Aug 23 2009

FB: rumah dan teman yang menggairahkan

Published by at 1:35 am under Life Skills

‘Fesbuk di blokir di kampus’
Itulah kalimat singkat yang saya dengar dari seorang mahasiswa. Dia melontarkan kalimat tersebut dengan nada setengah bertanya atau lebih tepat mempertanyakan dan setengah kecewa.

Fesbuk (baca facebook) adalah jejaring sosial maya yang diciptakan untuk menghubungkan antara satu orang dengan orang lainnya. Awalnya fesbuk ini disediakan untuk menghubungkan antara mahasiswa diarea kampus Harvard, Boston dan sekitarnya. Fesbuk diciptakan oleh Mark Zuckerberg bersama-sama dengan teman-temannya di computer science, Harvard University dan teman serumahnya Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes. Setelah berhasil menghubungkan mahasiswa di kawasan Boston, fesbuk ini menyebar ke kalangan yang lebih luas yaitu teman-teman SLTA. ‘Mendekatkan yang jauh’ itulah nampaknya yang dialami pengguna fesbuk ini.

Teman sekolah, sanak keluarga, dan berbagai kalangan yang mempunyai alur asal yang sama seakan terkait ke dalam jejaring sosial yang menakjubkan. Senang karena hubungan yang sempat terputus karena alasan geografis dan waktu menjadi tersambung kembali. Terkesan karena ada bagian yang kosong dalam jejaring itu seakan terkait sempurna. Eforia mendapatkan kembali sensasi kebersamaan ini memberikan kepuasan melalui kotak kecil yang berjudul monitor. Berbagai kesan, pesan, obrolan, diskusi, undangan mengalir dengan derasnya bak tergayutnya ikan teri ke dalam jaring para nelayan ini menimbulkan keinginan untuk lagi dan lagi.

‘Reinforcement social,’ inilah yang diperoleh pengguna fesbuk. Sekali terkait ke dalam jejaring dan memperoleh kenyamanan berhubungan dengan mudah membuat penggunanya merasakan kenikmatan. Reiforcement sosial membuat pengguna merasa ingin mengulangi dengan mengkaitkan dirinya dengan jejaring ini. Tegur sapa kadang seakan terasa nyata membuat pembacanya seakan berselancar di laut lepas. Bebas berteriak karena tidak ada ikan yang protes karena kerasnya teriakan seorang penyelancar.. Bebas pula menuliskan ekspresi karena tidak ada monitor yang cemberut membaca ekspresi penulisnya..

Salah satu pengguna fesbuk (sebut saja Lany) menyatakan ‘enak sih bisa katarsis setiap saat’, ketika saya tanyakan apa alasan ia menggunakan fesbuk. Ia melanjutkan lagi ‘dengan menuliskan status, saya jadi dapat mengumumkan ke orang-orang bagaimana perasaan saya saat itu’. Rasa nyaman yang diperoleh oleh pengguna fesbuk dalam mengungkapkan perasaannya ini akan diulangi manakali perasaan itu mendapat komentar dari user yang lain. Komentar ini dapat berfungsi sebagai positive reinforcement sehingga pada saat yang berikutnya Lany akan mengungkapkan perasaannya lagi.

Bagaimana dengan anda? Apa sebetulnya yang membuat anda menggunakan fesbuk? Sharing dong…

2 responses so far

2 Responses to “FB: rumah dan teman yang menggairahkan”

  1. Di2ton 25 Aug 2009 at 11:46 am

    Facebook ya…
    Database orang2 yang kita kenal, yang bisa diakses setiap saat dengan mudah karena menyimpannya di luar memori kita. Yang kita ingat setiap kita akses adalah dua point clues (username n password). Trend dan popularitas juga memberi andil dalam kemudahan membentuk jaringan karena banyak orang menjadi tahu bagaimana mencari orang2. Kalau nggak di friendster, pasti di facebook. Public spot on internet istilahnya. Apalagi, dengan adanya jaringan internet, memberi ladang baru untuk kegiatan. Upload, download, surfing, searching, browsing, dsbg. Kalau lagi download ukuran besar, nunggu lama n nggak banyak yang dilakukan lagi, ya..disambi online, melihat kabar orang lain. Kegiatan jalan, sosialisasi juga tetep jalan. Seperti di lingkungan kerja, mengerjakan tugas bersama orang lain, kadang saling bercanda, cukup untuk merefresh dalam menjalani pekerjaan sehari2.
    Selain itu, kalau lihat di forum diskusi psikologi, ada bahasan mengenai pengaruh menulis pengalaman emosional terhadap simptom2 depresi, mengupdate foto maupun tulisan, leaving a black box, hoping someone will find it. Dengan menuliskan pengalaman maupun ide2 kognitif, membebaskan pikiran dari unfinished business, berupa mungkin badai yang timbul dalam pikiran karena sedang menghadapi suatu konflik dalam diri, yang kadang timbul di sela2 kegiatan sehingga mengganggu konsentrasi dalam melakukan kegiatan itu. Write it down, dan reconsider later, ketika ada waktu luang. Atau, sesuatu yang tidak dapat diungkapkan secara langsung (lisan), dapat dituangkan melalui tulisan. Membacanya kembali, mengetahui kekeliruan yang ada, restrukturisasi pemikiran, dan perubahan perilaku. Pengalaman pribadi, ada perubahan dalam keterbukaan, pengungkapan diri, meskipun beberapa lapis kesadaran terluar…

  2. reraon 13 Apr 2010 at 6:31 am

    FB semakin menggila, jangan sampai seperti di China saja..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply