Jul 07 2012

Kepadatan itu bermakna kemajuan atau kemunduran?

Published by at 4:06 am under Opinion

Genap tiga puluh tiga tahun, saya meninggalkan kota kelahiran Prabumulih. Ini (dulunya) adalah sebuah kota kecil di Sumatera Selatan. Jika anda yang membaca tulisan ini belum pernah melihatnya di peta, jangan berkecil hati. Itu bukan berarti nilai anda kecil di dalam pelajaran ilmu bumi tetapi semata-mata karena memang kota ini kecil tak tampak di peta yang menggunakan skala 1:1000…..

Di awal-awal perantauanku ke Yogyakarta ini, hampir setiap libur semester saya pulang menjenguk kedua orang tua yang hingga tahun 1997 berdomisili di sini. Duluuuu di tahun 1979 perjalanan antara bandara Talang Betutu (sekarang baca Sultan Mahmud Badarudin International Airport) Palembang yang berjarak sekitar 100 km itu memakan waktu 2 jam. Waktu tempuh itu semakin memendek semenjak Pemerintah Daerah dan mungkin juga didukung Pertamina yang kala itu dipimpin oleh Bapak Ibnu Sutowo membangun jalan yang super mulus. Alhasil di tahun 1986, ketika aku pulang membawa ijazah sarjana psikologi, hanya membutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan dengan mobil.

Awal Juli 2012, setelah 26 tahun saya mendapat kesempatan berkunjung ke kota Tanjung Enim. Kota dimana PTBukit Asam berada. Kesempatan ini tidak saya lewatkan dengan berbagai alasan, salah satu yang paling menarik adalah napak tilas mengunjungi kota kelahiran yang penuh kenangan ini. Saya yakin, setiap orang mempunyai kenangan indah di kota kelahirannya. Sambil membayangkan akan berjumpa teman-teman masa kecil di sana. Sebuah kolam ikan yang sering kali disulap menjadi kolam renang bagi kami di masa kecil selalu melitas di mata. Sebuah lubang di bawah besi pagar kolam renang, hasil karya tangan-tangan mungil selalu saja membuat saya tertawa sendiri. Ahhh indah sekali masa kecil itu, indah sekali kota kecil itu…

Rasanya ingin meminta Mas Imam, pengendara mobil yang menjemput kami untuk meningkatkan kecepatannya. Tidak sabar rasanya ingin melihat sebuah rumah peninggalan Ayahanda (alm) di pangkal kota itu. Tetapi mengapa lambat dan semakin lambat rasanya laju kendaraan ini? Mengapa jalan yang kami lalui semakin banyak berlubang? Saya melihat pemandangan asing bak kota Muntilan paska erupsi Gunung Merapi. Berderet truck besar merayap bahkan beberapa kali betul-betul berhenti.. Saya merasakan laju kendaraan tidak dapat meningkat karena kualitas jalan yang semakin berlubang.

Dulu, semasa kecil jalanan banyak juga berlubang yang mungkin disebabkan oleh kurang majunya teknologi transportasi di negara Indonesia ini. Sekarang nampaknya jalan itu berlubang sebagai pertanda penderitaannya menopang truck bermuatan super berat…

Saat ini, di amna teknologi transportasi sudah membaik, Jakarta macet karena pemerintah gagal membendung laju pertumbuhan kendaraan yang semakin tak berimbang dengan panjang jalan raya di ibu kota. Palembang-Prabumulih mengapa ikut macet? Jika Jakarta dipenuhi kendaraan pribadi para penduduknya, jalur Palembang-Prabumulih ini dipadati truck pengangkut sumber daya alam, ada kayu, kelapa sawit, dan yang paling memenuhi jalan adalah truck angkut batubara..

Seringkali ke ibu kota dan kota metropolitan di negara lain, memuatku makin maklum akan kemacetan. Itu pertanda padatnya penduduk dengan tata kota yang (mungkin) agak lambat meresponnya. Tapi mengapa hati saya kesal dengan kemacetan yang ada di sebuah kota yang daerahnya masih banyak lahan kosong? Lantas…macet ini pertanda apa?

2 responses so far

2 Responses to “Kepadatan itu bermakna kemajuan atau kemunduran?”

  1. aprion 23 Jul 2012 at 2:00 am

    wong kito galo……
    Sudah hampir 4 tahun ini jalan lintas Palembang – Prabumulih macet, terlebih di tahun 2012 ini, kemacetan semakin parah….Namun bagi kita orang perantau, kemacetan itu anggap saja sebagai perhiasan yang menghiasi perjalanan untuk mengingat kembali masa masa indah di kota kelahiran yang pasti tidak akan terlupakan….

  2. Neilaon 04 Aug 2012 at 11:41 am

    Saya juga heran, bagaimana mungkin pemimpin yang telah membuat kemacetan di kota kecil di provinsi yang ia pimpin, beraninya menyatakan diri akan mengurai kemacetan Jakarta… .. cak mano pulo ceritonyo….

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply