Oct 29 2011

Keterlibatan bukan Kepatuhan

Published by Neila under Insight

Jum’at ini adalah hari terakhir pelatihan guru TQI batch 10. kali ini dua puluh tujuh guru Bahasa Indonesia SMP, masih seputaran DIY dan Klaten. Walaupun sepuluh hari Bapak dan Ibu guru ini mengikuti sesi demi sesi pelatihan yang selalu mulai pukul delapan pagi hingga sembilan malam (tentunya dengan selingan istirahat) tidak nampak wajah letih di wajah mereka. Semangat!!! kadang-kadang “luar Biasa”…atau “hebat”… itulah teriakan yel-yel yang selalu mereka kumandangkan..

“Bangga”, itulah kata yang selalu menyeruak di sekujur tubuhku setiap kali hadir di acara seperti ini. Yah… memang menyeruak adalah kata yang paling tepat untuk melukiskan perasaanku saat ini.. Rasa bangga itu menyebar ke seluruh tubuh dan seakan mendesak pori-pori walau rasa itu tetap iada di dalam tubuh. Andai saja ada alat pengukur ketebalan kulit, pastilah ada penambahan ketebalan terutama di bagian kulit wajahku…. Dulu aku sering menyatakan “merinding” untuk rasa yang mirip begini ini, ya memang mungkin sama tetapi kali ini aku lebih suka melukiskannya seperti ini. Setiap kali selalu ada saja keistimewaannya. Pada waktu memulai program ini sekitar tiga tahun lalu, aku pikir angkatan pertama adalah angkatan yang istimewa. Mereka hebat, adaptif, dan punya keinginan maju yang kuat. Ketika aku dan tim TQI menyelenggarakan angkatan kedua ternyata merekapun hebat, mereka mampu membuka diri dan punya rasa ingin tahu yang amat besar. Selanjutnya angkatan ketiga… keempat.. dan akhirnya di hadapanku saat ini terdapat dua puluh tujuh peserta angkatan sepuluh.. mereka lagi-lagi memberikan kejutan, cemerlang….bak berlian yang jarang digosok… baru digosok sepuluh hari sudah mulai berkilau cahayanya.

Bapak dan Ibu guru itu hebat..
Mengapa kualitas pendidikan masih saja di’teriaki’
Mengapa selama ini mereka seakan diabaikan..
Bapak dan Ibu guru kita ini luar biasa
Siapa bilang diabaikan?
Siapa yang mengabaikan siapa ?
Siapa?

Rasa ingin tahu seringkali mendesak lidah untuk bertanya. Apa sebetulnya yang dirasakan oleh mereka terutama selama berproses bersama dalam program Teacher Quality Improvement ini. Satu, dua, tiga, dan empat paling tidak dari sekitar dua puluh tujuh peserta itu yang mengangkat tangan diperkuat dengan menjulurkan jari telunjuk pertanda ingin diberi kesempatan berbicara.

“Saya sudah mengajar lebih dari dua puluh delapan tahun. Selama bertugas, saya (mungkin) baru satu atau mungkin dua kali saja mendapat kesempatan mengikuti pelatihan. Pelatihan yang diberikan Titian ini memang berbeda”, ini ungkapan ibu berkulit kuning langsat yang belakangan aku ingat namanya Bu Asih yang secara jujur menyampaikan isi hatinya. “Berbeda?”, penasaran aku dibuatnya …apanya yang berbeda? Seakan tidak mau terjebak dalam tebak-tebakan mengenai sesuatu yang berbeda ini, aku segera saja menawarkan kepada peserta lain dengan harapan ada yang akan menyampaikan sesuatu yang dapat setidaknya memenuhi rasa penasaranku ini.

“Saya sudah bekerja sebagai guru selama dua puluh tahun. saya sudah sering sekali diundang mengikuti berbagai pelatihan”, Bapak berkumis ini menyampaikan kalimat kalimatnya dengan perlahan seakan ingin memberikan kesan bahwa pendapatnya keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Belakangan aku tahu ternyata Bapak berkumis ini adalah seorang guru Mualimin, setara dengan sekolah menengah pertama. Dengan masih tetap mempertahankan suara lembut tapi tegas, iapun melanjutkan  ”Tapi….selama ini saya hanya dididik D3 yaitu Datang, Duduk, dan Diam. Kali ini, di dalam pelatihan Titian ini saya menemukan hal yang luar biasa. Semua peserta terlibat di dalam semua proses sehingga yang muncul adalah “kesadaran”… Saya sadar bahwa masih banyak yang harus saya perbaiki di dalam proses pembelajaran”, Pak guru berkumis bernama Pak Priyono,  menimpali.

Hah… aku kembali mendapati kata ini..Keterlibatan… inilah nampaknya salah satu kata kunci yang penting di dalam proses pembelajaran. Dengan melibatkan peserta didik atau peserta training di dalam proses, sasaran pelatihan tidak hanya merambah ranah kognitif. Dengan terlibat, emosi peserta ikut menikmati semua proses yang mereka lakukan. Mereka merasa dihargai, mereka juga merasa bertanggungjawab secara pribadi terhadap semua keputusan yang diambil di dalam proses itu.. Ingatanku melayang ke kata-kata bijak seorang Confusius:

I see and I will remember
I hear and I will forget
I do I will understand..

Dalam pelatihan ini aku menambahkan
I involve and I wil realize …then I will be happier…

One response so far

Sep 23 2011

Telah lahir Komunitas Bloger di Psikologi UGM

Published by Neila under Life Skills

Dua puluh tiga september dua ribu sebelas merupakan hari yang amat bersejarah. Pada hari ini telah lahir komunitas yang mempunyai komitmen untuk saling berbagi informasi kepada khalayak luas mengenai berbagai buah pikiran warga psikologi UGM. Cikal bakal komunitas ini terdiri dari sebelas warga fakultas peserta pelatihan pemanfaatan IT.

Dua hari kemudian, sekelompok rekan kembali berkumpul di ruang yang sama. sebagian melanjutkan belajar ngeblog sebagian lain sama sekali baru mulai mengenal blog. Tertarik juga untuk memahami, apakah blog itu?

Namun, sebelum saya berselancar mencari informasi mengenai blog ternyata rekan psikologiwan-wati ini dengan tangkasnya sudah menguasai tahap awal pembuatan blog. Coba deh klick belikut ini:

1. Blog nya mbak Yanti yang didedikasikan untuk perpustakaan di http://pergolairianti.blog.ugm.ac.id
2. Nah ini blog nya mbak Umi yang diramaikan dengan ungkapan rasa seorang sekretaris dekan hahayyy..
3. Bagaimana dengan mbak Veri? hay ini dia blog seorang sekretaris dekan yang lainnya, silah klick di And the story goes

8 responses so far

Sep 05 2011

Bila tiba waktunya

Published by Neila under Life Skills

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan dengan judul sama yang saya posting ke facebook. Tulisan asli, saya tuangkan pada pertengahan Desember 2010. Bagi yang juga adalah pengguna ef-be silah klick di sini.

==================
Beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja saya membaca sebuah pesan terakhir yang dituliskan oleh pak M Sani Roychansyah kepada rekannya yang telah pergi meninggal dunia. Terperanjat dengan tulisan tersebut, sayapun mengikuti link yang ada sehingga akhirnya saya sampai ke profile Bapak Ir. Imam Djokomono seorang dosen Fakultas Teknik UGM, jurusan Teknik Arsitektur. Dari situ juga saya mengetahui bahwa Pak Imam meninggal dunia pada Bulan Desember, tanggal tiga 2010 lalu. Saya tidak tahu persis tanggal berapa beliau meninggal tetapi saya telusuri pada tanggal 2 Desember beliau masih memberikan jempolnya pada beberapa rekan yang menghaturkan ucapan semoga lekas sembuh…

Dalam kesendirian malam itu, kebetulan saya sedang di Vienna, saya sengaja sempatkan membaca semua ucapan berisi doa yang disampaikan handai tolan Bapak Iman Djokomono ini. “Beliau orang baik, punya banyak teman baik dari kalangan dosen, tetangga, mahasiswa dlsb”, itu kesan yang melintas di benak saya. Selamat jalan semoga mendapat tempat yang sebaik-baiknya pak…

Lelah membaca puluhan bahkan ratusan pesan berkaitan dengan kepergian pak Iman Djokomono ini, saya akhirnya merenung.. merenung.. manusia mati meninggalkan nama.. Saya tidak kenal dengan Pak Imam, begitu ia dipanggil oleh kerabatnya. Deretan pesan yang tercantum di face book beliau seakan menjadi kepingan puzzle yang dalam waktu beberapa detik telah kurangkai membentuk kesanku terhadap diri pak Imam. Ia seorang yang bersahaja, suka ngobrol ringan, punya sense of humor, dan pekerja seni yang amat memperhatikan orang lain namun agak kurang memperhatikan dirinya.

===========================

Hari ini, kembali hati saya merasakan hal yang hampir sama. Seorang guru Prof. Djamaludin Ancok menuliskan pesan pamitan karena beliau memasuki usia pensiun sebagai dosen PNS di Fakultas Psikologi UGM. Beliau menuliskannya di media Paperless Office PLO-Psikologi. Beliau menceritakan pengalaman semnjak awal menjadi dosen pada tahun 1974, kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Amerika, memperoleh kesempatan menduduki jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar di Fakultas Psikologi UGM yang amat bergengsi ini. Selain itu, beliau pun menuliskan bahwa ada beberapa rekan yang telah “pergi” mendahului beliau, mulai dari yang senior yaitu (alm) Prof. Siti Rahayu Haditono hingga yang masih muda sekali yaitu sahabat saya (alm) Mustagfirin. Kesan-kesanpun berlanjut dari beliau terhadap lingkungan dan iklim kekeluargaan di Fakultas.

Sebagaimana layaknya komunikasi sosial di PLO-Psikologi ini, kamipun para Junior yang masih antre menanti masa pensiun ataupun “dipensiun” mengirimkan komentar berisi kesan dan pesan. Banyak sekali yang kami pelajari dari beliau Prof. Djamaludin Ancok sebagai guru, kolega, maupun orang yang di ‘tua’ kan. Bapak beruntung dapat mencapai usia pensiun dengan sepenuhnya mendarma baktikan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang Psikologi Sosial, Psikologi Organisasi, Kepemimpinan, dan Manajemen. Andai dapat dihitung berapa anak bangsa kah yang telah kau didik sehingga mereka dan kami semua akan mampu menjadi penerus dalam memelihara keberlangsungan bumi demi masa depan umat manusia??..

Dan saat ini kembali hati saya terusik
andai tiba waktu saya nanti …
saya menyusul pak Imam ke alam sana…
atau…
saya memasuki usia pensiun
sebagaimana yang saat ini dilampaui Bapak Prof. Djamaludin Ancok
kesan-kesan seperti apakah yang akan dituliskan oleh kerabat dan handai tolan mengenai saya?

Well, mungkin agak sulit menebak kesan orang terhadap saya, tapi tentu saja seharusnya saya dapat menjawab pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati… kesan seperti apakah yang sungguh saya harapkan dari orang-orang yang mengenal saya ???

No responses yet

Aug 16 2011

Kompetensi Guru: Syarat mutlak menjalankan proses pembelajaran

Published by Neila under Life Skills

Judulnya panjang, tapi bukan tanpa alasan. Kalau dapat dirangkai, cerita yang melatari judul itupun lebih panjang lagi.

Sebetulnya tulisan ini adalah modifikasi tambal sulam kalau tidak dapat dikatakan sebagai replika tulisan di Notes Facebook saya. Tulisan di facebook itupun sebetulnya hanya sebuah rekaman tertulis dari cerita yang hampir setiap kali saya kemukakan kepada para peserta pelatihan kompetensi kepribadian dan sosial yang diberikan kepada para bapak dan ibu guru yang selalu saya cintai.

Cerita ini berawal dari kisah yang dialami anak bernama Adi yang duduk di bangku SD kelas 2 di sebuah sekolah dasar favorit di kota Yogyakarta. Sebagaimana biasa, Adi selalu berangkat dan pulang sekolah dengan ceria. Hampir setiap pulang sekolah ada saja yang ia perlihatkan kepada saya sebagai ibunya. Kadang halaman buku yang penuh dengan kata-kata yang ditulis dengan huruf latin halus—kasar. Kali lain, ia berlari sambil meneriakkan panggilan sayang ‘ibuuuu, aku dapat 100′ untuk sebuah pekerjaan matematika. Hingga suatu siang, tidak seperti biasanya Adi keluar ruang kelas dengan bersungut-sungut, wajahnya muram jika tidak dapat dikatakan pucat. Saya memperhatikan wajah buah hati yang pias tak secerah biasa.

Saya mencoba menyelidik dengan tetap mempertahankan ekspresi tenang dan tersenyum. “Assalamu’alaikum”, suara Adi lemah, dan saya pun menjawab “wa alaikumussalaam”, dengan suara lembut dengan harapan dapat menyebarkan kedamaian di hati Adi. Setelah mencium tangan saya, ia langsung membantingkan badannya ke sofa yang terletak di ruang depan dari rumah kami. Aku bertahan untuk tidak buru-buru bertanya, perlahan akupun mengambil posisi duduk di sebelahnya.

Seperti biasa, ia pun memasukkan tangan ke dalam tas merogoh dan mengeluarkan kertas dari dalam tas nya. Tidak seperti biasa, tangan itu tertahan lebih lama, seakan menunggu perintah dari pusat pemroses yang tiba-tiba bekerja sangat lambat. Beberapa detik kemudia, tangan mungil itu keluar dari dalam tas sambil memegang lembar-lembar kertas, sampai akhirnya diulurkannya lembar kertas itu tanpa memandang saya sama sekali.

Aku menerima dua lembar kertas yang kutahu itu adalah kertas ujian “Bahasa Indonesia”. Anakku mendekat kemudian berkata “Cuma dapat 90″… Begitu katanya dengan suara melemah. Aku tersenyum, “hmmm bagus sekali”. nilai 90 bagiku bukan sekedar “cuma” itu prestasi yang amat baik anakku… Saya pun berkata “Niali 90 itu bagus lho”, sambil kudekati dia. Wajahnya masih tidak segembira hari-hari sebelumnya. Selang sesaat ia mengambil kembali kertas yang sedang kupegang seraya bertanya “Ibu, yang ini kan benar khan?, ia menunjukkan sebuah soal yang diberi tanda silang warna merah.

Mataku pun seketika berlari mencari telunjuk anakku sampai akhirnya menemuka sebuah soal menjodohkan. Ada beberapa angka soal pertanyaan terbuka. Soal yang bertanda silang merah itu berbunyi:

* Di sawah, pak Tani menanam ………*.

Ini pertanyaan yang amat menarik bagi saya. Mengapa? Sehari-hari, saya tinggal di sebuah desa bahkan dapat dikatakan di tengah sawah. Saya dan suami membeli sebidang sawah di daerah pedesaan wilayah Ngaglik, Kabupaten Sleman. Oleh karena rumah kami di tengah sawah, setiap hari anak-anak saya sangat akrab dengan berbagai tanaman padi maupun polowijo yang ditanam pak Tani. Saya selalu menjelaskan kepada anak-anak, bahwa pada saat air berlimpah maka pak Tani menanam padi, sedangkan musim kering biasanya pak Tani akan menanam polowijo, misalnya jagung, kacang, ataupun sayur-mayur lainnya.

Pada saat peristiwa ini terjadi, petani di sekitar rumah kami sedang menanam jagung. Mendapatkan pertanyaan seperti pada soal ujian itu, anak sayapun mengisi titik-titik itu dengan JAGUNG. Tapi apa lacur? Bu guru mempunyai pedoman jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah PADI.. Inilah yang membuat anak saya protes karena dia adalah satu-satunya anak yang mendapat nilai kurang dari 100 dalam ujian tersebut.

=========

Cuplikan kisah Adi yang merasa diperlakukan tidak adil oleh gurunya. Sebuah fakta yang disaksikan oleh seorang anak merupakan kebenaran yang sudah tidak perlu disangkal. Pak tani pada musim tertentu menanam jagung. Itu adalah fakta dan benar. Tetapi mengapa pada saat fakta tersebut di bawah ke sebuah proses pembelajaran, untuk dijodohkan dengan pertanyaan mengenai tumbuhan yang ditanam pak Tani di sawah, ia menjadi salah?

Ada sebuah kondisi yang tidak menguntungkan bagi Adi. Ia yang hidup sangat dekat dengan alam sehingga mendapat kesempatan menyaksikan ragam kegiatan petani. Sementara itu, Guru yang mengajar di sekolah sudah mengkotak-kotakkan pemikirannya untuk menolak alternatif jawaban di luar kunci pelajaran yang tersedia. Kondisi ini yang sangat merugikan Adi sebagai siswa di sekolah. Perlakuan tidak adil yang disebabkan oleh sempitnya pemahaman guru akan proses evaluasi dalam pembelajaran. Penilaian yang hanya sepihak tanpa adanya upaya untuk memahami dunia siswa yang datang dari latar belakang yang berbeda.

Tuntutan kepada setiap guru untuk lulus uji kompetensi memang mutlak dan tidak dapat ditunda lagi. Guru tidak hanya mengajar tetapi juga harus belajar. Ilmu tidak hanya diperoleh dari lembar-lembar buku semata. Buku yang dibacapun tidak hanya buku paket yang kadang tidak menyediakan alternatif bagia kebebasan berpikir anak yang masih hidup di dunia nyata.

3 responses so far

Jul 31 2011

Pesan Ramadhan tahun ini

Published by Neila under Courses

Ada dua perubahan besar pada bulan Ramadhan 2011.

Pertama, ini Ramadhan pertama yang akan kami sekeluarga lalui tanpa kehadiran (alm) Ayahanda H. Manusin Abubakar. Beliau telah mendahului menghadap sang Khalik pada 7 Mei 2011 lalu. Walau saya yakin beliau sudah tenang di alam sana, masih saja terasa kerinduan yang menyesak untuk dapat kembali mendengarkan suara serak yang secara rutin kudengar di telpon…. Semoga Ayahanda khusnul khotimah..

Kedua, pada Ramadhan tahun ini ananda Nevi Ayu Envirani akan lebih banyak melaluinya di kota Bandung. Dia mendapatkan rezeki diterima kuliah di Fakultas Teknik Industri ITB. Perguruan tinggi yang sudah diidam-idamkannya. Walaupun tidak seluruh bulan akan dilalui secara terpisah, namun rasanya perubahan ini sedikit banyak membuat saya enggan. Kalau biasanya, selalu ingin menyediakan makanan kesukaannya untuk sahur maupunh berbuka puasa. Sekarang kok rasanya agak enggan ya… Mau masak enak, eee membayangkan apa ya yang dimakan anakku di sana?

Yaaaaa inilah hidup…. terus bergerak…berubah… Insya Allah menuju kebaikan bagi semua…

“Nikmati sajalah”, itulah yang sering kudengar batinku berbicara. Kalau sudah begini, biasanya tangan saya secara reflek meraih ha-pe yang semakin sering berbunyi. Siapa tahu sms dari Nevi, siapa tahu dia akan cerita mengenai kamar kos yang baru itu, siapa tahu dia membutuhkan saya untuk sekedar bercerita.

SMS menjelang Ramdhan… itu lagi yang kuterima. Apapun perubahan yang terjadi, uniknya pesan Ramadhan yang sudah menjadi tren positif semenjak beberapa tahun belakang tetap menjadi hiburan tersendiri. Sudah semenjak seminggu belakangan, ha-pe saya mulai sibuk kemasukan pesan-pesan Ramdhan. Indah rasanya mendapat sapaan dari sanak keluarag, teman-teman, dan rekan kerja yang beberapa di antaranya tidak bertegur sapa karena berbagai alasan. Pesan yang saya terima pun bermacam nuansanya. Ada yang lucu, ada yang mengharukan, dan ada yang menyadarkan saya betapa lama terlalu sibuk dengan hal-hal yang bersifat keduniaan.

Saya kutipkan pesan yang saya terima dari Paman Anshori dari Sungai Pinang, Sum-Sel:

Si Rahma pandai melompat,
sambil melompat makan ketupat..
Jabat tangan kita tidak sempat,
mau telpon pulsa sekarat.
Karena Ramadhan semakin dekat,
mohon maaf dunia akherat.
Selamat menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh iman dan kedamaian di hati
Marhaban ya Ramadhan.

Saya senyum sendiri membacanya.. Indah, lucu, dan mengena.

Ada juga pesan yang menyadarkan, secara khusus saya terima dari dosen pembimbing KKN saya enam belas tahun lalu, Bapak Prof. marchaban.Cona deh kita simak pesannya:

Doa Jibril di bulan Sya’ban:
Ya Allah, abaikan puasa umat Muhammad apabila memasuki Ramdhan, dia beluam:
1. Mohon ma’af kepada orang tua
2. Berma’afan antara suami istri
3. Berma’afan dengan keluarga, kerabat, tetangga.
Do’a Jibril itu diamini Rosulullah sampai tiga kali.
Karena itu, saya dan keluarga mohon maaf atas segala kesalahan lahir dan bathin. Selamat menunaikan ibadah puasa semoga kita dimasukkan golongan orang yang bertaqwa. Amin…

Beliau ini amat rajin mengirim ucapan selamat. Dalam setahun setidaknya saya menerima tiga kali ucapan, yaitu waktu ulang tahun, menjelang puasa, dan iedul fitri. Kadang saya jadi sungkan sendiri, lha pasti keduluan beliau mengirim ucapan ini. Masih banyak pesan-pesan Ramadhan lainnya yang saya terima, agak sulit menuliskannya satu per satu di sini.

Terima kasih Pamanda Anshori, Bapak Prof. Marchaban, dan juga banyaka sekali teman-teman lainnya yang mengirimkan pesan dan ucapan Ramadhan.. Semoga kita semua termasuk umat yang diberi keutamaan agar kuat menjalani ibadah puasa ini…

No responses yet

Feb 08 2011

Weblog and Knowledge Management

Published by Neila under Courses

Hari ini saya bersama-sama dengan mahasiswa S2 sain Fakultas Psikologi berangan-angan membagi semua ilmu yang didapat dengan segenap warga masyarakat Indonesia. Mengapa hanya Indonesia? Alasannya sederhana saja, karena bahasa yang digunakan di weblog ini adalah bahasa Indonesia. Dengan bahasa pengantar ini tentu saja sasaran utama adalah teman-teman dari penjuru nusantara.

Teknologi telah menambah kemampuan manusia mengakses informasi. Jika tempo dulu kita harus mencari informasi bertahun-tahun maka saat ini cukup satu klick maka beratus bahkan beribu data dapat diperoleh. Hal ini mungkin tidak pernah terpikirkan pada beberapa tahun lalu. Itulah kenyataan sekarang. Kondisi ini mengisyaratkan adanya manajemen terhadap informasi yang diperoleh oleh seseorang.

No responses yet

Dec 09 2010

Kepala Sekolah sebagai Manager sekaligus Leader: sebuah tantangan bagi profesi guru

Published by Neila under Courses

Baca lebih lanjut di sini.

No responses yet

Sep 25 2010

Social Networking

Published by Neila under Opinion

Beberapa minggu belakangan ini saya semakin sering mendengar pemberitaan di media televisi mengenai anak gadis  belasan tahun yang dikabarkan hilang bahkan menghilang dari rumahnya dengan teman lelaki yang dikenalnya melalui situs jejaring sosial yang berjudul ef-be. Pada umumnya mereka dikabarkan berkenalan, kemudian setelah beberapa kali saling berkomunikasi disepakatilah temu darat, dan seterusnya akhirnya merekapun bepergian ke tempat-tempat yang tak disebutkan di mana..

Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Mengapa ya hal ini bisa terjadi?

3 responses so far

Sep 18 2010

Back to nature life style

Published by Neila under Leisure

‘Boras is a small but safe city’, a friend of mine informed me about this city. This information was being one of many factors encouraging me to visit this place. How? As technology has been provided information regarding opportunities for scholarship I started searching for this. Erasmus Mundus External Windows Cooperation (EMECW) was an activity created by eleven universities from European and Asean countries. They were offering staffs and students of universities involved in this program to join exchange program. This opportunity was pushed myself to learn, apply, and win this. Then… finally…… I have won an opportunity to stay for one month in Hogskolan i Boras. The program is Staff Mobility (Exhange Staff) for the Teacher Training at the School of Education & Behavioral Science.

My flight arrived Landveter on Friday, 14 August 2010.
Located in about the middle of Sweden, fourty five minutes by car to the east from the Landveter Airport of Gotheborg.
I was surprissed when I did not find any crowded and bussy people in the airport.
Before Lillemore, a profesor of Boras, who picked me up at the airport call my name I did not realized that I have already out of airport.

The day after Ingeborg invited me and some Erasmus’ friends for a barbeque.
It was a Ramadhan fasting for me.
But, joint them to the lake would be great.
During their barbeque, I spent my time enjoying the lake.
Some children were swimming in the lake.
Some couples were jogging climb up the hill.

Children are swimming in the lake

The first time I came to the office, I saw a lot of students ride their bicycle.

A week after I have stayed in this city I found that more people enjoyed walking, hiking, and love their nature.

Children are swimming in the lake

No responses yet

Aug 31 2010

Grown up Digital

Published by Neila under Opinion

Saya baru saja membaca sebuah buku yang berjudul “Grown up Digital” karya Don Tapscott. Seorang adjunct profesor of management at the Joseph L. Rotman dari University of Toronto. Don juga menulis buku “Wikinomics” and “Growing up Digital”.

Seringkali saya mendengar orang tua mengeluhkan anaknya yang terlalu menikmati berinteraksi dengan kotak kecil dan ajaib bernama komputer. Mereka juga mengeluhkan anak-anak mereka berbicara amat lugas seakan tidak mengenal tata krama warisan leluhur. Dan yang amat amat sering keluhan anak-anak mereka diam-diam mengambil uang dari dompet orang tuanya untuk membayar sewa “Game center”.

Pada saat terlibat pembicaraan dengan para orang tua ini, secara amat transparan saya melihat diri saya sendiri dengan berbagai mis-understanding dengan anak-anak saya yang seringkali bersumber dari perbedaan cara memandang sebuah kondisi. Mengapa perbedaan? Untuk menjawab ini, saya mengutip pendapat Don Tapscott yang mengelompokkan penduduk bumi ini ke dalam empat generasi, yaitu:

1. The Baby Boom Generation: Kelompok ini terdiri dari penduduk yang dilahirkan antara 1946 - 1964.
2. Generation X: terdiri dari anda yang dilahirkan pada periode 1965 - 1976.
3. The Net Generation: berisi generasi seusia anak-anak saya yang dilahirkan antara 1977 - 1997.
4. Generation Next: adalah yang lahir pada periode 1998 - sekarang.

Setiap generasi hidup pada era yang berbeda. Jika generasi orang tua saya (the baby boomers) seakan dikagetkan dengan kemunculan televisi kemudian saya ingat sekali mereka pada saat itu mulai membuat rambu-rambu untuk membatasi jam menonton acara televisi. Rambu-rambu ini amat erat kaitannya dengan kekhawatiran akan menurunnya prestasi sekolah. Menonton televisi pada jam-jam premium tentu saja mengurangi jam belajar di malam hari.

Saat ini saya dan rekan-rekan seusia (generasi X) mulai khawatir terhadap anak-anak yang kami lahirkan di era generasi net. Mereka lahir di era teknologi. Ibaratnya orang dilahirkan menghirup udara segar, mereka dilahirkan di tengah maraknya berbagai teknologi komunikasi. Lha apa bedanya dengan saya? Jika saya menganggap teknologi sebagai alat maka anak-anak itu hidup dengan teknologi. Tapscott menyatakan bahwa dikalangan gerasi net, teknologi amat transparan. Don mengutip Coco Conn, cofounder dari Web-based Cityspace projek bahwa bagi generasi net teknologi itu transparan dan seakan tak terlihat, “It doesn’t exist. It’s like the air”. Mereka bernafas dengan teknologi.

Membaca bagian ini membuat saya tercenung. Saya ingat juga dengan pendapat Marc Prensky, seorang penulis kondang yang mendengungkan istilah ‘digital native’ bagi anak-anak yang lahir di era digital, sedangkan kelompok saya sebagai ‘digital immigrant’. Lha bayangkan saja jika seorang native berbicara mereka juga berpikir dengan cara budaya tempat bahasa tersebut berasal. Sebaliknya seorang immigrant yang fasih menggunakan bahasa tempat dia hidup sekarang tetapi seringkali masih menggunakan pola pikir yang dia bawa dari daerah asalnya. Makanya saya kalau berbicara dengan anak-anak sering kali slenco (bahasa jawa yang kira-kira maksudnya tidak tepat karena menggunakan kerangka pikir yang berbeda) …. saya manggut-manggut..

5 responses so far

Next »