Jan 24 2016

Literasi Digital itu semakin penting

Published by at 9:49 am under Cyber Psychology

Tulisan kedua dari Literasi Digital.

Entah yang keberapa kalinya saya menerima pesan yang menimbulkan pertanyaan:

Tanaman keladi beracun
Lowongan kerja BUMN
apalagi….
sharing teman tentang kejadian tengah malam tatkala sedang terlelap dibangunkan oleh seorang penelepon yang merengek ‘ma, dede dirampok ma..’ atau kejengkeladan sekaligus kesedihan seorang rekan yang tanpa disadarinya telah tertipu puluhan juta rupiah karena dengan ‘sekarela’ menguras uang di ATM

Kisah lain disampaikan seorang rekan dosen yang mendapati tugas paper yang kembar antara satu mahasiswa dengan yang lainnya. Belum lagi, ketika sedang menjalankan tugas menguji sebuah tesis menyadari adanya gaya penulisan yang ‘rasa-rasanya’ pernah kenal.

Semakin canggih media komunikasi berbasis internet yang digunakan itu semakin canggih pula pengacau yang mengecoh ketenangan hidup pengguna media, konsekuensinya urgensi akan Literasi Digital sudah tidak dapat ditunda lagi.

Literasi berasal dari kata berbahasa Inggris literate, yaitu mampu menulis atau membaca. Arti lain dari literate yang dicantumkan di kamus Cambridge online adalah memiliki pengetahuan tentang subjek tertentu. Lantas, jika judul tulisan ini literasi digital artinya kemampuan pengguna media digital, meliputi berbagai hal sedemikian rupa sehingga penggunanya dapat memperoleh manfaat dan terhindar dari berbagai kerugian.

Tulisan berikut sebetulnya saya niatkan kirim ke surat kabar sehari setelah rame-rame terbit Surat Edaran Kapolri no SR/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian yang dipublikasikan media beberapa waktu lalu. Tapi apa daya setelah rampung nulis belum sempat kirim listrik mati sampe tengah malam sampai akhirnya matapun terpejam. Pada saat listrik nyala lagi, hari sudah pagi dan apa daya sekali lagi mood menulis itu seakan pergi entah kemana.

Tak kurang dari limabelas tahun semenjak memasuki era reformasi yang datangnya bertepatan dengan meningkatnya laju pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat Indonesia seakan mendapatkan kebebasannya, ‘sudah lebih bebas bicara, dapat media pula’. Eforia kebebasan berpendapat ini menjadikan sebagian masyarakat ‘bak lepas bebas dari kandangnya’. Masyarakat menyampaikan pemikirannya tentang seorang warga Negara bahkan pengelola Negara sudah tidak hanya melalui tulisan yang harus di reviu oleh tim Dewan Redaksi, tetapi mereka dapat menyuarakannya sendiri melalui teks tertulis maupun lisan. Media sosial seperti Facebook, Path, Tweeter, Youtube, demikian pula media televisi memberikan peluang bagi masyarakat mengambil hak menyuarakan pendapatnya.

Di era sebelumnya, tak hanya warga bahkan mediapun akan berpikir panjang untuk mempublikasikan pendapat perorangan atau kelompok yang mengandung kritik terhadap perorangan ataupun kelompok apalagi pejabat pemerintah. Semua hati-hati, mungkin juga menjaga perasaan pembacanya, sehingga cenderung menjadi terlalu ditutup-tutupi. Kini, media televisipun tak segan bahkan dengan sengaja menyediakan ruang yang dapat menampung pendapat berisi keluhan, kritikan, juga usulan warga negaranya. Semakin pedas dan terbuka semakin mengundang penonton dan pembaca, hasilnya tentunya rating siaran meningkat dan keuntungan ekonomi di depan mata.

Keterbukaan ini sesungguhnya merupakan iklim kondusif bagi pendewasaan masyarakat dalam berbagai hal. Dalam hal politik, masyarakat menjadi semakin paham tentang kewajiban sebagai warga Negara, mereka pun mendapatkan pengetahuan tentang sistem pemerintahan, dan perpolitikan. Dalam kehidupan bisnis, masyarakat menjadi lebih akrab dengan perekonomian global, konversi nilai mata uang, peta anggaran belanja, bahkan prediksi perekonomian makro pun dapat pula diakses dengan lebih mudah. Dalam hal pendidikan sudah tidak dapat dibantah lagi beribu bahkan jutaan sumber ilmu pengetahuan tersedia dalam berbagai bentuk. Dalam kehidupan sosial, tak terhitung berapa talian baru tersambung bahkan yang selama ini putus dapat tersambung kembali. Teori ‘the sixth degree of separation’ yang mulanya fiksi karya Frigyes Karinthy nampaknya kian mewujud dalam kehidupan nyata. Setiap orang dengan orang lain dapat terhubung oleh maksimum lima penghubung saja.

Apa dampaknya? ‘Dunia semakin kecil’ artinya setiap orang dapat mengetahui segala sesuatu yang terjadi di belahan benua lain hanya dengan ‘klik’. Teknologi sudah memberi peluang bagi keterbukaan dalam berbagai hal. Temuan ilmiah sudah semakin sulit disembunyikan. Strategi pemerintahan pun semakin terbuka dibahas oleh berbagai pihak. Apakah setiap orang dapat melakukan apa saja yang ia ingin lakukan? Apakah setiap pemilik akun media sosial perlu menuliskan setiap ide yang terintas di dalam pikirannya, termasuk serapah dan rundungan? Tentu saja visi dari pencipta teknologi ini adalah hadir dan berperan dalam setiap problem manusia. Akan halnya efek samping berupa perseteruan bahkan lahirnya problem yang lebih berat sebagian besar dihasilkan oleh keterbatasan kemampuan para penggunanya.

Pemerintah dengan KUHP dan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), diperkuat oleh SE Kapolri SR/6/X/2015 merupakan pengingat bagi warga pengguna dan pekerja media. Namun aturan saja tidak cukup sehingga dari pihak pengguna sendiri dibutuhkan kesadaran untuk meningkatkan literasi digital atau literasi Internet.

Literasi digital pertama kali disebutkan oleh Paul Gilster dalam bukunya berjudul Digital Literacy pada tahun 1997, kemudian divalidasi dengan riset yang dilakukan penulis bersama tim di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, yang beranggotakan Wisnu Wiradhani dan Dita Rahmayani. Literasi digital adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh para pengguna perangkat berbasis teknologi digital atau komputer, baik untuk memahami maupun memanfaatkan informasi dalam berbagai format. Secara garis besar, literasi digital ini dapat digolongkan ke dalam empat level tergantung kepada aktivitas yang dilakukukan oleh para penggunanya.

Pertama, kemampuan instrumental yaitu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pengguna Internet yaitu keterampilan mengoperasikan komputer maupun perangkat lunak yang terinstal di dalamnya. Di dalam keterampilan ini juga termasuk memahami jargon yang digunakan oleh setiap piranti sehingga pengguna dapat secara optimal memanfaatkan piranti yang dimilikinya. Tak jarang kita menyaksikan seorang memiliki gadget canggih namun tidak memahami bagaimana memanfaatkan fitur yang ada di dalam piranti tersebut. Dalam hal memanfaatkan instrument internet, keterampilan ini juga mencakup cara melakukan navigasi berselancar di dunia maya.

Kedua, kemampuan dalam mengevaluasi informasi, yang diawali dengan menginterpretasi data baik teks, gambar, suara, maupun perpaduannya. Semakin tinggi tingkat kemampuan dalam menginterpretasi ragam informasi ini maka akan semakin banyak manfaat yang diperoleh. Di samping itu, dengan kemampuan evaluasi ini pengguna Internet akan berpikir kritis, memilah informasi mana yang sahih sehingga dapat dipercaya. Kemampuan mengevaluasi informasi ini sangat penting mengingat saat ini beragam informasi terpapar bebas, apakah pengguna Internet itu merupakan target atau audiens yang layak mengakses informasi itu. Dengan kemampuan mengevaluasi ini, informasi yang tidak tepat sasaran dapat secara cerdas ditolak oleh para pengguna.

Ketiga, kemampuan menghasilkan informasi, yang termasuk di dalamnya pembuat dan penyebar informasi perlu memiliki kemampuan dalam mengumpulkan, mengolah, dan membangun informasi menjadi sebuah produk yang berkualitas dan etis. Produk informasi yang dihasilkan diarahkan kepada produk yang bermanfaat sehingga ia tidak menjadi produsen ‘sampah elektronik’ yang semakin memenuhi dunia maya. Dalam hal menyebarluaskan informasi yang ia kembangkan perlu juga memilih media yang dapat dipercaya. Demikian pula sebaliknya, sebagai audiens yang memanfaatkan informasi, pada level ini diperlukan kemampuan dalam mengevaluasi media mana saja atau informasi mana saja yang layak dipercaya.

Keempat atau yang terakhir penanda seorang yang memenuhi kriteria literasi digital adalah memahami tanggung jawab sosial atas informasi yang diakses dan dimanfaatkan, dan dihasilkan. Pada level ini, kemampuan pengguna Internet untuk dapat peka akan karya cipta orang lain, pengetahuan tentang bagaimana menghindari plagiarism ataupun self plagiarism sudah semakin memprihatinkan. Semakin nyata lagi betapa masih terbatasnya taraf literasi digital bangsa kita pada saat berpuluh bahkan mungkin beratus laporan penipuan, salah paham akibat berita ‘hoax’, bahkan informasi-informasi penyedap aktivitas para perundung di dunia maya. Informasi yang belum jelas kebenarannya seakan menjadi suguhan tidak hanya setiap hari bahkan setiap menit.

Apakah pengguna media di Indonesia sudah memenuhi kriteria sebagai warga yang memenuhi kriteria literasi Internet? Apakah lulus dan mendapat nilai bagus dalam pelajaran TIK bagi anak-anak kita, yang sesungguhnya baru mencakup kriteria pertama saja sudah cukup? Inilah sesungguhnya pekerjaan rumah kita semua, warga Negara salah satu yang masuk ke dalam kategori konsumen gadget terbesar di dunia.

Yogyakarta, 10 November 2015.

Neila Ramdhani.

 

 

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply