Sep 25 2010

Social Networking

Published by at 10:21 pm under Opinion

Beberapa minggu belakangan ini saya semakin sering mendengar pemberitaan di media televisi mengenai anak gadis  belasan tahun yang dikabarkan hilang bahkan menghilang dari rumahnya dengan teman lelaki yang dikenalnya melalui situs jejaring sosial yang berjudul ef-be. Pada umumnya mereka dikabarkan berkenalan, kemudian setelah beberapa kali saling berkomunikasi disepakatilah temu darat, dan seterusnya akhirnya merekapun bepergian ke tempat-tempat yang tak disebutkan di mana..

Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Mengapa ya hal ini bisa terjadi?

3 responses so far

3 Responses to “Social Networking”

  1. naningon 27 Oct 2010 at 12:47 pm

    ibuk…
    1. Iya,Buk. Seorang mahasiswa pun bisa pula “lengah” dicolong teman fb nya. He he. Menurut saya, hal itu dikarenakan seseorang sdh “keblinger” dg teman fb nya. bermula dari sekedar slg comment, akhirnya merasakan kecocokan. sampai logika sudah hilang. jd yg perlu dilakukan sy rasa ya seseorang hrs punya “prinsip” ttg etika pergaulan yg tnyt memang harus ada batasnya…. fb adl benda mati. mau di bawa ke arah mana ( +/- ), tergantung sang user. he he…. 🙁
    2. ibu, sdh beberapa kali di skul kami, smp 1 b*y*t, diadakan “razia” HP di kalangan siswa. Yang sangat mengejutkan, ada bbrp anak yg di dlm hp nya ditemukan foto, video & SMS “hot”. Dan yg paling membuat saya gemes, setiap kali orang tua si anak diundang ke sekolah untuk “mengkonfirmasi” kasus anaknya tsb, orang tuanya kok malah tersenyum-senyum saja. Tidak ada reaksi terkejut sama sekali. Padahal saya yang baca SMS, foto, dan video tsb langsung kuaget & shock. Ehh.., kok orang tuanya sendiri malah terkesan “biarin”. Tiwas saya repot2 berpikir untuk menyusun kalimat yg seluwes mungkin ut “matur” ke beliau2 agar tidak shock dg ulah si anak. he he. Pertanyaan saya ibu, bagaimana menyikapi kasus si anak seperti ini? Melihat kondisi ini, sepertinya memang perlu menyelipkan pendidikan seks pd siswa ya,Buk? Lantas formatnya bagaimana? Apa saja yang harus disampaikan,Ibu?
    3. Buk, bagaimana pendapat ibu tentang aktifasi otak tengah (AOT), baik melalui lembaga semacam GMC, GMG, AJI, dll? Akhir2 ini marak pihak yang kontra AOT dg alasan tidak ilmiah & hanya hoax semata. Namun, di tengah serangan kontra demikian, kenapa AOT masih saja eksis? AOT msh sj mempublikasikan dirinya dan msh bnyk pula peminatnya?
    Demikian,Ibu. Mohon maaf apabila saya bnyk tanya. He he. Saya mohon, Ibu berkenan meresponnya. Terima kasih,Ibu….

  2. naningon 27 Oct 2010 at 1:07 pm

    O ya,Buk… nambah sedikit ya.. he he…
    kenapa anak/siswa sekarang kalo “melakukan suatu kesalahan”, terus “diceramahi” tentang “do & don’t” oleh gurunya kok malah terkesan cengengesan ya? sepertinya tidak ada perasaan malu, bersalah, ataupun takut. si anak justru tersenyum-senyum pada temannya. kesannya kok malah “bangga” gitu. sy sering dibuat gemes kalo ada anak semacam ini….
    Ataukah saya yang salah cara penyampaiannya ya, Buk? Tapi dari hasil sharing dg teman2 juga gitu,Buk. Sama. Si anak hanya cengengesan kalo “dibetulkan”….
    Terima kasih,Ibu…. 🙂

  3. Neilaon 06 Nov 2010 at 4:36 am

    Bu Naning,
    Kabar baik yahh maaf baru merespon di tengah ketegangan letusan merapi. Kalau masalah razia hp mungkin dapat diubah dengan tindakan antisipatif aja. Bisa buat kegiatan co-curriculair yang dapat mendukung terbentuknya perilaku bertanggung jawab, termasuk pendidikan seksual yang bertanggung jawab. Siswa SMP khan sudah remaja kalau di razia membuat mereka merasa di ‘anak kecil’ kan. Apalagi jika ortu tidak sealiran dengan guru. Kalau bu Naning mau membuat acara yang berkaitan dengan hal ini, Titian Foundation siap mendukung dengan mengirim nara sumber. Monggo, bersama kita bangun masa depan yang lebih baik melalui remaja yang bertanggung jawab..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply