Apr 04 2009

Menghindari tugas akhir yang “minimalis’

Published by at 11:30 pm under Life Skills

Menulis, khususnya menulis disertasi adalah pekerjaan yang “melelahkan”. Kenapa saya meletakkan tanda petik diawal dan akhir dari kata melelahkan?

Coba deh cermati fakta-fakta berikut ini:

Kalau kuliah bosen, kita bisa mbolos kemudian datang lagi pada pertemuan berikutnya, karena sudah dapat dipastikan bahwa perkuliahan akan berakhir setelah 14 kali pertemuan. Kalau kuliah kebanyakan bolos, ada aturan yang jelas yaitu tidak boleh ikut ujian atau kalaunpun diperbolehkan yaaa nilainya gak diberikan. Jelas khan?

Kalau menulis disertasi? Sampai saat ini saya belum pernah menemukan adanya aturan, misalnya kalau mahasiswa gak nulis sehari akan dihukum dengan penambahan jumlah kata yang harus ditulis. Atau, kalau mahasiswa menunda perjumpaan konsultasi dengan promotor akan dihukum oleh promotornya dengan manmbah tugas membaca atau menulis jurnal ilmiah dan sejenisnya..

Penulis disertasi harus sangat mandiri dan menerapkan kiat-kiat untuk tetap mencintai tugas menulisnya, adalah sebagai berikut:

1.Secara mantap menyusun perencanaan mulai dari topik hingga ke cara bagaimana membuat topik tersebut jadi utuh tergarap. Saya ingat teknik mindmap yang dapat memandu kita dalam mengkonstruk ide. Nah andainya pada saat memulai sekolah S3 ini anda sudah punya topik, maka sebaiknya semua tugas per mata kuliah yang anda ikuti jangan sampai menyimpang dari topik besar riset ini. Intinya buat riset payung secara berkesinambungan. Riset kecil-kecil yang bernaung di bawah payung tersebut akan menjadi rangkaian studi pendahuluan yang semakin memperkuat pemahaman mengenai topik besar kita.

2. Menumbuhkan motivasi untuk menyelesaikan riset, termasuk di dalamnya motivasi untuk membaca, merenungkan hasil bacaan, dan mendiskusikan berbagai hal yang butuh didiskusikan untuk menemukan state of the art dari riset yang sedang dilakukan. Persis dengan mencintai seseorang atau mencintai perusahaan kan??  Motivasi tersebut dapat terpelihara apabila kita mempunyai stake holders yang mendukung. Oleh karena itu coba simak point nomor 3 berikut.

3. Memelihara hubungan dengan berbagai stake holders agar mereka tetap bersedia menjadi partner atau supporter dari riset dan penulisan yang sedang berjalan. Oleh karena itu waktu memulai niat melanjutkan sekolah, stake holders sudah harus dipilih terlebih dahulu. Siapa yang bersedia sebagai mempelai yang terus menerus memotivasi? Siapa yang akan mendapat manfaat dari topik riset tersebut sehingga mereka siap menunggu dengan harap-harap cemas hasil riset kita. Semakin banyak calon yang akan memanfaatkan hasil riset ini sebetulnya sama dengan meningkatnya ‘buy in’ produk yang dihasilkan. Ingat lho, kata supervisor saya, jangan membayangkan anda mampu bekerja sendirian dalam menulis disertasi. Jadikan disertasi ini karya banyak orang… artinya carilah feedback sebanyak-banyaknya… artinya lagi: jangan menunggu sampai karya ini sempurna karena yang namanya lulus doktor itu adalah awal dari sebuah perjuangan akademik yang harus dijalani..

4. Senantiasa mencintai pekerjaan meneliti dan menulis, dan tentu saja memupuk cinta terhadap topik yang sedang diteliti. Seringkali kebosanan bahkan keyakinan bahwa topik yang saya pilih adalah topik yang memang tepat dan perlu untuk dipelajari melanda penulis. Nah.. jangan sampai ini terjadi. Beberapa cara perlu dilakukan, misalnya memperbarui bacaan baik dengan cara membaca maupun berdiskusi. Kalau sampai kecintaan terhadap topik ini meluntur, maka yang akan terjadi adalah perlakuan yang ‘seenaknya’. Hasilnya? Idealisme yang ada pada saat memulai menulis proposal akan luntur sehingga yang dihasilkan adalah sebuah produk yang¬† “minimalis”.

**berdasarkan pengalaman pribadi yang saat ini sedang kualami

2 responses so far

2 Responses to “Menghindari tugas akhir yang “minimalis’”

  1. tugas akhiron 22 Apr 2009 at 4:25 am

    Memang tidak semua orang dilahirkan untuk suka menulis, tapi dengan adanya tugas akhir, mau tidak mau mereka harus mencoba menulis.

  2. reraon 13 Apr 2010 at 6:37 am

    menulisakan lebih mudah jika dilakukan dalam keadaan konsentrasi, saya juga kurang suka menulisakan tetapi setiapkata yang mengalir diotak saya saya biarkan tertuang begitu saja, hasilnya adalah tulisan ini salah satunya..terimakasih..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply