan bangsanya sendiri.

No responses yet

Nov 10 2012

Religius and historical tour

Published by under My Personal Relation

The Blue Mosque

Incredible historical building

Istanbul: Yang selalu patut untuk dikenang

Kunjungan ke Istanbul sebetulnya bukan yang pertama kali. Ini yang ketiga kalinya saya ke Istanbul. Kunjungan pertama saya sempat bercerita di posting saya ‘Istanbul: aneka warna aneka gaya aneka budaya‘.  Sebuah kota yang tidak pernah puas untuk dinikmati. Allah SWT telah memberikan karuniahNya kepada umat manusia sebuah keindahan..

Pertama kali saya mengunjungi Istanbul pada Oktober 2008, dalam perjalanan menuju Sofia ibukota Bulgaria dalam rangka mengikuti konferensi East-European Conference on Psychology 30 Oktober – 3 November 2008.

Kunjungan ini sepertinya tidak dengan sengaja direncanakan karena hanya satu hari atau lebih tepatnya satu siang. Turkish Airline yang membawa saya ke Sofia transit di kota ini semenjak subuh hingga malam hari. Saya tidak menyia-nyiakan waktu dengan bergabung ke daily city tour..

Kurang puas dengan kunjungan siang hari ini, mendorong saya untuk mengubah rancangan perjalanan pulang saya dari Sofia. Selesai acara pokok menyajikan paper di East European Conference on Psychology, saya kembali ke Istanbul yang menjadikannya unjungan kedua. Kunjungan ini sepenuhnya hanya jalan-jalan sepuas-puasnya.

Kunjungan ketiga ini saya lakukan dengan sengaja dan betul-betul terencana, yaitu menghadiri International Conference on Education and Educational Psychology.. Saya menyajikan sebuah tulisan hasil kerja selama dua tahun dalam bidang pengembangan guru dengan Titian Foundation…

Pada kunjungan kali ini, saya sempatkan menelusuri lebih jauh kota sejarah Istanbul ini. Salah satu yang menakjubkan adalah’Yerebatan Sarayi” atau “Basilica_Cistern” yang menakjubkan.. Sebuah istana di bawah tanah yang dibangun kokoh…  gak bisa membayangkan generasi nenek moyang kita itu memang betul-betul pekerja muar biasa.. Bangunan ini didirikan pada abad ke-6 ini memang salah satu bukti sejarah yang wajib untuk dikenal oleh generasi penerus saat ini..

Cerita jalan-jalannya kayaknya perlu saya imbangi dengan berita bagus tentang kegiatan sesungguhnya dalam hal berbagi ilmu.. Yaaa kunjungan kali ini dalam rangka menghadiri International Conference on Education & Educational Psychology… Saya menyajikan hasil riset yang sudah dilakukan selama tiga tahun belakangan melalui kegiatan Bapak dan Ibu guru melalui kegiatan Teacher Quality Improvement…. Silahkan unduh unuk dibaca TQI Elsevier yang diterbitkan oleh Elsevier ini…,

One response so far

Jul 07 2012

Kepadatan itu bermakna kemajuan atau kemunduran?

Published by under Opinion

Genap tiga puluh tiga tahun, saya meninggalkan kota kelahiran Prabumulih. Ini (dulunya) adalah sebuah kota kecil di Sumatera Selatan. Jika anda yang membaca tulisan ini belum pernah melihatnya di peta, jangan berkecil hati. Itu bukan berarti nilai anda kecil di dalam pelajaran ilmu bumi tetapi semata-mata karena memang kota ini kecil tak tampak di peta yang menggunakan skala 1:1000…..

Di awal-awal perantauanku ke Yogyakarta ini, hampir setiap libur semester saya pulang menjenguk kedua orang tua yang hingga tahun 1997 berdomisili di sini. Duluuuu di tahun 1979 perjalanan antara bandara Talang Betutu (sekarang baca Sultan Mahmud Badarudin International Airport) Palembang yang berjarak sekitar 100 km itu memakan waktu 2 jam. Waktu tempuh itu semakin memendek semenjak Pemerintah Daerah dan mungkin juga didukung Pertamina yang kala itu dipimpin oleh Bapak Ibnu Sutowo membangun jalan yang super mulus. Alhasil di tahun 1986, ketika aku pulang membawa ijazah sarjana psikologi, hanya membutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan dengan mobil.

Awal Juli 2012, setelah 26 tahun saya mendapat kesempatan berkunjung ke kota Tanjung Enim. Kota dimana PTBukit Asam berada. Kesempatan ini tidak saya lewatkan dengan berbagai alasan, salah satu yang paling menarik adalah napak tilas mengunjungi kota kelahiran yang penuh kenangan ini. Saya yakin, setiap orang mempunyai kenangan indah di kota kelahirannya. Sambil membayangkan akan berjumpa teman-teman masa kecil di sana. Sebuah kolam ikan yang sering kali disulap menjadi kolam renang bagi kami di masa kecil selalu melitas di mata. Sebuah lubang di bawah besi pagar kolam renang, hasil karya tangan-tangan mungil selalu saja membuat saya tertawa sendiri. Ahhh indah sekali masa kecil itu, indah sekali kota kecil itu…

Rasanya ingin meminta Mas Imam, pengendara mobil yang menjemput kami untuk meningkatkan kecepatannya. Tidak sabar rasanya ingin melihat sebuah rumah peninggalan Ayahanda (alm) di pangkal kota itu. Tetapi mengapa lambat dan semakin lambat rasanya laju kendaraan ini? Mengapa jalan yang kami lalui semakin banyak berlubang? Saya melihat pemandangan asing bak kota Muntilan paska erupsi Gunung Merapi. Berderet truck besar merayap bahkan beberapa kali betul-betul berhenti.. Saya merasakan laju kendaraan tidak dapat meningkat karena kualitas jalan yang semakin berlubang.

Dulu, semasa kecil jalanan banyak juga berlubang yang mungkin disebabkan oleh kurang majunya teknologi transportasi di negara Indonesia ini. Sekarang nampaknya jalan itu berlubang sebagai pertanda penderitaannya menopang truck bermuatan super berat…

Saat ini, di amna teknologi transportasi sudah membaik, Jakarta macet karena pemerintah gagal membendung laju pertumbuhan kendaraan yang semakin tak berimbang dengan panjang jalan raya di ibu kota. Palembang-Prabumulih mengapa ikut macet? Jika Jakarta dipenuhi kendaraan pribadi para penduduknya, jalur Palembang-Prabumulih ini dipadati truck pengangkut sumber daya alam, ada kayu, kelapa sawit, dan yang paling memenuhi jalan adalah truck angkut batubara..

Seringkali ke ibu kota dan kota metropolitan di negara lain, memuatku makin maklum akan kemacetan. Itu pertanda padatnya penduduk dengan tata kota yang (mungkin) agak lambat meresponnya. Tapi mengapa hati saya kesal dengan kemacetan yang ada di sebuah kota yang daerahnya masih banyak lahan kosong? Lantas…macet ini pertanda apa?

2 responses so far

Oct 29 2011

Keterlibatan bukan Kepatuhan

Published by under Insight

Jum’at ini adalah hari terakhir pelatihan guru TQI batch 10. kali ini dua puluh tujuh guru Bahasa Indonesia SMP, masih seputaran DIY dan Klaten. Walaupun sepuluh hari Bapak dan Ibu guru ini mengikuti sesi demi sesi pelatihan yang selalu mulai pukul delapan pagi hingga sembilan malam (tentunya dengan selingan istirahat) tidak nampak wajah letih di wajah mereka. Semangat!!! kadang-kadang “luar Biasa”…atau “hebat”… itulah teriakan yel-yel yang selalu mereka kumandangkan..

“Bangga”, itulah kata yang selalu menyeruak di sekujur tubuhku setiap kali hadir di acara seperti ini. Yah… memang menyeruak adalah kata yang paling tepat untuk melukiskan perasaanku saat ini.. Rasa bangga itu menyebar ke seluruh tubuh dan seakan mendesak pori-pori walau rasa itu tetap iada di dalam tubuh. Andai saja ada alat pengukur ketebalan kulit, pastilah ada penambahan ketebalan terutama di bagian kulit wajahku…. Dulu aku sering menyatakan “merinding” untuk rasa yang mirip begini ini, ya memang mungkin sama tetapi kali ini aku lebih suka melukiskannya seperti ini. Setiap kali selalu ada saja keistimewaannya. Pada waktu memulai program ini sekitar tiga tahun lalu, aku pikir angkatan pertama adalah angkatan yang istimewa. Mereka hebat, adaptif, dan punya keinginan maju yang kuat. Ketika aku dan tim TQI menyelenggarakan angkatan kedua ternyata merekapun hebat, mereka mampu membuka diri dan punya rasa ingin tahu yang amat besar. Selanjutnya angkatan ketiga… keempat.. dan akhirnya di hadapanku saat ini terdapat dua puluh tujuh peserta angkatan sepuluh.. mereka lagi-lagi memberikan kejutan, cemerlang….bak berlian yang jarang digosok… baru digosok sepuluh hari sudah mulai berkilau cahayanya.

Bapak dan Ibu guru itu hebat..
Mengapa kualitas pendidikan masih saja di’teriaki’
Mengapa selama ini mereka seakan diabaikan..
Bapak dan Ibu guru kita ini luar biasa
Siapa bilang diabaikan?
Siapa yang mengabaikan siapa ?
Siapa?

Rasa ingin tahu seringkali mendesak lidah untuk bertanya. Apa sebetulnya yang dirasakan oleh mereka terutama selama berproses bersama dalam program Teacher Quality Improvement ini. Satu, dua, tiga, dan empat paling tidak dari sekitar dua puluh tujuh peserta itu yang mengangkat tangan diperkuat dengan menjulurkan jari telunjuk pertanda ingin diberi kesempatan berbicara.

“Saya sudah mengajar lebih dari dua puluh delapan tahun. Selama bertugas, saya (mungkin) baru satu atau mungkin dua kali saja mendapat kesempatan mengikuti pelatihan. Pelatihan yang diberikan Titian ini memang berbeda”, ini ungkapan ibu berkulit kuning langsat yang belakangan aku ingat namanya Bu Asih yang secara jujur menyampaikan isi hatinya. “Berbeda?”, penasaran aku dibuatnya …apanya yang berbeda? Seakan tidak mau terjebak dalam tebak-tebakan mengenai sesuatu yang berbeda ini, aku segera saja menawarkan kepada peserta lain dengan harapan ada yang akan menyampaikan sesuatu yang dapat setidaknya memenuhi rasa penasaranku ini.

“Saya sudah bekerja sebagai guru selama dua puluh tahun. saya sudah sering sekali diundang mengikuti berbagai pelatihan”, Bapak berkumis ini menyampaikan kalimat kalimatnya dengan perlahan seakan ingin memberikan kesan bahwa pendapatnya keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Belakangan aku tahu ternyata Bapak berkumis ini adalah seorang guru Mualimin, setara dengan sekolah menengah pertama. Dengan masih tetap mempertahankan suara lembut tapi tegas, iapun melanjutkan  “Tapi….selama ini saya hanya dididik D3 yaitu Datang, Duduk, dan Diam. Kali ini, di dalam pelatihan Titian ini saya menemukan hal yang luar biasa. Semua peserta terlibat di dalam semua proses sehingga yang muncul adalah “kesadaran”… Saya sadar bahwa masih banyak yang harus saya perbaiki di dalam proses pembelajaran”, Pak guru berkumis bernama Pak Priyono,  menimpali.

Hah… aku kembali mendapati kata ini..Keterlibatan… inilah nampaknya salah satu kata kunci yang penting di dalam proses pembelajaran. Dengan melibatkan peserta didik atau peserta training di dalam proses, sasaran pelatihan tidak hanya merambah ranah kognitif. Dengan terlibat, emosi peserta ikut menikmati semua proses yang mereka lakukan. Mereka merasa dihargai, mereka juga merasa bertanggungjawab secara pribadi terhadap semua keputusan yang diambil di dalam proses itu.. Ingatanku melayang ke kata-kata bijak seorang Confusius:

I see and I will remember
I hear and I will forget
I do I will understand..

Dalam pelatihan ini aku menambahkan
I involve and I wil realize …then I will be happier…

One response so far

Sep 23 2011

Telah lahir Komunitas Bloger di Psikologi UGM

Published by under Life Skills

Dua puluh tiga september dua ribu sebelas merupakan hari yang amat bersejarah. Pada hari ini telah lahir komunitas yang mempunyai komitmen untuk saling berbagi informasi kepada khalayak luas mengenai berbagai buah pikiran warga psikologi UGM. Cikal bakal komunitas ini terdiri dari sebelas warga fakultas peserta pelatihan pemanfaatan IT.

Dua hari kemudian, sekelompok rekan kembali berkumpul di ruang yang sama. sebagian melanjutkan belajar ngeblog sebagian lain sama sekali baru mulai mengenal blog. Tertarik juga untuk memahami, apakah blog itu?

Namun, sebelum saya berselancar mencari informasi mengenai blog ternyata rekan psikologiwan-wati ini dengan tangkasnya sudah menguasai tahap awal pembuatan blog. Coba deh klick belikut ini:

1. Blog nya mbak Yanti yang didedikasikan untuk perpustakaan di http://pergolairianti.blog.ugm.ac.id
2. Nah ini blog nya mbak Umi yang diramaikan dengan ungkapan rasa seorang sekretaris dekan hahayyy..
3. Bagaimana dengan mbak Veri? hay ini dia blog seorang sekretaris dekan yang lainnya, silah klick di And the story goes

9 responses so far

Sep 05 2011

Bila tiba waktunya

Published by under Life Skills

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan dengan judul sama yang saya posting ke facebook. Tulisan asli, saya tuangkan pada pertengahan Desember 2010. Bagi yang juga adalah pengguna ef-be silah klick di sini.

==================
Beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja saya membaca sebuah pesan terakhir yang dituliskan oleh pak M Sani Roychansyah kepada rekannya yang telah pergi meninggal dunia. Terperanjat dengan tulisan tersebut, sayapun mengikuti link yang ada sehingga akhirnya saya sampai ke profile Bapak Ir. Imam Djokomono seorang dosen Fakultas Teknik UGM, jurusan Teknik Arsitektur. Dari situ juga saya mengetahui bahwa Pak Imam meninggal dunia pada Bulan Desember, tanggal tiga 2010 lalu. Saya tidak tahu persis tanggal berapa beliau meninggal tetapi saya telusuri pada tanggal 2 Desember beliau masih memberikan jempolnya pada beberapa rekan yang menghaturkan ucapan semoga lekas sembuh…

Dalam kesendirian malam itu, kebetulan saya sedang di Vienna, saya sengaja sempatkan membaca semua ucapan berisi doa yang disampaikan handai tolan Bapak Iman Djokomono ini. “Beliau orang baik, punya banyak teman baik dari kalangan dosen, tetangga, mahasiswa dlsb”, itu kesan yang melintas di benak saya. Selamat jalan semoga mendapat tempat yang sebaik-baiknya pak…

Lelah membaca puluhan bahkan ratusan pesan berkaitan dengan kepergian pak Iman Djokomono ini, saya akhirnya merenung.. merenung.. manusia mati meninggalkan nama.. Saya tidak kenal dengan Pak Imam, begitu ia dipanggil oleh kerabatnya. Deretan pesan yang tercantum di face book beliau seakan menjadi kepingan puzzle yang dalam waktu beberapa detik telah kurangkai membentuk kesanku terhadap diri pak Imam. Ia seorang yang bersahaja, suka ngobrol ringan, punya sense of humor, dan pekerja seni yang amat memperhatikan orang lain namun agak kurang memperhatikan dirinya.

===========================

Hari ini, kembali hati saya merasakan hal yang hampir sama. Seorang guru Prof. Djamaludin Ancok menuliskan pesan pamitan karena beliau memasuki usia pensiun sebagai dosen PNS di Fakultas Psikologi UGM. Beliau menuliskannya di media Paperless Office PLO-Psikologi. Beliau menceritakan pengalaman semnjak awal menjadi dosen pada tahun 1974, kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Amerika, memperoleh kesempatan menduduki jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar di Fakultas Psikologi UGM yang amat bergengsi ini. Selain itu, beliau pun menuliskan bahwa ada beberapa rekan yang telah “pergi” mendahului beliau, mulai dari yang senior yaitu (alm) Prof. Siti Rahayu Haditono hingga yang masih muda sekali yaitu sahabat saya (alm) Mustagfirin. Kesan-kesanpun berlanjut dari beliau terhadap lingkungan dan iklim kekeluargaan di Fakultas.

Sebagaimana layaknya komunikasi sosial di PLO-Psikologi ini, kamipun para Junior yang masih antre menanti masa pensiun ataupun “dipensiun” mengirimkan komentar berisi kesan dan pesan. Banyak sekali yang kami pelajari dari beliau Prof. Djamaludin Ancok sebagai guru, kolega, maupun orang yang di ‘tua’ kan. Bapak beruntung dapat mencapai usia pensiun dengan sepenuhnya mendarma baktikan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang Psikologi Sosial, Psikologi Organisasi, Kepemimpinan, dan Manajemen. Andai dapat dihitung berapa anak bangsa kah yang telah kau didik sehingga mereka dan kami semua akan mampu menjadi penerus dalam memelihara keberlangsungan bumi demi masa depan umat manusia??..

Dan saat ini kembali hati saya terusik
andai tiba waktu saya nanti …
saya menyusul pak Imam ke alam sana…
atau…
saya memasuki usia pensiun
sebagaimana yang saat ini dilampaui Bapak Prof. Djamaludin Ancok
kesan-kesan seperti apakah yang akan dituliskan oleh kerabat dan handai tolan mengenai saya?

Well, mungkin agak sulit menebak kesan orang terhadap saya, tapi tentu saja seharusnya saya dapat menjawab pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati… kesan seperti apakah yang sungguh saya harapkan dari orang-orang yang mengenal saya ???

No responses yet

« Prev - Next »