Oct 29 2011

Keterlibatan bukan Kepatuhan

Published by at 12:10 pm under Insight

Jum’at ini adalah hari terakhir pelatihan guru TQI batch 10. kali ini dua puluh tujuh guru Bahasa Indonesia SMP, masih seputaran DIY dan Klaten. Walaupun sepuluh hari Bapak dan Ibu guru ini mengikuti sesi demi sesi pelatihan yang selalu mulai pukul delapan pagi hingga sembilan malam (tentunya dengan selingan istirahat) tidak nampak wajah letih di wajah mereka. Semangat!!! kadang-kadang “luar Biasa”…atau “hebat”… itulah teriakan yel-yel yang selalu mereka kumandangkan..

“Bangga”, itulah kata yang selalu menyeruak di sekujur tubuhku setiap kali hadir di acara seperti ini. Yah… memang menyeruak adalah kata yang paling tepat untuk melukiskan perasaanku saat ini.. Rasa bangga itu menyebar ke seluruh tubuh dan seakan mendesak pori-pori walau rasa itu tetap iada di dalam tubuh. Andai saja ada alat pengukur ketebalan kulit, pastilah ada penambahan ketebalan terutama di bagian kulit wajahku…. Dulu aku sering menyatakan “merinding” untuk rasa yang mirip begini ini, ya memang mungkin sama tetapi kali ini aku lebih suka melukiskannya seperti ini. Setiap kali selalu ada saja keistimewaannya. Pada waktu memulai program ini sekitar tiga tahun lalu, aku pikir angkatan pertama adalah angkatan yang istimewa. Mereka hebat, adaptif, dan punya keinginan maju yang kuat. Ketika aku dan tim TQI menyelenggarakan angkatan kedua ternyata merekapun hebat, mereka mampu membuka diri dan punya rasa ingin tahu yang amat besar. Selanjutnya angkatan ketiga… keempat.. dan akhirnya di hadapanku saat ini terdapat dua puluh tujuh peserta angkatan sepuluh.. mereka lagi-lagi memberikan kejutan, cemerlang….bak berlian yang jarang digosok… baru digosok sepuluh hari sudah mulai berkilau cahayanya.

Bapak dan Ibu guru itu hebat..
Mengapa kualitas pendidikan masih saja di’teriaki’
Mengapa selama ini mereka seakan diabaikan..
Bapak dan Ibu guru kita ini luar biasa
Siapa bilang diabaikan?
Siapa yang mengabaikan siapa ?
Siapa?

Rasa ingin tahu seringkali mendesak lidah untuk bertanya. Apa sebetulnya yang dirasakan oleh mereka terutama selama berproses bersama dalam program Teacher Quality Improvement ini. Satu, dua, tiga, dan empat paling tidak dari sekitar dua puluh tujuh peserta itu yang mengangkat tangan diperkuat dengan menjulurkan jari telunjuk pertanda ingin diberi kesempatan berbicara.

“Saya sudah mengajar lebih dari dua puluh delapan tahun. Selama bertugas, saya (mungkin) baru satu atau mungkin dua kali saja mendapat kesempatan mengikuti pelatihan. Pelatihan yang diberikan Titian ini memang berbeda”, ini ungkapan ibu berkulit kuning langsat yang belakangan aku ingat namanya Bu Asih yang secara jujur menyampaikan isi hatinya. “Berbeda?”, penasaran aku dibuatnya …apanya yang berbeda? Seakan tidak mau terjebak dalam tebak-tebakan mengenai sesuatu yang berbeda ini, aku segera saja menawarkan kepada peserta lain dengan harapan ada yang akan menyampaikan sesuatu yang dapat setidaknya memenuhi rasa penasaranku ini.

“Saya sudah bekerja sebagai guru selama dua puluh tahun. saya sudah sering sekali diundang mengikuti berbagai pelatihan”, Bapak berkumis ini menyampaikan kalimat kalimatnya dengan perlahan seakan ingin memberikan kesan bahwa pendapatnya keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Belakangan aku tahu ternyata Bapak berkumis ini adalah seorang guru Mualimin, setara dengan sekolah menengah pertama. Dengan masih tetap mempertahankan suara lembut tapi tegas, iapun melanjutkan  “Tapi….selama ini saya hanya dididik D3 yaitu Datang, Duduk, dan Diam. Kali ini, di dalam pelatihan Titian ini saya menemukan hal yang luar biasa. Semua peserta terlibat di dalam semua proses sehingga yang muncul adalah “kesadaran”… Saya sadar bahwa masih banyak yang harus saya perbaiki di dalam proses pembelajaran”, Pak guru berkumis bernama Pak Priyono,  menimpali.

Hah… aku kembali mendapati kata ini..Keterlibatan… inilah nampaknya salah satu kata kunci yang penting di dalam proses pembelajaran. Dengan melibatkan peserta didik atau peserta training di dalam proses, sasaran pelatihan tidak hanya merambah ranah kognitif. Dengan terlibat, emosi peserta ikut menikmati semua proses yang mereka lakukan. Mereka merasa dihargai, mereka juga merasa bertanggungjawab secara pribadi terhadap semua keputusan yang diambil di dalam proses itu.. Ingatanku melayang ke kata-kata bijak seorang Confusius:

I see and I will remember
I hear and I will forget
I do I will understand..

Dalam pelatihan ini aku menambahkan
I involve and I wil realize …then I will be happier…

One response so far

One Response to “Keterlibatan bukan Kepatuhan”

  1. ARmion 21 Mar 2012 at 10:01 pm

    and smarter , know more , even more expert .
    such a nice post mba 🙂 keep update 😀

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply