Sep 05 2011

Bila tiba waktunya

Published by at 10:04 am under Life Skills

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan dengan judul sama yang saya posting ke facebook. Tulisan asli, saya tuangkan pada pertengahan Desember 2010. Bagi yang juga adalah pengguna ef-be silah klick di sini.

==================
Beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja saya membaca sebuah pesan terakhir yang dituliskan oleh pak M Sani Roychansyah kepada rekannya yang telah pergi meninggal dunia. Terperanjat dengan tulisan tersebut, sayapun mengikuti link yang ada sehingga akhirnya saya sampai ke profile Bapak Ir. Imam Djokomono seorang dosen Fakultas Teknik UGM, jurusan Teknik Arsitektur. Dari situ juga saya mengetahui bahwa Pak Imam meninggal dunia pada Bulan Desember, tanggal tiga 2010 lalu. Saya tidak tahu persis tanggal berapa beliau meninggal tetapi saya telusuri pada tanggal 2 Desember beliau masih memberikan jempolnya pada beberapa rekan yang menghaturkan ucapan semoga lekas sembuh…

Dalam kesendirian malam itu, kebetulan saya sedang di Vienna, saya sengaja sempatkan membaca semua ucapan berisi doa yang disampaikan handai tolan Bapak Iman Djokomono ini. “Beliau orang baik, punya banyak teman baik dari kalangan dosen, tetangga, mahasiswa dlsb”, itu kesan yang melintas di benak saya. Selamat jalan semoga mendapat tempat yang sebaik-baiknya pak…

Lelah membaca puluhan bahkan ratusan pesan berkaitan dengan kepergian pak Iman Djokomono ini, saya akhirnya merenung.. merenung.. manusia mati meninggalkan nama.. Saya tidak kenal dengan Pak Imam, begitu ia dipanggil oleh kerabatnya. Deretan pesan yang tercantum di face book beliau seakan menjadi kepingan puzzle yang dalam waktu beberapa detik telah kurangkai membentuk kesanku terhadap diri pak Imam. Ia seorang yang bersahaja, suka ngobrol ringan, punya sense of humor, dan pekerja seni yang amat memperhatikan orang lain namun agak kurang memperhatikan dirinya.

===========================

Hari ini, kembali hati saya merasakan hal yang hampir sama. Seorang guru Prof. Djamaludin Ancok menuliskan pesan pamitan karena beliau memasuki usia pensiun sebagai dosen PNS di Fakultas Psikologi UGM. Beliau menuliskannya di media Paperless Office PLO-Psikologi. Beliau menceritakan pengalaman semnjak awal menjadi dosen pada tahun 1974, kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Amerika, memperoleh kesempatan menduduki jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar di Fakultas Psikologi UGM yang amat bergengsi ini. Selain itu, beliau pun menuliskan bahwa ada beberapa rekan yang telah “pergi” mendahului beliau, mulai dari yang senior yaitu (alm) Prof. Siti Rahayu Haditono hingga yang masih muda sekali yaitu sahabat saya (alm) Mustagfirin. Kesan-kesanpun berlanjut dari beliau terhadap lingkungan dan iklim kekeluargaan di Fakultas.

Sebagaimana layaknya komunikasi sosial di PLO-Psikologi ini, kamipun para Junior yang masih antre menanti masa pensiun ataupun “dipensiun” mengirimkan komentar berisi kesan dan pesan. Banyak sekali yang kami pelajari dari beliau Prof. Djamaludin Ancok sebagai guru, kolega, maupun orang yang di ‘tua’ kan. Bapak beruntung dapat mencapai usia pensiun dengan sepenuhnya mendarma baktikan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang Psikologi Sosial, Psikologi Organisasi, Kepemimpinan, dan Manajemen. Andai dapat dihitung berapa anak bangsa kah yang telah kau didik sehingga mereka dan kami semua akan mampu menjadi penerus dalam memelihara keberlangsungan bumi demi masa depan umat manusia??..

Dan saat ini kembali hati saya terusik
andai tiba waktu saya nanti …
saya menyusul pak Imam ke alam sana…
atau…
saya memasuki usia pensiun
sebagaimana yang saat ini dilampaui Bapak Prof. Djamaludin Ancok
kesan-kesan seperti apakah yang akan dituliskan oleh kerabat dan handai tolan mengenai saya?

Well, mungkin agak sulit menebak kesan orang terhadap saya, tapi tentu saja seharusnya saya dapat menjawab pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati… kesan seperti apakah yang sungguh saya harapkan dari orang-orang yang mengenal saya ???

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply