Dec 24 2009

Engkau… yang selalu indah untuk dikenang

Published by at 11:04 am under Greetings

Entah sudah berapa kali saya mendapat berita seperti ini.

Seseorang yang kita cintai, sayangi, dan hormati ‘pergi’ meninggalkan kita untuk selamanya. Pergi menghadap sang “khalik’.

Pagi kemaren, selesai menguji tesis di kampus MM UGM di Mbarek saya dikejutkan oleh sebuah sms yang diawali dengan pesan ‘Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… dst.. ‘. Pada saat kursor saya gerakkan ke bawah untuk melanjutkan membaca berita, betapa terkejutnya saya karena yang diberitakan meninggal itu adalah seorang guru, bapak, dan teman kerja yang sangat saya segani. Beliau adalah Bapak Sugiyanto, co promotor riset disertasi saya.

Beliau meninggal sekitar pukul 11.00am, Rabu 23 Desember 2009.

Beliau sudah lebih kurang tujuh bulan menderita sakit. Sudah menjalani operasi dan sempat pulang ke rumah dan masuk kerja, Sempat pula beliau menguji disertasi saya, pada ujian tertutup pada 2 Oktober 2009. Beliau juga adalah pemotivator saya dalam menyelesaikan sekolah S3 ini secepat-cepatnya. Sayangnya, beliau tidak dapat hadir menguji saya pada saat saya menjalani ujian terbuka pada 3 Desember 2009 karena beliau sudah kembali dirawat di rumah sakit.

Layaknya seorang guru, teman, dan tokoh yang di idola kan… banyak sekali doa dan ucapan belasungkawa yang dikirimkan teman-teman melalui email, face book, dan sms. Saya ingin mendokumentasikan ucapan do’a yan indah-indah tersebut. Dengan iringan do’a semoga beliau mendapat tempat yang lapang, indah, dan dijauhkan dari azah api neraka.. berikanlah syurga untuk saudara kami ini ya Allah….

Sanjak indah ini dituliskan oleh Endang dari Surabaya, seorang murid beliau yang sedang menjalankan tugas di Universitas Airlangga. Mbak Endang gak bisa hadir tetapi puisi dan do’a selalu menyertai pak Giek.

Pagi  ini , 23 Desember 2009 di Surabaya begitu deras hujannya…
Berita kepergian bapak kudengar sesaat setelah hujan agak reda
Derasnya hujan pagi ini seakan menggambarkan kepiluan kami yang kau
tinggalkan
Bapak… sesaat  kuingin tubuhku pergi dan mengantarkan bapak  di
peristirahatan terakhirmu..
Namun sesaat daku bimbang….
Pergi  atau tetap di sini karena ada beberapa  sorot mata yang
menghendakiku tetap tinggal…
Ah… aku tahu doa akan lebih bermanfaat bagi dikau bapak….
Aku yakin… ketika pilihanku tidak mengantarkan bapak ditempat
peristirahatan terakhir,
Bukannya akhir dari segalanya….
Di sini dengan temaramnya langit karena mendung seakan malas untuk
pergi…..
Kudoakan bapak diterima di sisi Alloh SWT dan ampunan senantiasa mengalir
bagi Bapak
Sang guruku…….

Teriring tetesan airmata
Sang pembelajar
Dewi

Waduuuhhh… rasanya tak kuasa menahan air mata pada saat membaca puisi indah untuk pak Giek. Terima kasih mbak Endang..

Gak sampe satu jam kemudian, datang lagi bait-bait indah dan do’a mengenang pak Giek dari murid beliau, mbak Nilam Widyarini, dia salah seorang murid beliau.

Rasa kehilangan tak terkira
Namun hati perlu ikhlas melepas
Seorang teladan kepedulian

Berharap Tuhan YMK memberikan tempat terbaik
Untuk dia yang tanpa pamrih telah mendedikasikan hidupnya untuk anak didiknya semua.
Selamat jalan pak Gi…..
Jasamu akan selalu dikenang

Sanjak indah berikut ditulis oleh Mbak Asniar Khumas, yang dikirim dari Makasar. Asniar adalah mahasiswa S3 yang juga merupakan murid beliau…

Puisi Untuk Guru

Berkah melimpah
Telah terbagi: bulat
Jadi bekal
Kemarin
Hari ini
Esok
Secuilpun belum terbalas
Keberkahanmu:
terus mengalir
Izinkan ku potret semangatmu
Dengannya
Kutebarkan ketulusan
Yang tak tergilas nafsu:
badaniah
Makassar, 23 Desember 2003

One response so far

One Response to “Engkau… yang selalu indah untuk dikenang”

  1. reraon 13 Apr 2010 at 6:24 am

    jadi ingat lagunya jikustik yang untuk dikenang..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply