Jan 01 2019

Pertama dari 30 hari bercerita: Inggris

Published by at 10:52 am under Blogroll

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan untuk memenuhi resolusi awal tahun ‘30 hari bercerita‘. Tulisan tahap awal merupakan tulisan singkat semoga sambil jalan nanti ada proses edit dan melengkapi ceritanya, siapa tahu bisa jadi buku cerita ‘Perjalanan yang tak pernah sia-sia’.

========

Inggris,

iya betul sekali, memang negara ini adalah negara pertama yang kukunjungi di luar tanah kelahiran Indonesia. Tepatnya 27 April 1998 akhirnya dengan membawa dua orang anak, Deva dan Nevi, aku meninggalkan tanah tumpah darah. Niat awal adalah mengunjungi suami (Alva Edy Tontowi) yang saat itu sedang melanjutkan pendidikannya di University of Leeds, UK.

Leeds, kota yang tidak begitu besar dan nyaman sekali untuk ditinggali keluarga kecil. Biaya hidup yang realistis membuatku makin betah saja tinggal di kota ini. Kebetulan situasi perekonomian dan politik negara RI saat itu kurang begitu baik, hidup di Leeds seakan menjadi pelarian bagiku. Tiap hari berita Televisi tentang Indonesia membuatku berpikir untuk memperpanjang tinggal di Leeds. Dua tantangan yang paling nyata, biaya dan kegiatan.

Biaya hidup nampaknya tidak terlalu sulit diatasi mengingat Leeds menawarkan cukup banyak pekerjaan paruh waktu bagi pasangan (pemegang paspor joint-spouse) asalakan mau melakukan pekerjaan yang mungkin berbeda dengan kompetensi utama. Artinya pekerjaan paruh waktu dapat kujalani dengan berbagai jenis dan institusi, mulai dari bebersih kantor (Cleaner) asisten dapur (kitchen assistent) hingga asisten perpustakaan (Library Assistant). Ada nama Halifax (sebuah Bank); University of Leeds; dan Leeds Metropolitan University).

Bagaimana dengan kegiatan yang relevan dengan profesi? Mendaftarkan sekolah di PT tidak dapat dilakukan hanya bermodalkan biaya. Skor IELTS menjadi pasword yang harus dimiliki setiap pelamar. Apa daya pada saat berangkat ke Inggris saya sama sekali gak pegang sertifikat berbahasa ini. Bukan pejuang namanya jika menyerah hanya karena tidak punya skor IELTS. Gaji pertama bekerja langsung saya gunakan untuk membayar biaya tes. Belajar dari Casette hasil pinjaman dari Diah istrinya Yulianto yang juga sedang hunting cari sekolah. Bismillah, tess dan Alhamdulillah skor 6,5 berhasil diperoleh.

Mendaftar sekolah S3 tidak mudah karena UoL menuntut jaminan beasiswa selama minimal 3 tahun. Sementara itu British Commonwealth menawarkan beasiswa satu tahun hanya boleh digunakan untuk sekolah Master.. Yaa daripada daripada maka saya pilih yang lebih baik, yaitu menyabet beasiswa yang tersedia hanya untuk satu tahun mendaftar program master dalam bidang IT, Multimedia, and Education yang ada di Computer Based Learning Unit, UoL.

Teman-teman di Program Master IT, Multimedia, & Education

Teman kuliah di IT, Multimedia, & Education

Wajah ceria dari kiri, Shia Lan Yang (Lisa-Taiwan), saya, Mariam Al Wisahih (Mariam-Oman), yang baju merah lupa namanya dari Singapore, paling kanan Patricia (Pat-Antigua), yang duduk juga lupa..

Sangat panjang sebetulnya cerita saya di Inggris ini karena memang cukup lama tinggal di sana, terutama dengan tantangan sekolah sambil juga nemani anak yang harus sekolah juga, tapi nanti deh disambung dalam proses editing..

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply