Jun 23 2008

Berubah? kenapa tidak?

Published by at 10:47 am under Working Paper

Minggu terakhir ini, saya sedang menyelesaikan tugas menulis mengenai teori-teori sikap. Kebetulan sekali, di milis dosen UGM yang saya ikuti sedang mendiskusikan mengenai bad habit. Beberapa contoh dikemukakan, mulai dari kemalasan memencet shift dalam mengawali kalimat, keengganan menggunakan tanda baca, hingga menghilangkan kebiasaan menerima telpon apalagi sms sambil berkendara. Wah definitely harus dihilangkan lhio kebiasaan buruk yang terakhir ini.

Sikap yang dikemukakan oleh Icek Ajzen sebagai anteseden dari perilaku, bisakah berubah? Untuk yang ingin baca ulasan lebih lanjut mengenai sikap ini, coba deh cek postingan saya beberapa hari lalu. Jawaban saya? Tentu sikap dapat diubah… memang gak mudah, “angel tenan” seperti dikemukakan oleh pak Prastowo. Angel tapi bisa kan Pak…. Nah salah satu bagian dari tulisan saya mengenai pembentukan dan perubahan sikap itu, ada pendapat Herbert Kelman, Beliau sangat banyak meneliti mengenai sikap dan perubahannya. Bagi yang tertarik membaca paper dan tulisan beliau silah jenguk dan unduh artikel beliau di http://www.wcfia.harvard.edu/faculty/hckelman/.

Apa istimewanya pendekatan Herbert Kelman? Coba kita cermati cuplikan berikut:

Kelman mengemukakan bahwa pembentukan dan perubahan sikap yang terjadi pada individu sesungguhnya ada pada tiga level, yakni Complience, Identification dan Internalization (Kelman, 1958).

1. Complience adalah tahap yang sangat awal dalam proses pembentukan dan perubahan sikap. Pada tahap compliance, individu bersikap positif pada sesuatu obyek sikap karena ia ingin mendapat perlakuan positif dapat berupa hadiah atau setidaknya tidak mendapat hukuman dalam berhubungan dengan objek sikap. Misalnya kepatuhan pada aturan lalu lintas, individu mematuhi peraturan karena takut dihukum apabila melanggarnya. ”Bila di sebuah persimpangan yang ada lampu merah, saya akan patuh pada peraturan hanya kalau ada polisi ditempat itu. Kalau tidak ada polisi saya tidak patuh. Karena polisilah yang akan memberikan hukuman pada individu yang melanggar”. Pada level ini, individu memberikan respon favorable untuk menyenangkan pihak yang membuat peraturan, Perubahan sikap pada level ini biasanya ditandai oleh adanya keinginan untuk ’menyenangkan’ pihak lain yang membuat peraturan, sehingga apabila pihak tersebut tidak ada di sekitar kehidupan individu maka ia akan kembali ke sikap semula.

2. Identification yaitu perubahan sikap yang terjadi bila individu melihat orang lain di sekitar dan yang berpengaruh terhadap kehidupannya menunjukkan sikap yang dimaksud. Misalnya, individu akan bersikap positif terhadap peraturan lalu lintas, jika ia melihat para pembuat peraturan dan pelaksana peraturan mematuhi aturan yang dibuatnya. Bila individu melihat orang-orang itu melanggar, maka iapun jadi tidak bersikap positif pada peraturan dan ikut melanggar. ”Polisi tidak menggunakan helm, maka sayapun tidak mematuhi pemakaian helm”. Contoh lain terlihat pada individu yang menggunakan TIK karena pimpinannya menggunakan email sebagai alat komunikasi.

Menurut Kelman, level identifikasi ini mengandung beberapa komponen, yaitu:
(a) identifikasi didefinisikan dalam konteks perilaku, verbal ataupun non-verbal. Pada level ini, subjek dipengaruhi perilaku dan perkataan individu yang menjadi tokoh identifikasi.
(b) Perilaku ini berhubungan erat dengan cara individu memandang dirinya (self image) dalam hubungannya dengan agen perubahan.
(c) Hubungan ini sangat penting bagi individu, terutama memberikan perasaan identitas. Dengan meniru perilaku dan sikap tokoh identifikasi, individu merasa dirinya semakin diterima oleh lingkungan.

3. Internalization adalah proses penerimaan sikap positif oleh individu karena ia merasa objek sikap tersebut sesuai dengan tata-nilai hidupnya. Pada kasus sikap menerima peraturan lalu lintas, individu beranggapan bahwa peraturan lalu lintas diciptakan untuk menjamin keselamatan dirinya sendiri dan orang lain. Dalam internalisasi, tokoh identifikasi bukan hal yang penting melainkan nilai-nilai atau aturan-aturan tersebut memang sejalan dengan nilai-nilai kehidupannya. Dalam konteks kelompok, ditambahkan oleh Kelman bahwa nilai-nilai kelompok seakan-akan diterapkan individu secara sangat pas dan berhasil menyatu dengan kehidupannya. Penerapan prinsip ini dalam sikap menerima teknologi komputer diilustrasikan pada individu yang menunjukkan sikap positif terhadap komputer karena memberikan keuntungan dalam berbagai hal yang melancarkan tugas-tugasnya.

Sikap apa yang akan diubah? Teori Kelman ini dapat dijadikan acuan. Bila memang sulit, yah awalnya memang harus dipaksa ya? Ingat gak waktu pertama kali peraturan penggunaan helmet ditegakkan? angel khan? tapi toh lama-lama bisa juga… Kalau mau dirunut ke jaman dahulu kala… ingat gak waktu ngajari anak-anak kita yang berusia 1-2 tahun untuk toilet training? memang kadang harus diawalai dengan ketegasan.

Acuan:
Kelman, H.C., 1958, “Compliance, Identification, and Internationalization Three Processes of Attitude Change”, dalam Journal of Conflict Resolution, Vol. 2., No. 1, pp. 51-60.

2 responses so far

2 Responses to “Berubah? kenapa tidak?”

  1. sukma aridaon 10 Jun 2009 at 9:21 pm

    Ibu,
    salam kenal. saya alumni Geografi UGM (1995). sekarang mengajar di UNUD Bali. saya tertarik dengan tulisan2 ibu di blog ini. dulu waktu di Jogja saya sering ikut diskusi Pak jamaludin ancok di radio Unisi jogja.
    apakah saya boleh mendiskusikan beberapa maslah psikologi dgn ibu?

    terima kasih

    nyoman sukma arida

  2. indraon 22 Dec 2011 at 8:00 am

    terimakasih untuk link kelman nya ya buk

    indra putra nasir,

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply