Sep 13 2009

Feedback: proses yang dibutuhkan untuk pengembangan diri

Published by at 2:31 am under Life Skills,Organizational Behavior

Minggu Sep, 13 2009 saya nungguin mahasiswa MM kelas APEK 15-A presentasi. Topiknya tentang Improving Job Performance. Sambil nungguin presentasi yang makin lama makin menarik, saya jadi inget tentang salah satu teknik untuk meningkatkan job performance yang banyak sekali membuat beberapa pihak salah terima. Krietner & Kinicki (2008) mengutip hasil survey yang dilakukan Watson Wyatt Worldwide menuliskan bahwa:

‘..  43% of employees feel they don’t get enough guidance to improve their performance’

Feedback diterjemahkan dengan umpan balik. Dinamakan umpan balik artinya feedback ini sebagaimana layaknya umpan berfungsi untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Ditambah menjadi umpan balik dimaksudkan agar orang yang melakukan tugasnya tersebut mendapatkan sesuatu yang dia harapkan. Dalam konteks pengembangan diri, umpan balik ini diberikan kepada seseorang yang melakukan tugasnya agar ia tahu bahwa tugas tersebut sudah dilaksanakan dengan tepat atau kurang tepat.

Tepat atau tidak tepat? bukankah ini bersifat subjektif? Tentu saja umpanbalik dapat objektif tidak selalu subjektif. Umpanbalik yang objektif sering juga disebut umpanbalik yang konstruktif. Umpanbalik yang subjektif disebut juga umpanbalik yang destruktif.

Berikutnya saya coba buat contoh umpanbalik yang destruktif dan juga bagaimana mengemukakan umpanbalik yang konstruktif. Setelah itu ada juga aturan main dari pemberian umpanbalik ini. Dan terakhir, apakah ada cara efektif menerima umpanbalik?

6 responses so far

6 Responses to “Feedback: proses yang dibutuhkan untuk pengembangan diri”

  1. marikoon 01 Oct 2009 at 8:39 am

    Bu Neila, saya Mariko, mahasiswi s1 psikologi angkt. 2006. pas banget bu saya sedang bikin skripsi tentang feedback. Jadi ingin banyak tahu ttg feedback sangat bu.

  2. athoillahon 04 Jan 2010 at 4:39 am

    terimakasih atas penjelasannya buat nambahin ujian semester saya
    skali lgi makasih

  3. nuningon 17 Jan 2010 at 8:56 pm

    bu Neyla, bagaimana dengan feedback opinion, apakah sama saja dengan feedback yang Anda jelaskan tsb. trima kasih

  4. reraon 13 Apr 2010 at 6:30 am

    terimakasih atas informasi yang ibu berikan..

  5. Diana Ratrion 06 Mar 2013 at 9:52 pm

    Sepertin apa itu Bu Neila bentuknya feedback? lalu bagaimana kita meminta feedback lagi apabila feedback yang diberikan sebelumnya dirasa masih kurang?atau belum sesuai dengan yang kita inginkan? terima kasih
    Diana Ratri
    Mapro PIO angk IX

  6. Neilaon 07 Mar 2013 at 12:31 pm

    waduh..
    kok posting ini keselip ya??

    Saya baru saja membukanya, gak tahu juga kenapa bisa begini. Untuk pegnomen sebelumnya nampaknya sudah terlalu lama sehingga tidak keburu direspon ya. Untuk Diana Ratri, feedback konstruktif itu selalu diawali dengan data dan tidak menyatakan hal-hal yang sifatnya evaluatif sehingga penerima feedback dapat mengetahui bagian mana yang dimaksudkan oleh pemberi feedback. Misalnya: Tiga hari ini saya ketahui anda datang kekantor terlambat lebih dari 30 menit. Feedback ini lebih baik dan bersifat konstruktif daripada mengatakan : Anda itu termasuk karyawan yang tidak peduli dengan aturan kantor..

    Nah dapat melihat kan bedanya.. Toh keryawabn itu faktanya terlambat 30 menit bukan berarti dia tidak peduli, kan??

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply