Aug 16 2011

Kompetensi Guru: Syarat mutlak menjalankan proses pembelajaran

Published by at 12:37 pm under Life Skills

Judulnya panjang, tapi bukan tanpa alasan. Kalau dapat dirangkai, cerita yang melatari judul itupun lebih panjang lagi.

Sebetulnya tulisan ini adalah modifikasi tambal sulam kalau tidak dapat dikatakan sebagai replika tulisan di Notes Facebook saya. Tulisan di facebook itupun sebetulnya hanya sebuah rekaman tertulis dari cerita yang hampir setiap kali saya kemukakan kepada para peserta pelatihan kompetensi kepribadian dan sosial yang diberikan kepada para bapak dan ibu guru yang selalu saya cintai.

Cerita ini berawal dari kisah yang dialami anak bernama Adi yang duduk di bangku SD kelas 2 di sebuah sekolah dasar favorit di kota Yogyakarta. Sebagaimana biasa, Adi selalu berangkat dan pulang sekolah dengan ceria. Hampir setiap pulang sekolah ada saja yang ia perlihatkan kepada saya sebagai ibunya. Kadang halaman buku yang penuh dengan kata-kata yang ditulis dengan huruf latin halus—kasar. Kali lain, ia berlari sambil meneriakkan panggilan sayang ‘ibuuuu, aku dapat 100’ untuk sebuah pekerjaan matematika. Hingga suatu siang, tidak seperti biasanya Adi keluar ruang kelas dengan bersungut-sungut, wajahnya muram jika tidak dapat dikatakan pucat. Saya memperhatikan wajah buah hati yang pias tak secerah biasa.

Saya mencoba menyelidik dengan tetap mempertahankan ekspresi tenang dan tersenyum. “Assalamu’alaikum”, suara Adi lemah, dan saya pun menjawab “wa alaikumussalaam”, dengan suara lembut dengan harapan dapat menyebarkan kedamaian di hati Adi. Setelah mencium tangan saya, ia langsung membantingkan badannya ke sofa yang terletak di ruang depan dari rumah kami. Aku bertahan untuk tidak buru-buru bertanya, perlahan akupun mengambil posisi duduk di sebelahnya.

Seperti biasa, ia pun memasukkan tangan ke dalam tas merogoh dan mengeluarkan kertas dari dalam tas nya. Tidak seperti biasa, tangan itu tertahan lebih lama, seakan menunggu perintah dari pusat pemroses yang tiba-tiba bekerja sangat lambat. Beberapa detik kemudia, tangan mungil itu keluar dari dalam tas sambil memegang lembar-lembar kertas, sampai akhirnya diulurkannya lembar kertas itu tanpa memandang saya sama sekali.

Aku menerima dua lembar kertas yang kutahu itu adalah kertas ujian “Bahasa Indonesia”. Anakku mendekat kemudian berkata “Cuma dapat 90″… Begitu katanya dengan suara melemah. Aku tersenyum, “hmmm bagus sekali”. nilai 90 bagiku bukan sekedar “cuma” itu prestasi yang amat baik anakku… Saya pun berkata “Niali 90 itu bagus lho”, sambil kudekati dia. Wajahnya masih tidak segembira hari-hari sebelumnya. Selang sesaat ia mengambil kembali kertas yang sedang kupegang seraya bertanya “Ibu, yang ini kan benar khan?, ia menunjukkan sebuah soal yang diberi tanda silang warna merah.

Mataku pun seketika berlari mencari telunjuk anakku sampai akhirnya menemuka sebuah soal menjodohkan. Ada beberapa angka soal pertanyaan terbuka. Soal yang bertanda silang merah itu berbunyi:

* Di sawah, pak Tani menanam ………*.

Ini pertanyaan yang amat menarik bagi saya. Mengapa? Sehari-hari, saya tinggal di sebuah desa bahkan dapat dikatakan di tengah sawah. Saya dan suami membeli sebidang sawah di daerah pedesaan wilayah Ngaglik, Kabupaten Sleman. Oleh karena rumah kami di tengah sawah, setiap hari anak-anak saya sangat akrab dengan berbagai tanaman padi maupun polowijo yang ditanam pak Tani. Saya selalu menjelaskan kepada anak-anak, bahwa pada saat air berlimpah maka pak Tani menanam padi, sedangkan musim kering biasanya pak Tani akan menanam polowijo, misalnya jagung, kacang, ataupun sayur-mayur lainnya.

Pada saat peristiwa ini terjadi, petani di sekitar rumah kami sedang menanam jagung. Mendapatkan pertanyaan seperti pada soal ujian itu, anak sayapun mengisi titik-titik itu dengan JAGUNG. Tapi apa lacur? Bu guru mempunyai pedoman jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah PADI.. Inilah yang membuat anak saya protes karena dia adalah satu-satunya anak yang mendapat nilai kurang dari 100 dalam ujian tersebut.

=========

Cuplikan kisah Adi yang merasa diperlakukan tidak adil oleh gurunya. Sebuah fakta yang disaksikan oleh seorang anak merupakan kebenaran yang sudah tidak perlu disangkal. Pak tani pada musim tertentu menanam jagung. Itu adalah fakta dan benar. Tetapi mengapa pada saat fakta tersebut di bawah ke sebuah proses pembelajaran, untuk dijodohkan dengan pertanyaan mengenai tumbuhan yang ditanam pak Tani di sawah, ia menjadi salah?

Ada sebuah kondisi yang tidak menguntungkan bagi Adi. Ia yang hidup sangat dekat dengan alam sehingga mendapat kesempatan menyaksikan ragam kegiatan petani. Sementara itu, Guru yang mengajar di sekolah sudah mengkotak-kotakkan pemikirannya untuk menolak alternatif jawaban di luar kunci pelajaran yang tersedia. Kondisi ini yang sangat merugikan Adi sebagai siswa di sekolah. Perlakuan tidak adil yang disebabkan oleh sempitnya pemahaman guru akan proses evaluasi dalam pembelajaran. Penilaian yang hanya sepihak tanpa adanya upaya untuk memahami dunia siswa yang datang dari latar belakang yang berbeda.

Tuntutan kepada setiap guru untuk lulus uji kompetensi memang mutlak dan tidak dapat ditunda lagi. Guru tidak hanya mengajar tetapi juga harus belajar. Ilmu tidak hanya diperoleh dari lembar-lembar buku semata. Buku yang dibacapun tidak hanya buku paket yang kadang tidak menyediakan alternatif bagia kebebasan berpikir anak yang masih hidup di dunia nyata.

3 responses so far

3 Responses to “Kompetensi Guru: Syarat mutlak menjalankan proses pembelajaran”

  1. Neilaon 17 Aug 2011 at 9:33 am

    Saya dapat catatan dari Ibu Lily Kasoem terhadap tulisan tersebut. Sengaja saya copy and paste kan di sini untuk pencerahan pembaca semua. Catatan ini dikirim beliau lewat email pribadi kepada saya:

    ============
    Dear Neila,

    Wish I have the creativity to write such as yours. What a nice story and very true.

    When 15 years ago at grade 2 my grand daughter answered flower for the question “what do you plant in the garden of your house”, she was puzzled when the teacher crossed the answer as a wrong answer. The right answer should be cabe, ubi, jagung etc. And 35 years ago when my daughter answered “singing” to the question of “what do people do in church”. That was wrong too. The answer was based on that each time she passes the church in Sungei Gerong, Palembang, she heard from outside people sing there. She was born and grew up there till the age of 6.

    It hasn’t changed after so many years. Now you and your team are the agent of change to correct this. Hat off for you Neila.

    Love,
    Lily

    ====
    Thank you so much Ibu for sharing the stories. I do appreciate to the work you have been doing in education through http://titianfoundation.com
    Let’s make Indonesia better future…

  2. fajaron 03 Sep 2011 at 9:48 am

    ass w
    Terima kasih, bu…setelah diklat TQI saya merasakan perbedaan yang mencolok, saya baru menyadari bahwa figur saya sebagai guru, meskipun masih hijau sekali, ternyata saya bisa membuat anak-anak “jatuh cinta” pada saya, dalam artian mereka ternyata sangat sayang pada saya, tentu saja ini awal yang bagus karena dapat dipastikan selanjutnya anak-anak pasti akan menyukai pelajaran yang saya sampaikan.

    Sekedar berbagi cerita, saya mengajar murid yang sama 2 tahun berturut-turut, saat mereka karus naik kelas 5 tahun ajaran 2011/2012 ini mereka pengin tetap saya yang mengajar, meskipun akhirnya saya tetap di kelas 4, tapi sampai sekarang tiap kali ada sesuatu anak-anak itu tetap mencari saya, entah ada yang bertengkar maupun ada masalah pribadi bahkan pelajaran hingga kadang saya gak enak dengan guru kelasnya. Tiap istirahatpun satu persatu anak-anak itu datang ke kelas saya cuma untuk sekedar menyapa dan salaman.

    Berkaitan dengan cerita ibu, memang betul selama ini kebanyakan guru terpaksa (kalau tidak mau dikatakan memaksa) muridnya untuk memahami sesuatu sesuai dengan apa yang dipahami guru. Seharusnya seperti prinsip Quantum Teaching ; Masuklah kedunia mereka(anak-anak) dan bawalah mereka ke dunia kita, jangan membebani anak tapi buatlah aanak merasa butuh apa yang dia pelajari, guru memfasilitasi bukan mendoktrin.

    Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih

    wass w w

  3. Neilaon 05 Sep 2011 at 10:09 am

    Pak Fajar yang hebat,
    terima kasih sudah berbagi. Semoga upaya yang dilakukan pak Fajar untuk senantiasa mencerdaskan kehidupan bangsa melalui profesi guru akan menjadi amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat sepanjang hayat..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply