Dec 21 2009

Akhirnya tugas itu selesai sudah

Published by at 12:32 pm under Courses

Tiga February dua ribu tujuh atau tepatnya dua tahun sepuluh bulan lalu saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan pada Program Doktor Fakultas Psikologi UGM. Ini yang namanya krentek datang setelah lama menghilang.

Dengan tekad yang tiba-tiba datang segunung, saya mulai atur strategi untuk menjalani sekolah ini dengan sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya. Wah, agak gemeter juga pada waktu saya memproklamirkan untuk sekolah baik dan sekolah cepat. Bagaimana tidak? Berbagai projek sudah terlanjur ditandatangani, aktivitas sosial dengan Titian Foundation sudah semakin kucintai, dan sejumlah komitmen lain baik mengajar di S1 dan MM serta tentunya eWorld HRD yang dengan susah payah kulahirkan. Tapi yang namanya krentek gak boleh ditunda, sekali datang harus segera direspon dan dihadapi.

Usia saya pada saat memulai program S3 ini sudah tidak muda lagi… lebih dari 45 tahun. Lagian, sekolah di kandang sendiri bukan sesuatu yang mudah. Hambatan sosial dan rasional sangat banyak. Jika dijabarkan kira-kiranya seperti ini:

  • Profesi sebagai dosen sekaligus psikolog memposisikan saya untuk sering sekali berhadapan dengan “rival” yang sulit sekali dikalahkan. Pertama tugas mengajar mata kuliah yang saya senangi. Belum lagi tugas mengajar di program studi lain yang secara emosional dan finansial membuat saya hanya mempunyai kosa kata Ya dan Ya..  Rival yang paling berat jika datang dari sebuah projek training perusahaan. Mengapa? pengalaman menjadi seorang trainer dan konsultan perusahaan merupakan modal yang mengandung profitabilitas yang tinggi.
  • Sekolah di kandang sendiri mau tidak mau berhadapan dengan teman sendiri, baik promotor maupun penguji. Secara emosional, seringkali pikiran negatif melintas di kepala saya. Apa kata teman-teman saya yang saat itu bertindak sebagai promotor dan juga sebagai penguji mengenai saya? Apakah jawaban-jawaban yang saya berikan terhadap pertanyaan mereka sudah sesuai menceriminkan bahwa saya ini pantas menjadi seorang doktor?? Dengan aturan yang berlaku di UGM, sekolah S3 harus dibimbing promotor dan ko-promotor artinya saya harus pandai atur strategi dalam merancang pertemuan bimbingan bersama, saya harus belajar berkomunikasi sedemikian rupa sehingga tim promotor dan saya sendiri selalu mempunyai emosi positif pada saat berdiskusi dalam proses pembimbing. Saya yakin sekali emosi positif dapat memfasilitasi setiap manusia untuk mengembangkan ilmunya.
  • Penguji yang terlibat di dalam proses pendidikan saya adalah orang-orang yang harus saya jadikan sumber ilmu. Bukan penguji yang ditakuti. Dengan jumlah penguji diluar promotor sebanyak 5 orang, tentu saja dapat membuat saya kaya ilmu. Kupasan disertasi saya akan datang dari berbagai perspektif..

Fakta tersebut sudah saya pertimbangkan jauh sebelum memutuskan memilih sekolah di almamater UGM ini. Berbagai stigma bahwa sekolah di kandang sendiri artinya siap-siap mendapat sebutan mahasiswa abadi. Saya harus betul-betul atur strategi agar dapat lulus cepat..Jika suami dan teman-teman yang sekolah di LN, yang sekolah dalam bahasa Inggris mampu menyelesaikan dalam waktu 4 tahun maka saya yang sekolahnya pake bahasa sendiri logikanya harus lebih cepat..

Wah awalnya saya pikir ini terlalu ambisius. Bukankah saya masih harus mendampingi suami dan anak-anak dengan keterlibatan aktivitas sosial lainnya? Tetapi  waktu itu hati kecil saya berbisik sambil menantang: siapa takut??? he he hayyo siapa yang mau ambisius lulus cepat dengan prestasi terbaik, inilah tantangan yang datang dalam hatiku saat itu..

Saya ingin berbagi dengan teman-teman semua yang mungkin diantaranya ada yang sedang menyusun strategi sebagaimana saya lakukan tiga tahun lalu:

1. Memantapkan niat. Niat adalah segalanya: artinya jika niatnya bukan sekolah (baca=belajar dengan segala konsekwensinya) tetapi misalnya cuma sekedar ingin terdaftar sebagai mahasiswa, nampaknya perlu di tinjau ulang deh. Niat ini berfungsi seperti pil multivitamin yang paling joshh sedunia. Bayangkan saja, dengan niat maka selama seminggu saya belajar enam hari, setiap hari minimal tujuh jam, dilakukan terus menerus…

2. Pilih promotor yang menyukai dan mendukung topik yang dipilih. Promotor saya adalah Prof. Djamaludin Ancok, Ph.D seorang psikolog sosial lulusan Indiana University yang aktif dalam bidang organisasi. Beliau dekat dengan IT terlihat dari minat beliau dalam menggunakan berbagai peralatan komunikasi dan presentasi yang mutakhir. Beliau juga adalah pengguna email (topik saya mengenai email di kalangan dosen) yang sangat tinggi. Ko-Promotor saya adalah Sugiyanto, Ph.D (Pak Giek meninggal beberapa minggu setelah saya lulus, saya senang karena ketika di rumah sakit, beliau masih dapat mendengar berita bahwa saya lulus. Beliau tersenyum mendengar berita ini di pembaringan). Beliau adalah juga seorang psikolog sosial dengan minat utama masalah teknologi. Beliau adalah seorang yang punya komitmen dalam pengembangan ilmu psikologi dan teknologi. Lha topik saya amat cocok dengan amatan beliau mengenai aspek manusia dalam pemanfaatan teknologi. Jika saya amati, Tim promotor ini menggunakan dua pola pandang yang berbeda. Pak Ancok sangat makro sebaliknya pak Giek amat detil dan sangat peduli dengan hal-hal yang bersifat mikro..

3. Cari teman diskusi, hindari orang-orang yang dapat menjadi racun yang mengganggu mood belajar… . Suasana hati bagi saya sangat penting untuk memupuk kecerdasan intelektual dalam memahami bacaan, menelorkan rangkaian pengikat antara satu sub-topik ke sub-topik yang lainnya. Saya selalu memenuhi jadwal konsultasi bersama minimal tiga kali setiap satu semester.  Di samping itu, saya rajin juga mengirim email kepada para penulis buku, peneliti yang tulisannya ada di jurnal-jurnal yang saya baca. Saya berkomunikasi dengan Lewis Goldberg dari University of Oregon. Beliau ini adalah pencetus pengonline-an Big Five Personality. Berhubung beliau sudah cukup lanjut usianya, maka diskusi Big Five ini disarankannya untuk saya lakukan dengan Dr. Johnson.. DI samping itu, saya juga secara intensif diskusi tatap muka maupun chat online dengan Icek Ajzen.. Lha yang satu ini bahkan menerima saya untuk belajar langsung dengan beliau… di University of Massachussetts, Amherst.

4. Secara substansi: tentukan topik yang informasinya jelas-jelas dapat dijangkau . Ada kan topik bagus yang tetapi informasi terlalu abu-abu..  Nah, menurut saya waktu itu, topik riset saya haruslah topik yang saya kenal sehingga mulainya gak dari NOL, topik itu berkaitan dengan hal-hal yang ada di sekitar kehidupan saya sehingga pengamatan dapat dilakukan secara berulang-ulang, dan sumber informasi pendukung topik tersebut dapat terjangkau. Berdasarkan pertimbangan itulah saya memutuskan memilih topik ‘penggunaan email di kalangan dosen’, kenapa? Di Fakultas Psikologi, saya mengemban tugas untuk mengelola Unit Pengembangan Informasi dan Teknologi Belajar (UPTB). Unit ini amat erat kaitannya dengan upaya fakultas untuk meningkatkan pemanfaatan TIK, termasuk email untuk knowledge sharing. Sehingga, tiap hari saya berurusan dengan perilaku manusia yang menggunakan email. Lha… praktis bukan???

5. Begitu sudah diputuskan memilih topik, maka saya harus mencintai topik ini.. Bak pepatah lama menyatakan: Tak kenal maka tak sayang… kemudian dilanjutkan.. sekali engkau memutuskan untuk memilih, pilihlah, kemudian cintailah dia… Bagaimana saya akan mencintai dan bangga dengan topik saya jika saya gak kenal dengan hal-hal yang berkaitan dengan topik tersebut?? Nah jika sudah memilih, jangan muda untuk berpaling.. ingat topik itu tidak dapat mencintai kita… kitalah yang harus (belajar) mencintainya. Ini adalah topik ku maka sayalah yang harus mengenalinya, tidak menunggu orang lain untuk membuat saya mencintainya.. tidak perlu menunggu orang lain untuk terbang bersama… bukankah ‘eagle never fly in group?’

6. Mengenali topik dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya hanya dapat saya lakukan melalui membaca. Cara mengenali yang praktis dan mempercepat proses yaitu dengan menjadikan topik ini kajian dalam setiap tugas perkuliahan. Saya mengikuti empat mata kuliah, semua kajian tugasnya mengenai topik disertasi saya.Berikut ini mata kuliah dan tugas yang saya kerjakan untuk penilaian.

  • Teori, Sistem, dan Model. Mata kuliah dasar yang sangat penting untuk mendudukkan landasan berpijak bagi mahasiswa program pendidikan Doktor. Mata kuliah ini diampu oleh Prof. Johana E. Prawitasari dan Prof Thomas Dicky Hastjarjo. Tugas akhir yang saya tulis adalah Model perilaku penggunaan TIK ‘NR-2007’. Karya ini merupakan karya pertama saya dengan menggunakan teori-teori yang akan digunakan untuk memprediksi perilaku.
  • Metode penelitian kuantitatif & SEM. Mata kuliah ini diampu oleh Dr. Sugiyanto dan Prof. Faturochman. Pak Giek mengajarkan metode-metode penelitian dan metode analisis dengan SPSS. Pak Fatur mengajarkan cara menggunakan AMOS untuk SEM. Dua tugas akhir yang saya siapakan untuk mata kuliah ini adalah ‘Meta-analisis hubungan ciri kepribadian Neuroticism, Extarversion, dan Openness to experience dengan pemilihan media komunikasi berbasis TIK‘ dan ‘CyberPsychology: Model perilaku penggunaan TIK’. Dalam meta analisis saya mengkaji riset-riset terdahulu mengenai TIK dan Ciri kepribadian. Sedangkan, dalam CyberPsychology saya mengkaji saling hubungan antar variabel mengikuti kaidah penelitian kuantitatif yang saya duga mempengaruhi seseorang menggunakan TIK. Perpaduan kedua tulisan ini menghasilkan pemahaman awal mengenai keterkaitan antara ciri kepribadian dengan penggunaan TIK. Simulasi analisis AMOS dengan menggunakan data pura-pura, semakin memantapkan pemahaman teoritik saya berkaitan dengan topik disertasi.
  • Studi mandiri mengenai Teori-teori Psikologi Sosial. DI sini saya kembali dibimbing oleh Prof Faturochman. Dalam kuliah mandiri ini, saya mendalami berbagai teori dasar mengenai sikap, intensi, dan perilaku. Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned Action), Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior), dan Model Pnerimaan Teknologi (Technology Acceptance Model) adalah kajian saya dalam kuliah mandiri pertama ini. Dua teori pertama dikemukakan oleh Icek Ajzen sedangkan teori terakhir dikemukakan oleh Frederick Davis. Secara proaktif saya berkomunikasi dengan keduanya, bahkan saya berkesempatan meguru langsung dengan Icek Ajzen di University of Massachussetts. Kenalnya dari email-emailan..
  • Studi mandiri kedua yaitu mengenai Teori-teori Kepribadian. Di sini saya dibimbing oleh Prof, A. Supratiknya. Beliau ini suda menulis dan menterjemahkan beberapa buku Psikologi Kepribadian. Nah berhubung saya akan memasukkan variabel Ciri Kepribadian ke dalam model teoretik yang akan saya uji maka sayapun mengkaji mengenai kepribadian ini.

Indah bukan???? Hahaha sambil menyelam minum air segar. Dengan komposisi tugas seperti itulah akhirnya setelah selesai fase perkuliahan sebagian tulisan disertasi saya selesai.. Lha tinggal nggandeng je..

7. Kemukakan rencana kepada orang lain. Saya selalu mengemukakan rencana saya kepada setiap orang yang menurut saya ‘aman’.. konsekuensinya?? saya jadi mengharuskan diri saya memenuhi bualan bualan yang terlanjut saya kemukakan.. Ini saya sebut dengan ‘Ali Method’ alias metode Mohammad Ali, ingat petinju itu khan??

8. Patuhilah janji-janji yang sudah dibuat. Lha yang membuat janji saya. lantas nunggu siapa yang akan menepati kalau bukan saya sendiri??

Dan.. dengan strategi tersebut finally saya dapat menyelesaikan semua dalam waktu dua tahun sepuluh bulan dengan IPK 4,0 alias Cum Laude..  Sayapun berpikir, lho ternyata bisa ya???

Ada yang mau menambahkan?? silahkan lhoo..

20 responses so far

20 Responses to “Akhirnya tugas itu selesai sudah”

  1. Guntur Yuliantoon 04 Feb 2010 at 12:04 am

    haduh salut, kok bisa ya bu…….musuh terbesar saya adalah malas dan ngantuk…..

  2. Moriscoon 04 Feb 2010 at 8:48 am

    Saya salut atas prestasi Ibu. Pecahkan rekor dan hilangkan immage bahwa sekolah di UGM selalu lama. Tentunya Ibu sangat bahgia berhasil meraih prestasi tersebut. Namun demikian perkenankan saya memberi sedikit masukan tentang kebahagiaan. Apabila kebahagiaan itu dikaitkan dengan suatu prestasi, maka sepanjang hidup kita, kita hanya mengalami kebahagiaan pada beberapa titik saja.

    Setelah suatu prestasi dicapai, kita akan bahgia sesaat. Setelah itu kita akan punya keinginan lain, yang untuk meraihnya tentunya perlu pengorbanan. ……………. dan kita mulai berjuang …………. perjuangan selalu terasa kurang nyaman.

    Untuk menrasakan kebahagiaan yang menerus (harapannya), maka saya mengatur mindset saya sbb. Melakukan pekerjaan apapun (yang baik) adalah ibadah, dengan demikian kalau kita telah menunaikan suatu kerja ……… kita akan puas. Dengan cara ini kebahagiaan akan terasa menerus. Ibaratnya kurva, maka seluruh garis kurva kita bahagia. Memang dengan cara ini terkadang kita kurang melihat tantangan, sehingga prestasi tidak akan setinggi kalau kebahagiaan digantungkan pada titik-titik prestasi.

    Moho maaf sekiranya komentar saya kurang sesuai dengan pandangan hidup Ibu.

    Morisco

  3. Neilaon 04 Feb 2010 at 11:00 am

    Pak Guntur dan Pak Morisco Ysh,
    Terima kasih atas masukannya. Saya sangat setuju dengan paradigma yang dikemukakan Pak Morisco tersebut. Guyonan Bapak yang mengandung ajaran mengenai kehidupan yang sering dituliskan di milist dosenUGM itu selalu menjadi sumber inspirasi saya dalam belajar dan bekerja.

  4. Rosalia Arion 04 Mar 2010 at 9:19 pm

    Bu Neila, Saya salut setelah hampir 3tahun kuliah di Psikologi UGM, baru kali ini menemukan seorang dosen yang aktif menulis di blog. Tulisan Ibu sangat inspiratif dan membangkitkan semangat. Saya suka kalimat ibu yg ini “Emosi positif dapat memfasilitasi setiap manusia untuk mengembangkan ilmunya.”
    Semoga saya juga bisa seperti Ibu, dalam semangat pencapaian studi.
    Salam hangat, Rosalia (mahasiswa S1)

  5. Neilaon 15 Mar 2010 at 9:26 am

    hallo Rosalia Ari, thank you for the comment. Selamat belajar ya..

  6. Yussyon 22 Mar 2010 at 11:26 pm

    Dear Ibu Neila,

    Sharing pengalaman ibu di blog ini sangat menarik dan sangat inspiratif. Menunjukkan bahwa jika kita punya tekad dan komitmen yang kuat, maka kita pasti akan mampu mencapai apa yang kita inginkan. Senang rasanya bisa bertemu dengan dosen yang memiliki wawasan dan pengalaman yang luas seperti Ibu Nei dan Prof.Ancok.

    Salam
    Yussy

  7. Neilaon 28 Mar 2010 at 10:16 am

    Thank you Mbak Yussy.. senang sekali juga bisa mendapat mahasiswa penuh motivasi di kelas AP Jakarta ini.

  8. ikaon 04 May 2010 at 7:43 am

    Selamat Ibu….

    It’s so inspiratif

    Membuktikan bahwa apapun akan bisa terjadi jika kita bersungguh2, diniati baik, kerja keras, beautiful mind….. Betapa membanggakan bisa menjadi bagian terkecil dri Ibu. Moga2 kami ketularan ya bu…

    Selamat Ibu, we proud to you Mam…

    Thanks & regards
    Ika

  9. OrdidErenoron 28 May 2010 at 5:56 pm

    Just want to say what a great blog you got here!
    I’ve been around for quite a lot of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

    Thumbs up, and keep it going!

    Cheers
    Christian, iwspo.net

  10. kokoon 06 Jun 2010 at 9:22 pm

    Dik kamu memang hebat,saya salut,selamat ya dan sukses selalu

  11. Neilaon 07 Jun 2010 at 11:44 am

    Ika, Christian, and mas Koko
    Thank you so much for your nice comments..

  12. tikaon 11 Jul 2010 at 11:20 pm

    alhamdulillah bu cantik…

    selamat yaaaa….

    setelah baca jadi nyesel waktu itu ga datang 🙁

  13. tikaon 11 Jul 2010 at 11:23 pm

    oh ya ada yg ketinggalan….

    ibu selalu hebat 😀

  14. Neilaon 29 Jul 2010 at 2:35 am

    hihih tika tiki yang juga selalu hebat.. kangen euy kapan pulang?

  15. trisusion 10 Aug 2010 at 11:11 pm

    bermula dari mendapatkan artikel ibu, membuat saya penasaran dan terus menerus mencari tahu tentang ibu beserta ilmu-llmu penyerta, sampai terakhir hari ini saya mendapatkan penyemangat untuk menyelesaikan studi saya yang saya ambil ketika umur sudah tidak muda lagi. Tidak sepintar dan segesit ibu, tapi semangat sontak menyeruak dalam hati saya untuk mengambil inti tulisan sebagai “support online” untuk saya. terima kasih bu

  16. Neilaon 11 Aug 2010 at 8:15 am

    Ibu Trisusi,
    Semoga sukses ya.. Sehat selalu biar bisa terus berkarya..

  17. Taufiq Hidayaton 12 Jun 2013 at 6:31 am

    Terimakasih bu, sudah menginspirasi saya untuk bisa berbuat nyata yang terbaik. oya bu…saya tertarik sekali dengan dunia cyber psikologi/psikologi teknologi. kebetulan sy mahasiswa psikologi salah satu universitas di yogyakarta. Kapan-kapan kepingin berdiskusi dengan Ibu. Mohon ijin saya menggunakan skala personal work values anda untuk diadaptasi dalam penelitian eksperimen saya dalam menilai kecenderungan work values seseorang. Saya lihat hasilnya melahirkan pekerja yang militan serta loyal bagi organisasi. Saya tahun lalu berkesempatan melihat hasil polesan ibu di Bogor pada program GREST 2012 yang pertama setelah terjun pada site/field terlihat hasilnya yang nyata. Saya sering berinteraksi dengan mereka dan terlihat sikap-sikap pekerja yang baik, penuh motivasi, loyal, suka tantangan, saling membantu dalam kerja tim. Sukses buat Ibu Neila Ramdhani. salam-salam dari Taufiq Hidayat.

  18. Neilaon 28 Jun 2013 at 11:31 am

    Mas Taufiq,
    senang sekali ada feedback seperti ini. Teman-teman GREST itu memang hebat kok. Kita-kita kan sekedar ikutan ‘menggosok’ saja. Ibarat permata, semakin digosok semakin bersinar.. Monggo jika sempat mamapir di kampus bisalah kita diskusi.. Semoga sukses..

  19. octavianion 23 Sep 2013 at 10:40 pm

    Bu Naila,

    terima kasih untuk tulisannya yang sangat menginsipirasi saya untuk terus memelihara niat dan motivasi untuk terus belajar-baca-nulis dalam menyelesaikan disertasi saya. Semangat saya jadi terbakar lagi setelah membaca tulisan ibu. Mohon maaf bu, saya juga telah mengirimkan e-mail ke neila_psi@ugm.ac.id untuk menanyakan informasi tentang adaptasi Big Five Personality Factors.

    Terima kasih bu Neila.

  20. Neilaon 25 Sep 2013 at 11:15 am

    Octaviani,
    Thank atas pesannya.. Email ? Sudahkah saya respon?? kok jadi lupa ya saya?? atau baru?

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply