Aug 28 2014

Menggosok semen menjadi emas

Published by at 12:27 pm under Books & Journals

Catatan kecil dari Seminar ‘Aku Bangga menjadi Guru’
Yogyakarta -26 Agustus 2014.
=============================

Kumpulan kisah inspiratif karya guru

Kumpulan kisah inspiratif karya guru

Kisah Romeo dan Juliet seakan abadi di segala generasi. Dibalut oleh luapan emosi cinta, keduanya tak akan terpisah. Sedemikian dahsyatnya efek dari emosi positif yang membuat manusia rela berkorban.

Cinta adalah salah satu wujud dari emosi positif. Ada sayang, senang, gembira, bangga, dan lainnya yang membuat manusia dapat menikmati indahnya dunia. Emosi positif juga yang membuat seorang ibu lupa akan sakit ketika melahirkan bayinya. Iwan Fals, penyanyi sohor pun melantunkan penggalan lagu pada saat seorang jatuh cinta sebagai “tai kucing serasa coklat”.

Membaca pengalaman guru-guru yang dituliskan di buku ‘Aku Bangga menjadi Guru’ mengingatkan saya kepada materi kuliah emosi, ada emosi yang positif misalnya cinta, sayang, gembira, dan bangga. Ada juga emosi yang negatif misalnya marah, jengkel, sedih, geram, bahkan benci. Emosi memberi warna bagi kehidupan, karena suasana emosi seseorang dapat mempengaruhi respon orang lain yang berinteraksi dengannya.

Coba saja, berapa banyak guru menuliskan bahwa siswanya yang nakal walaupun secara keilmuan mereka belajar dan paham betl bahwa seringkali kenakalan itu adalah salah satu ciri dari kretaivitas anak.. Kemudian berapa guru pula yang mengatakan muridnya ‘caper’ atau ‘carmuk’ sevbagai singkatan dari cari perhatian dan cari muka… Belum lagi seorang ibu guru selalu dibuat setengah kehabisan nafas menahan jengkel karena muridnya yang iseng atau usil.. yang lebih banyak membuat para guru jengkel, marah, bahkan geram yang seringkali mengganggu suasana hati guru ketika menjalankan tugas sebagai pendidik.

Menghadapi ke-nakal-an, ke-kurang perhatian, ke-iseng-an, bahkan ke-tidak tahu-an anak dengan emosi marah, jengkel, bahkan geram niscaya menuai respon yang membuat guru bertambah marah, bertambah jengkel, bertambah geram. Coba saja simak ungkapan seorang guru “… Mengapa kamu tidak mengerjakan PR?” tanyaku dengan sedikit membentak. Dia hanya terdiam. Wajahnya tegang. Teman-temannya hanya terdiam. Suasana pun jadi tegang. Hening. Ditambah hujan mulai mengguyur di pagi ini. “Maju!” kataku mulai emosi. Dia berjalan pelan. “Kamu, Ibu hukum! Tidak mungkin lari di lapangan karena hujan. Kamu cukup berjalan jongkok mengelilingi kelas ini!”

Membaca kisah ini serasa berdegup lebih keras jantung saya. Betapa tidak, ketika guru memulai dengan “sedikit membentak” hingga hukuman fisik dibebankan kepada anak “berjalan jongkok mengelilingi kelas”’. Seketika, seisi kelas pun ikut terhenyak, terdiam, tegang. Suasana kelas berubah dan dipenuhi oleh emosi negatif. Dapat dibayangkan, apakah yang akan terjadi seharian itu? Dapatkan proses pembelajaran berjalan baik?? Nyaris tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru marah, murid tegang. Siapa yang dapat belajar dalam kondisi seperti ini.

Sangat berbeda dengan suasana kelas yang dipenuhi emosi positif. Mendidik anak-anak yang “dikirimkan” untuk bersekolah dengan cinta memberikan pengalaman positif bagi guru, seperti salah satu kisah ini: “….….Kuhapus perasaan sedihnya dengan rasa sayangku seperti kepada anakku sendiri. Kubiarkan ia menangis dipelukanku seperti menangis kepada ibunya sendiri. Akhirnya ia pun mau masuk ke dalam kelas. Dan sejak itu ia mulai bersikap sopan kepadaku saat di kelas.

Terjadi perubahan perilaku pada seorang anak yang diperlakukan dengan kasih-sayang. Pada awalnya ia takut untuk masuk kelas karena terlambat akhirnya iapun mau masuk kelas. Bahkan, jika sebelumnya ia anak yang bandel telah menjelma menjadi anak yang sopan. Respon positif ini tidak hanya bermanfaat bagi anak, pun bagi guru, seakan mendapat hadiah guru senang untuk meningkatkan upayanya pada saat melihat hasil yang baik.

Coba pula simak kisah berikut ini: “Saya pun mencari cara untuk membuat Rafi bisa tersenyum sambil tentu saja mengajak semua murid kelas VB untuk aktif belajar dalam arti yang sesungguhnya, yakni benar-benar belajar. Berbagai permainan saya lakukan untuk mengajak mereka bisa bekerjasama, baik itu dengan berpasangan maupun berkelompok. Di luar jam pelajaran, saya masih berupaya untuk mengajak Rafi mengobrol agar dia merasa tidak sendirian lagi.”

Ini curahan hati seorang guru yang pada akhirnya berubah hati dan pikirannya setelah mengetahui latar belakang kemurungan ekspresi wajah muridnya yang bernama Rafi. Walaupun kesadaran itu datangnya di belakang, namun tak ada kata terlambat untuk sebuah proses perubahan ke arah yang lebih baik. “……….. saya menyadari, sebagai guru saya memiliki anak didik yang bermacam-macam baik karakter, sifat maupun latar belakangnya.” Begitulah ungkap ibu guru setelah mengikuti program TQI di Titian Foundation.

Memang seorang guru datang ke kelas untuk mengajar sehingga “Bagaimana mungkin anak hanya bermain-main di kelas?” Begitulah yang dipikirkan guru. Guru seringkali lupa bahwa anak akan sangat sulit untuk memahami gurunya karena mereka belum pernah menjadi guru. “Kepedulian guru sangat berpengaruh terhadap semangat belajar anak. Kadang guru seakan menuntut anak untuk memahami mereka.

Memabaca kisah-kisah dan ungkapan guru ini, tak terbayang ada berapa Rafi yang semula adalah seorang anak yang murung dan hanya duduk di pojok kelas  akhirnya dapat tersenyum lebar membersitkan kebahagiaan dan dimatanya mulai terlihat cahaya berkilau ke’emas’an. Ya… mungkin benar apa yang dikatakan rekan penulis St. Kartono bahwa mereka ini pada awalnya ibarat ‘seonggok semen’ yang tak dilirik siapapun. Mereka dikirimkan ke sekolah untuh di gosok agar dapat bersinar..

Terima kasih guru-ku yang telah berbagi pengalaman di sini. (Tak layak rasanya menghitung berapa waktu dan tenaga yang telah saya hibahkan untuk program TQI ini bila dibandingkan dengan rasa bangga kepada bapak dan ibu guru yang sudah mendidik anak-anak muda pemelihara bumi di masa depan, “emas” itu ada di setiap mereka. Kita, para guru, diperlukan di sini untuk menggosok mereka menjadi emas berkilauan..+++

2 responses so far

2 Responses to “Menggosok semen menjadi emas”

  1. Windu Saputraon 14 May 2015 at 1:34 am

    Terkadang ada pula murid karena gurunya baik, malah ngeyel dan jarang memperhatikan,
    Apakah tidak seharusnya bertindak sedikit keras pada anak yang seperti itu?

    Guru itu pekerjaannya ibarat menggosok semen menjadi emas, mantap (y)…

  2. Neilaon 09 Jun 2015 at 4:22 am

    Pak Windu Saputra, guru ‘baik’ itu maksudnya bagaimana? Mungkin kita perlu menyamakan persepsi yang dimaksudkan dengan ‘keras’ tu yang bagaimana? Murid ngeyel kadang karena ingin didengarkan. Ia ingin mengemukakan pendapat. Bagaimana cara guru menanggapi amat menentukan apakah ke’ngeyelan’ ini akan berlanjut menjadi kreativitas yang menstimulasi anak lain utnuk berpikir atau bahkan sebaliknya ‘mendominasi kelas’. Nampaknya yang dimaksudkan pak Winsu yang terakhir ya..

    Mari belajar lagi yuk Pak.. Anak itu akan menjadi permata yang berilau bila ia digosok oleh seorang guru yang berkualitas ’empu’..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply