Aug 31 2010

Grown up Digital

Published by at 11:11 am under Opinion

Saya baru saja membaca sebuah buku yang berjudul “Grown up Digital” karya Don Tapscott. Seorang adjunct profesor of management at the Joseph L. Rotman dari University of Toronto. Don juga menulis buku “Wikinomics” and “Growing up Digital”.

Seringkali saya mendengar orang tua mengeluhkan anaknya yang terlalu menikmati berinteraksi dengan kotak kecil dan ajaib bernama komputer. Mereka juga mengeluhkan anak-anak mereka berbicara amat lugas seakan tidak mengenal tata krama warisan leluhur. Dan yang amat amat sering keluhan anak-anak mereka diam-diam mengambil uang dari dompet orang tuanya untuk membayar sewa “Game center”.

Pada saat terlibat pembicaraan dengan para orang tua ini, secara amat transparan saya melihat diri saya sendiri dengan berbagai mis-understanding dengan anak-anak saya yang seringkali bersumber dari perbedaan cara memandang sebuah kondisi. Mengapa perbedaan? Untuk menjawab ini, saya mengutip pendapat Don Tapscott yang mengelompokkan penduduk bumi ini ke dalam empat generasi, yaitu:

1. The Baby Boom Generation: Kelompok ini terdiri dari penduduk yang dilahirkan antara 1946 – 1964.
2. Generation X: terdiri dari anda yang dilahirkan pada periode 1965 – 1976.
3. The Net Generation: berisi generasi seusia anak-anak saya yang dilahirkan antara 1977 – 1997.
4. Generation Next: adalah yang lahir pada periode 1998 – sekarang.

Setiap generasi hidup pada era yang berbeda. Jika generasi orang tua saya (the baby boomers) seakan dikagetkan dengan kemunculan televisi kemudian saya ingat sekali mereka pada saat itu mulai membuat rambu-rambu untuk membatasi jam menonton acara televisi. Rambu-rambu ini amat erat kaitannya dengan kekhawatiran akan menurunnya prestasi sekolah. Menonton televisi pada jam-jam premium tentu saja mengurangi jam belajar di malam hari.

Saat ini saya dan rekan-rekan seusia (generasi X) mulai khawatir terhadap anak-anak yang kami lahirkan di era generasi net. Mereka lahir di era teknologi. Ibaratnya orang dilahirkan menghirup udara segar, mereka dilahirkan di tengah maraknya berbagai teknologi komunikasi. Lha apa bedanya dengan saya? Jika saya menganggap teknologi sebagai alat maka anak-anak itu hidup dengan teknologi. Tapscott menyatakan bahwa dikalangan gerasi net, teknologi amat transparan. Don mengutip Coco Conn, cofounder dari Web-based Cityspace projek bahwa bagi generasi net teknologi itu transparan dan seakan tak terlihat, “It doesn’t exist. It’s like the air”. Mereka bernafas dengan teknologi.

Membaca bagian ini membuat saya tercenung. Saya ingat juga dengan pendapat Marc Prensky, seorang penulis kondang yang mendengungkan istilah ‘digital native’ bagi anak-anak yang lahir di era digital, sedangkan kelompok saya sebagai ‘digital immigrant’. Lha bayangkan saja jika seorang native berbicara mereka juga berpikir dengan cara budaya tempat bahasa tersebut berasal. Sebaliknya seorang immigrant yang fasih menggunakan bahasa tempat dia hidup sekarang tetapi seringkali masih menggunakan pola pikir yang dia bawa dari daerah asalnya. Makanya saya kalau berbicara dengan anak-anak sering kali slenco (bahasa jawa yang kira-kira maksudnya tidak tepat karena menggunakan kerangka pikir yang berbeda) …. saya manggut-manggut..

5 responses so far

5 Responses to “Grown up Digital”

  1. Anggitaon 01 Sep 2010 at 11:47 pm

    Bu Nei yang cantik,

    Saya senang dengan artikel ini. Kapan-kapan boleh ya saya dipinjami bukunya 🙂
    Mohon ijin bu, tulisan ibu sedikit saya share di blog saya: http://anggita.blog.ugm.ac.id/2010/09/01/eratekno/ (baru saja pindahan, setelah sekian lama, baru pd nulis di blog uGM)

    Maturnuwun bu Nei,
    Salam hangat dari Jogja

  2. Neilaon 02 Sep 2010 at 11:33 am

    he heyy Anggita yang super cuantik dan pinter,
    tentu boleh.. halal pokoknya. BTW laporan penelitian kita posting di blog ya.. biar rada ilmiah xixixixx

  3. ikaon 13 Sep 2010 at 9:18 pm

    Ibu Neila yg cantik n always keep smile….

    Artikelnya menarik n katanya Don Tapscott intinya “if you understand the Net Generation, you will understand the future”…..

    Thanks Mam,

  4. Neilaon 14 Sep 2010 at 9:33 am

    Yeee Ika cantik juga suka baca ini ya?? Tuliskan lebih banyak dooong..

  5. ayaon 19 Jan 2011 at 10:43 pm

    Dear Ibu dan Mbak… buku tersebut ada juga lho di perpustakaan UGM. hehehe

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply