Jun 29 2009

A Mathematical model to predict behavior

Published by at 11:08 am under TPB

Semoga judulnya menarik untuk dibaca dan dipelajari.

Tulisan ini sebetulnya adalah bagian dari upaya saya memahami lebih lanjut mengenai teori perilaku terencana alis Theory of Planned Behavior.Ingat khan, itu lho yang dikemukakan oleh Icek Ajzen, seorang theorist dari University of Massachussetts.

Berikut penjelasan singkat dariTPB yang dapat digunakan untuk memprediksi apakah seseorang akan melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku. TPB ini menggunakan tiga konstruk sebagai anteseden dari intensi, yaitu sikap kita terhadap perilaku tersebut, norma subjektif, dan perasaan kita mengenai kemampuan mengontrol segala sesuatu yang mempengaruhi apabila hendak melakukan perilaku tersebut. Sehingga konstruk yang digunakan dalam menyusun aitem-aitem berbasis TPB selayaknya diperoleh dari studi pendahuluan.

sumber: http://people.umass.edu/aizen

sumber: http://people.umass.edu/aizen

1. Sikap.
Ajzen (2005) mengemukakan bahwa sikap terhadap perilaku ini ditentukan oleh keyakinan yang diperoleh mengenai konsekuensi dari suatu perilaku atau disebut juga behavioral beliefs. Belief berkaitan dengan penilaian-penilaian subjektif seseorang terhadap dunia sekitarnya, pemahaman mengenai diri dan juga  lingkungannya. Bagaimana cara mengetahui belief ini? Nah ternyata dalam teorinya TPB ini, Ajzen cerita bahwa belief dapat diungkap dengan cara menghubungkan suatu perilaku yang akan kita prediksi dengan berbagai manfaat atau kerugian yang mungkin diperoleh apabila kita melakukan atau tidak melakukan perilaku itu. Keyakinan ini dapat memperkuat sikap terhadap perilaku itu apabila berdasarkan evaluasi, diperoleh data bahwa perilaku itu dapat memberikan keuntungan bagi kita pelakunya.

Ilustrasi berikut dapat memperjelas keterkaitan keyakinan dan evaluasi dalam membentuk sikap terhadap perilaku tertentu. Misalnya, sikap terhadap penggunaan email untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan (A). Salah satu manfaat yang saya yakini setiap kali menggunakan email adalah dapat mengkomunikasikan dengan cepat. Pernyataan bahwa penggunaan email dapat membantu saya untuk berkomunikasi dengan cepat adalah sesuatu yang netral dan bersifat objektif, bukan?. Nah, seberapa kuat keyakinan seseorang mengenai penggunaan email (b) dalam mempercepat (i) komunikasi yang berkaitan dengan pekerjaannya sehari-hari ini baru bersifat subjektif. Berdasarkan evaluasi (e) yang diperoleh selama ini, mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dengan cepat (i) dapat membuat seseorang merasa puas dan senang. Perasaan senang dan puas ini merupakan perasaan subjektif yang bersifat individual yang sangat spesifik, dapat berbeda dengan yang dirasakan orang lain karena sudah ada pengaruh harapan, dalam hal ini pekerjaan yang berkualitas maupun cepat dan nilai-nilai yang dianut seseorang. Apabila karena sesuatu hal seorang tidak mengharapkan dapat mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya dengan cepat maka evaluasi yang diberikan mungkin rendah.

Interaksi antara kekuatan keyakinan mengenai meningkatnya kecepatan komunikasi melalui email dengan rasa puas karena komunikasi yang dilakukan menjadi lebih cepat inilah yang menentukan sikap individu berupa suka atau tidak suka menggunakan email dalam bekerja. Contoh manfaat penggunaan email yang lain misalnya adalah mudah didokumentasi (b1), dapat dilakukan di mana saja (b2), mudah digunakan (b3) dan lain-lain. Fishbein maupun Ajzen kemudian merumuskan ke dalam model matematika, yaitu:sikap = jumlah perkalian dari belief dan evaluasi. Waduuhhh mau nulis pake rumus matematika tapi kok saya gak tahu caranya untuk menginsert simbol matematika yaaahh.

OK deh gak masalah untuk sementara. Sebagaimana layaknya variabel dalam penelitian umumnya maka keyakinan mengenai perilaku ini perlu didefinisikan secara operasional terlebih dahulu. Berhubung keyakinan ini bersifat unik individual dan akan digunakan untuk menyusun pertanyaan dalam alat pengukur berbasis TPB maka keyakinan individu mengenai perilaku yang akan diprediksi dapat diperoleh melalui studi pendahuluan (coba deh cek posting saya berikutnya).

2.    Norma Subjektif atau Subjective Norm.
Norma subjektif adalah perasaan atau dugaan-dugaan seseorang terhadap harapan-harapan dari orang-orang yang ada di dalam kehidupannya mengenai dilakukan atau tidak dilakukannya perilaku tertentu. Nah karena perasaan ini sifatnya subjektif maka dimensi ini disebut norma subjektif (subjective norm). Sebagaimana sikap terhadap perilaku, norma subjektif juga dipengaruhi oleh keyakinan. Bedanya adalah apabila sikap terhadap perilaku merupakan fungsi dari keyakinan terhadap perilaku yang akan dilakukan (behavioral belief) maka norma subjektif adalah fungsi dari keyakinan seseorzng ini yang diperoleh atas pandangan orang-orang lain yang berhubungan dengannya (normative belief).

Di dalam kehidupan sehari-hari, hubungan yang dijalin seseorang dapat dikategorikan ke dalam hubungan yang bersifat vertikal dan horizontal. Hubungan vertikal adalah hubungan antara atasan–bawahan; guru–murid; profesor–mahasiswa, atau orang tua– anak. Hubungan horizontal terjadi antara seseorang dengan teman-teman atau orang lain yang bersifat selevel. Pola hubungan ini dapat menjadi sumber perbedaan persepsi. Pada hubungan yang bersifat vertikal, harapan dapat dipersepsi sebagai tuntutan (injunctive) sehingga pembentukan norma subjektif akan diwarnai oleh adanya motivasi untuk patuh terhadap tuntutan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku. Sebaliknya, pada hubungan yang bersifat horizontal harapan terbentuk secara deskriptif sehingga konsekwensinya adalah keinginan untuk meniru atau mengikuti (identifikasi) perilaku orang lain di sekitarnya.

Ilustrasi berikut dapat digunakan untuk memperjelas norma subjektif. Misalnya orang-orang yang dipersepsi mengharapkan atau tidak mengharapkan menggunakan email (SN). Pendapat bahwa seorang atasan (i) adalah orang yang menginginkan bawahannya menggunakan email karena dapat mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan lebih cepat adalah betul. Keyakinan normatif adalah persepsi seseorang mengenai seberapa kuat keinginan (n) atasan (i) ini agar bawahannya menggunakan email ini. Norma subjektif mengenai penggunaan email akan semakin kuat apabila keyakinan normatif tersebut berinteraksi dengan motivasi orang tersebut untuk memenuhi keinginan (m) atasan (i) dalam menggunakan email ini.

Bagaimana apabila hubungan tersebut bersifat horizonal? Ilustrasi lain mengenai norma subjektif ini adalah pendapat bahwa rekan kerja yang menggunakan email dijadikan model untuk ditiru. Seberapa kuat kesan yang muncul pada mengenai kecepatan (i) komunikasi yang dilakukan oleh rekan kerja (n) adalah keyakinan normatif yang bersifat deskriptif. Keinginan seseorang untuk mengidentifikasi (m) dirinya dengan rekan kerja (i) dalam menggunakan email untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Interaksi antara keyakinan normatif deskriptif dengan keinginan mengidentifikasi adalah contoh lain dari norma subjektif.

Contoh orang lain yang berpengaruh secara vertikal ini adalah atasan (c1), orang tua (c2), supervisor (c3). Sedangkan orang lain yang mumpunyai hubungan horizontal adalah rekan kerja (c4), tokoh di film iklan (c5), dan lain-lain. Rumusan matematika mengenai norma subjektif yang dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen (1975) dan Ajzen (2005) digunakan untuk mengungkap norma subjektif sebagai hasil perkalian antara keyakinan-keyakinan normatif dengan motivasi untuk memenuhi harapan ini.

Norma subjektif mengenai suatu perilaku akan tinggi apabila keyakinan normatif maupun motivasi untuk memenuhi harapan orang-orang yang berhubungan secara vertikal ini sama-sama tinggi. Untuk hubungan yang bersifat horizontal, norma subjektif akan tinggi apabila keyakinan individu bahwa rekan kerja sangat diuntungkan karena menggunakan email untuk berkomunikasi dan keinginan mengidentifikasi perilaku rekan kerja dalam menggunakan email tersebut sangat kuat.

3. Persepsi kontol perilaku atau perceived behavioral control
Persepsi kontrol perilaku atau disebut saja kontrol perilaku adalah perasaan seseorang mengenai mudah atau sulitnya mewujudkan suatu perilaku tertentu (Ajzen, 2005). Untuk menjelaskan mengenai perasaan yang berkaitan dengan kontrol perilaku ini, Ajzen membedakannya dengan locus of control atau pusat kendali yang dikemukakan oleh Rotter’s. Pusat kendali berkaitan dengan keyakinan seseorang yang relatif stabil dalam segala situasi. Persepsi kontrol perilaku dapat berubah tergantung situasi dan jenis perilaku yang akan dilakukan. Pusat kendali berkaitan dengan keyakinan individu bahwa keberhasilannya melakukan segala sesuatu tergantung pada usahanya sendiri (Rotter’s, 1966). Jika keyakinan ini berkaitan dengan pencapaian yang spesifik, misalnya keyakinan dapat menguasai keterampilan menggunakan komputer dengan baik disebut kontrol perilaku (perceived behavioral control).

Konsep lain yang agak dekat maksudnya dengan persepsi kontrol perilaku adalah self efficacy atau efikasi diri yang dikemukakan Bandura (dalam Ajzen, 2005). Efikasi diri adalah keyakinan individu untuk berhasil menguasai ketrampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Konsep persepsi kontrol perilaku yang dikemukakan oleh Ajzen ini banyak sekali dipengaruhi oleh riset yang dilakukan oleh Bandura mengenai efikasi diri.

Dalam TPB, Ajzen (2005) mengemukakan bahwa persepsi kontrol ditentukan oleh keyakinan individu mengenai ketersediaan sumberdaya berupa peralatan, kompatibelitas, kompetensi, dan kesempatan (control belief strength) yang mendukung atau menghambat perilaku yang akan diprediksi dan besarnya peran sumber daya tersebut (power of control factor) dalam mewujudkan perilaku tersebut. Semakin kuat keyakinan terhadap tersedianya sumberdaya dan kesempatan yang dimiliki individu berkaitan dengan perilaku tertentu dan semakin besar peranan sumberdaya tersebut maka semakin kuat persepsi kontrol individu terhadap perilaku tersebut.

Individu yang mempunyai persepsi kontrol tinggi akan terus terdorong dan berusaha untuk berhasil karena ia yakin dengan sumberdaya dan kesempatan yang ada, kesulitan yang dihadapinya dapat diatasi. Misalnya jika ada dua orang yang sama-sama ingin belajar menggunakan komputer, walaupun keduanya mencoba dan berlatih, individu yang mempunyai kontrol perilaku tinggi tahu mengenai tindakan yang perlu diambilnya pada saat mengalami kesulitan. Ia tahu mengenai beberapa hal yang perlu dipersiapkan, kepada siapa ia meminta bantuan apabila mengalami kesulitan sehingga individu ini akan terus berusaha lebih keras. Itulah sebabnya Ajzen (2005) mengemukakan bahwa kontrol perilaku ini bersama dengan intensi erat hubungannya dengan dilakukan atau tidak dilakukannya sebuah perilaku.

Ilustrasi yang dapat digunakan untuk memperjelas pemahaman mengenai kontrol perilaku ini adalah perilaku penggunaan email untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan (PBC). Salah satu faktor yang memungkinkan penggunaan email dalam bekerja adalah tersedianya alat yang memungkinkan menggunakan email, misalnya computer dengan koneksi internet. Individu yang memiliki komputer yang terhubung dengan internet (ci) setiap saat merasa yakin dapat menggunakan email akan memiliki keyakinan kontrol yang tinggi. Kepemilikan komputer yang terhubung dengan internet ini dipersepsi individu sebagai syarat utama (pi) untuk dapat mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan melalui email.

Faktor lain yang dapat dijadikan contoh mempengaruhi keyakinan individu dalam menggunakan email misalnya kompetensi dalam mengoperasikan software email (c1), ketersediaan waktu (c2), dan lain-lain. Ajzen mengemukakan rumus matematika untuk menjelaskan kontrol perilaku yang dipersepsi ini adalah sebagai berikut:
Dari rumusan tersebut di atas, seorang individu dapat menggunakan email bila memiliki komputer pribadi dengan koneksi internet (c1), dapat mengoperasikan sofware email (c2), ada cukup waktu untuk menulis email (c3), dan tahu kemana atau kepada siapa meminta bantuan pada saat mengalami gangguan dalam menggunakan email (c4) akan memiliki keyakinan kontrol (control belief) yang tinggi. Keyakinan individu bahwa memiliki kompetensi yang baik disertai dengan tersedia fasilitas meningkatkan kontrol perilaku. Ajzen (2005) mengatakan bahwa pada kondisi kontrol perilaku kuat dan meyakinkan sehingga individu mempunyai informasi yang jelas mengenai perilaku dimaksud, kemudian ia dapat mencoba dan berlatih sehingga semakin yakin akan kemampuannya dalam bidang tersebut (self efficacy), maka kontrol perilaku ini memperkuat motivasi sehingga secara langsung menentukan perilaku. Sebaliknya, apabila kontrol perilaku ini lemah sehingga individu tidak mendapat cukup kesempatan mencoba dan tidak tahu kepada siapa ia dapat memperoleh bantuan pada saat mengalami hambatan, maka keyakinan kontrol tidak secara langsung mempengaruhi perilaku tetapi hanya memperkuat intensi saja.

7 responses so far

7 Responses to “A Mathematical model to predict behavior”

  1. Di2ton 25 Aug 2009 at 12:28 pm

    Pertama kali lihat judulnya, saya kira NUMB3RS
    Tolman juga pernah menyatakan rumus:
    B = f(S, A)
    B : Behavior
    S : Situation
    A : Antacedent, dalam hal ini intervening variable cognitive
    Jadi, perilaku itu merupakan faktor dari Situasi, berupa stress, need yang perlu untuk dipenuhi dan Kognisi, berupa pengalaman, pengetahuan.
    Mengapa orang menggunakan email (B)?
    (S)
    – Kebutuhan untuk transfer informasi secara cepat
    – Orang2 yang saling berkomunikasi tidak selalu dalam lingkup geografis yang sama
    – Aku punya email, dia punya email, kesempatan kenapa tidak digunakan.
    (A)
    – Kecenderungan untuk menulis dengan mengetik daripada dengan pena
    – Belief yang terkonfirmasi bahwa informasi lebih cepat sampai
    – Tahu cara mengirim email

  2. aswardion 28 Oct 2009 at 9:56 pm

    ass. ibuk neila… semoga sht2…. tertarik membaca tulisan di atas melalui blog… bolehkah saya mendapatkan soft copy tulisan tersebut?….
    Jika ibuk tidak keberatan, boleh saya diberitahu untuk akses ke Eric buk..

  3. reraon 13 Apr 2010 at 6:34 am

    ibu, tulisan anda saya kopi untuk bahan artikel, sekalian saya menuliskan bahwa penulisnya adalah anda, terimakasih..

  4. trisusion 10 Aug 2010 at 10:47 pm

    Ibu. TPB ini lebih memperjelas pemahaman saya yang sedang mempelajari TAM. Terima kasih

  5. fanion 13 Apr 2012 at 3:32 am

    ibu. penjelasa ini mudah di pahami. terimakasih
    yg ingin saya tanyakan jadi perilaku itu sendiri mnurut TPB apa?

  6. seption 28 Aug 2013 at 8:57 am

    ak mau tanya dong mba. ini bahan nya dari mana ya? saya bisa baca dibuku apa judulnya karangan sspa dan spa penerbitnya? thun brpa diterbitkan nya ya mba?

  7. Neilaon 10 Sep 2013 at 9:40 am

    itu tulisan saya setelah membaca berbagai artikel dan buku tulisan Icek Ajzen dan buku serta artikel lain mengenai TPB. Jika ingin memahami lebih lanjut silahkan ke http://people.umass.edu/aizen/ ya .. semoga semakin memahami…

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply