Judulnya panjang, tapi bukan tanpa alasan. Kalau dapat dirangkai, cerita yang melatari judul itupun lebih panjang lagi.
Sebetulnya tulisan ini adalah modifikasi tambal sulam kalau tidak dapat dikatakan sebagai replika tulisan di Notes Facebook saya. Tulisan di facebook itupun sebetulnya hanya sebuah rekaman tertulis dari cerita yang hampir setiap kali saya kemukakan kepada para peserta pelatihan kompetensi kepribadian dan sosial yang diberikan kepada para bapak dan ibu guru yang selalu saya cintai.
Cerita ini berawal dari kisah yang dialami anak bernama Adi yang duduk di bangku SD kelas 2 di sebuah sekolah dasar favorit di kota Yogyakarta. Sebagaimana biasa, Adi selalu berangkat dan pulang sekolah dengan ceria. Hampir setiap pulang sekolah ada saja yang ia perlihatkan kepada saya sebagai ibunya. Kadang halaman buku yang penuh dengan kata-kata yang ditulis dengan huruf latin halus—kasar. Kali lain, ia berlari sambil meneriakkan panggilan sayang ‘ibuuuu, aku dapat 100′ untuk sebuah pekerjaan matematika. Hingga suatu siang, tidak seperti biasanya Adi keluar ruang kelas dengan bersungut-sungut, wajahnya muram jika tidak dapat dikatakan pucat. Saya memperhatikan wajah buah hati yang pias tak secerah biasa.
Saya mencoba menyelidik dengan tetap mempertahankan ekspresi tenang dan tersenyum. “Assalamu’alaikum”, suara Adi lemah, dan saya pun menjawab “wa alaikumussalaam”, dengan suara lembut dengan harapan dapat menyebarkan kedamaian di hati Adi. Setelah mencium tangan saya, ia langsung membantingkan badannya ke sofa yang terletak di ruang depan dari rumah kami. Aku bertahan untuk tidak buru-buru bertanya, perlahan akupun mengambil posisi duduk di sebelahnya.
Seperti biasa, ia pun memasukkan tangan ke dalam tas merogoh dan mengeluarkan kertas dari dalam tas nya. Tidak seperti biasa, tangan itu tertahan lebih lama, seakan menunggu perintah dari pusat pemroses yang tiba-tiba bekerja sangat lambat. Beberapa detik kemudia, tangan mungil itu keluar dari dalam tas sambil memegang lembar-lembar kertas, sampai akhirnya diulurkannya lembar kertas itu tanpa memandang saya sama sekali.
Aku menerima dua lembar kertas yang kutahu itu adalah kertas ujian “Bahasa Indonesia”. Anakku mendekat kemudian berkata “Cuma dapat 90″… Begitu katanya dengan suara melemah. Aku tersenyum, “hmmm bagus sekali”. nilai 90 bagiku bukan sekedar “cuma” itu prestasi yang amat baik anakku… Saya pun berkata “Niali 90 itu bagus lho”, sambil kudekati dia. Wajahnya masih tidak segembira hari-hari sebelumnya. Selang sesaat ia mengambil kembali kertas yang sedang kupegang seraya bertanya “Ibu, yang ini kan benar khan?, ia menunjukkan sebuah soal yang diberi tanda silang warna merah.
Mataku pun seketika berlari mencari telunjuk anakku sampai akhirnya menemuka sebuah soal menjodohkan. Ada beberapa angka soal pertanyaan terbuka. Soal yang bertanda silang merah itu berbunyi:
* Di sawah, pak Tani menanam ………*.
Ini pertanyaan yang amat menarik bagi saya. Mengapa? Sehari-hari, saya tinggal di sebuah desa bahkan dapat dikatakan di tengah sawah. Saya dan suami membeli sebidang sawah di daerah pedesaan wilayah Ngaglik, Kabupaten Sleman. Oleh karena rumah kami di tengah sawah, setiap hari anak-anak saya sangat akrab dengan berbagai tanaman padi maupun polowijo yang ditanam pak Tani. Saya selalu menjelaskan kepada anak-anak, bahwa pada saat air berlimpah maka pak Tani menanam padi, sedangkan musim kering biasanya pak Tani akan menanam polowijo, misalnya jagung, kacang, ataupun sayur-mayur lainnya.
Pada saat peristiwa ini terjadi, petani di sekitar rumah kami sedang menanam jagung. Mendapatkan pertanyaan seperti pada soal ujian itu, anak sayapun mengisi titik-titik itu dengan JAGUNG. Tapi apa lacur? Bu guru mempunyai pedoman jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah PADI.. Inilah yang membuat anak saya protes karena dia adalah satu-satunya anak yang mendapat nilai kurang dari 100 dalam ujian tersebut.
=========
Cuplikan kisah Adi yang merasa diperlakukan tidak adil oleh gurunya. Sebuah fakta yang disaksikan oleh seorang anak merupakan kebenaran yang sudah tidak perlu disangkal. Pak tani pada musim tertentu menanam jagung. Itu adalah fakta dan benar. Tetapi mengapa pada saat fakta tersebut di bawah ke sebuah proses pembelajaran, untuk dijodohkan dengan pertanyaan mengenai tumbuhan yang ditanam pak Tani di sawah, ia menjadi salah?
Ada sebuah kondisi yang tidak menguntungkan bagi Adi. Ia yang hidup sangat dekat dengan alam sehingga mendapat kesempatan menyaksikan ragam kegiatan petani. Sementara itu, Guru yang mengajar di sekolah sudah mengkotak-kotakkan pemikirannya untuk menolak alternatif jawaban di luar kunci pelajaran yang tersedia. Kondisi ini yang sangat merugikan Adi sebagai siswa di sekolah. Perlakuan tidak adil yang disebabkan oleh sempitnya pemahaman guru akan proses evaluasi dalam pembelajaran. Penilaian yang hanya sepihak tanpa adanya upaya untuk memahami dunia siswa yang datang dari latar belakang yang berbeda.
Tuntutan kepada setiap guru untuk lulus uji kompetensi memang mutlak dan tidak dapat ditunda lagi. Guru tidak hanya mengajar tetapi juga harus belajar. Ilmu tidak hanya diperoleh dari lembar-lembar buku semata. Buku yang dibacapun tidak hanya buku paket yang kadang tidak menyediakan alternatif bagia kebebasan berpikir anak yang masih hidup di dunia nyata.