Dec 17 2016

Ketika Internet singgah di Rumah kita

Published by at 3:35 am under Cyber Psychology

img_1378_kecil

Sebuah judul yang bagus dan mengandung ajakan introspeksi, itu kesan saya ketika Marty Mawarpuri menyampaikan topik acara yang (akan) diselelnggarakan di Banda Aceh. Mengapa saya kategorikan kepada judul yang bagus dan mengapa pula saya katakan mengandung ajakan introspektif? Ada apa sebetulnya dengan Internet? Mengapa kesinggahan Internet di rumah menjadi bahasan menarik yang hingga tak kurang dari 300 orang tua dan remaja yang dikawal oleh Lely Safrina, Usfur Rieda, dan tentu saja Ikatan Psikologi Klinis dibawah komando ketuanya yang pandai bermusik itu berkumpul di sebuah Auditorium kantor di Gubernur-an Banda Aceh ini? Baca beritanya di Tribun News

Internet adalah sebuah karya teknologi yang telah berhasil melahirkan peradaban baru. Internet, yang memfasilitasi penggunanya berselancar, berkomunikasi, melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti belanja, konsultasi kokter, konsultasi pendidikan, konsultasi permasalahan psikologi, bekerja dlsb…. Jika pada awalnya Internet diciptakan untuk memfasilitasi semua aktivitas dengan maksud agar para pengguna dimudahkan pada saat ini, tak dinyana oleh para babby boomers yang sebagian besar tak siap dengan perubahan, terkaget-kaget dengan perubahan tatanan kehidupan pada generasi digital.

Para babby boomers telah menyulap tanah lapang tempat yang di kala mereka muda berlari, bersepak bola, bermain kasti telah disulap menjadi apartment dan pusat perbelanjaan. Tidak menjadi masalah bagi generasi digital karena mereka dapat memainkan itu semua melalui permainan di monitor mereka. Lalu lintas yang sepanjang hari macet karena meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan perpanjangan ruas jalan, karena juga semakin tingginya daya beli para babby boomers sehingga mendorong mereka belanja mobil lebih dari satu, juga tidak menjadi maslah bagi generasi digital karena toh mereka dapat baca buku di e-library dan ebook, belanja melalui e-buy dan e-lainnya, ngobrol melalui social media dan lain-lainnya..

img_1376-kecil

Soo apa yang membuat resah?

Penggunaan yang bermanfaat sesuai dengan kebutuhan dari suatu perangkat teknologi tentu saja merupakan sebuah keharusan. Masalah mencuat ketika penggunaan itu menjadi berlebihan sehingga pengguna Internet bermain game dengan cara memangkas waktu yang seharusnya ia gunakan untuk keperluan hidup lainnya. Masalah semakin genting ketika pula pengguna Internet yang tak cukup dukungan finasial rela memangkas waktu negosiasinya dengan cara memaksa orang lain mengikuti kehendaknya, bahkan memaksa dan merebut hak orang lain demi rupiah untuk belanja perangkat atau bandwidth. Masalah menjadi darurat manakala Internet ini digunakan untuk memecah belah bangsa yang bersaudara. Media sosial telah dijadikan sarana penyebar gosip yang membuat resah pembacanya..

Lantas, apakah Internet itu buruk?

Kembali lagi ke pemahaman semula. Internet itu netral. Internet itu sebetulnya tak ubahnya seperti perangkat teknologi lain yang diciptakan untuk memudahkan manusia dalam meningkatkan efektivitas hidupnya. Internet menjadi malapetaka ketika tangan-tangan penggunanya tak mampu menyelaraskan antara emosi yang ditimbulkan dari lingkungan yang tercipta berbasis Internet ini, dengan logika berpikir tentang berbagai pesan yang tersirat dari beratus bahkan beribu dan berjuta pesan yang tersurat.

Apa dasarnya??

 

++bersambung di kala senggang yang berikutnya++

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply