May 16 2008

Sebuah persembahan bagi guruku

Published by at 11:35 am under Community Empowerment

MODUL… inilah kata yang paling tepat yang membawaku bolak balik ke sana ke mari, rapat rapatan dengan bapak dan ibu yang ada di lantai 14 Senayan itu, telpon telponan dengan rekan yang ada di DOHA, sms an dengan TQI groups yang di dalamnya ada pak Ancok, Intan, CIlik, Firin, Gogon…. belum lagi imel-imel an dengan ibuku yang makin hari makin cantik Lily Kasoem….. lha apa kaitannya dengan judul di atas?

============

Senayan, Lantai 14: 13 May 2008

Meeting room yang wah untuk ukuran instansi pemerintahan. Mejanya panjang, cukuplah untuk meeting 20 orang. Saya duduk di tengah dengan harapan dapat berinteraksi dengan semua peserta meeting hari itu..

as usual, pemimpin rapat yang datang ‘agak’ telat langsung memberi salam dan pembukaan bla bla bla….
Tidak banyak yang baru, kecuali bagian ini:

‘kalau menurut saya, ini bukan modul”, saya lihat ke belakang seorang bapak berbaju putih berbicara dengan penekanan suara yang mengisyaratkan bahwa pendapatnya itu sudah benar-benar diyakini sebagai ‘benar’. Ada semburat merah di pipinya yang membuat saya berkesimpulan betapa putih dan bersihnya wajah si Bapak iitu. Mesti waktu muda dulu si bapak ini gak banyak naek sepeda motor, pikirku he he he… buktinya? wajahnya putih bersih, kulit kuning cemerlang, dan dadanan yang hicks.. parlente eui.. gambaran seorang yang setidaknya tidak perlu susah dan berpanas untuk bepergian menuju ke tempatnya beraktivitas. Setidaknya, pikirku lebih lanjut si bapak ini gak usah keluar duit jutaan rupiah buat bayar Natasha, LBS he he Rumah Cantik atau apalah layaknya kaum kosmopolitan.

Lamunanku diinterupsi dengan komentarnya lebih lanjut,

‘Coba saja kita perhatikan, isi modul pelatihan pedagogi untuk guru matematika ini’,

suaranya yang masih dengan tekanan suara khas… Saya menoleh lagi ke belakang untuk meyakinkan siapakah yang berbicara dan memberi perhatian pada kata-katanya, dan ia melanjutkan “saya lihat isinya cuma urut-urutan petunjuk penyajian saja” wuih prosentase merah yang mengalir ke wajah makin besar. Apakah ini pertanda bahwa pesan yang disampaikannya harus diberi bobot lebih?

Diseberang sana, seorang Bapak lain menimpali “saya kebagian mengevaluasi modul pedagogi untuk guru matematika SMP’, katanya dengan gaya bak Umar Bakri waktu masih muda. Suara cemer, gak microphonic sama sekali. ‘Dalam berkas ini, tercantum ada problem solving tapi saya tidak melihat sama sekali contoh problem solving untuk matematika itu yang mana. Padahal problem solving untuk matematika berbada dengan problem solving untuk IPA” aku mencoba mencerna, mengingat, dan memahami… bagian manakah dari modul itu yang sedang dikomentarinya?

yaaa… itu secuplik percakapan dua pihak yang baru mau mulai akan bekerjasama. Ceritanya, tim Titian Foundation sudah berjalan 10 bulan ini mengembangkan satu modul pengembangan kompetensi pendidik dalam bidang kepribadian, sosial, dan pedagogi. Kenapa 3 kompetensi itu?

Banyak alasan sebetulnya jika ditanya mengapa kami mengembangkan ketiga modul tersebut. Yang jelas, Permen Diknas no 16 tahun 2007 menetapkan bahwa pendidik harus mempunyai 4 kompetensi jika ingin mendapatkan sertifikasi sebagai pendidik, yaitu Profesional, Kepribadian, Sosial, dan Pedagogi. Dengan asumsi bahwa kompetensi profesional, adalah bidang yang selama ini sudah dikembangkan dengan sangat intensif oleh berbagai diklat di bawah Dirjen PMPTK maka Titian Foundation yang misinya ingin ikut cawe-cawe dalam program pengembangan pendidik ini fokus untuk 3 bidang lainnya.

Melanjutkan berbagai meeting yang sudah dilakukan sebelumnya, kali ini delegasi Titian bertambah dengan menghadirkan tim lengkap sebagaimana nama-nama di atas. Ini semata-mata demi mencapai kesepakatan mengenai bentuk modul seperti apakah yang dapat digarap bersama antara Titian-ROTA dengan Direktorat Profesi Pendidik yang dikomandani oleh Pak Dasuki ini. Format modul yang bagaimanakah yang layak dikemas sebagai official module milik Diknas & ROTA/Titian ini?

3 responses so far

3 Responses to “Sebuah persembahan bagi guruku”

  1. Teddion 22 May 2008 at 3:25 am

    Bu..bu..

    Titian niku nopo nggih?

    La terus…jadinya Bapak2 tadi itu siapa? he..he..

    Wow, sertifikasi sebagai pendidik? Menarik! Di negara2 maju, tukang ledeng saja wajib memiliki sertifikat. If you can’t measure, you can’t manage. Kita memang mesti menyadari pentingnya standar, agar kita bisa terus meningkatkan standar.

    Salam,

    Teddi

  2. yantion 25 Jun 2008 at 2:12 am

    Bu… ini pertama kalinya saya buka blog ini…
    saya ada pertanyaan… aapakah ibu tahu tempat praktek pedagog di bekasi atau jakarta ya bu?… saya ingin mengkonsukltasikan anak saya yang peyangdang autis. terima kasih sebelumnya…

    Oya… kalau tidak keberatan klik balik ya rumah mayaku

  3. Neilaon 25 Jun 2008 at 8:59 am

    Halo Yanti,

    saya tinggal di Yogya sehingga gak tahu banyak mengenai Bekasi ataupun Jakarta. Di Weblog nya Yanti sudah ada link ke puterakembara, mungkin teman-teman di milis PK dapat memberi advis. Thank Yanti, salam untuk anak-anak ya..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply