Jan 24 2016

Literasi Digital itu semakin penting

Published by under Cyber Psychology

Tulisan kedua dari Literasi Digital.

Entah yang keberapa kalinya saya menerima pesan yang menimbulkan pertanyaan:

Tanaman keladi beracun
Lowongan kerja BUMN
apalagi….
sharing teman tentang kejadian tengah malam tatkala sedang terlelap dibangunkan oleh seorang penelepon yang merengek ‘ma, dede dirampok ma..’ atau kejengkeladan sekaligus kesedihan seorang rekan yang tanpa disadarinya telah tertipu puluhan juta rupiah karena dengan ‘sekarela’ menguras uang di ATM

Kisah lain disampaikan seorang rekan dosen yang mendapati tugas paper yang kembar antara satu mahasiswa dengan yang lainnya. Belum lagi, ketika sedang menjalankan tugas menguji sebuah tesis menyadari adanya gaya penulisan yang ‘rasa-rasanya’ pernah kenal.

Semakin canggih media komunikasi berbasis internet yang digunakan itu semakin canggih pula pengacau yang mengecoh ketenangan hidup pengguna media, konsekuensinya urgensi akan Literasi Digital sudah tidak dapat ditunda lagi.

Literasi berasal dari kata berbahasa Inggris literate, yaitu mampu menulis atau membaca. Arti lain dari literate yang dicantumkan di kamus Cambridge online adalah memiliki pengetahuan tentang subjek tertentu. Lantas, jika judul tulisan ini literasi digital artinya kemampuan pengguna media digital, meliputi berbagai hal sedemikian rupa sehingga penggunanya dapat memperoleh manfaat dan terhindar dari berbagai kerugian.

Tulisan berikut sebetulnya saya niatkan kirim ke surat kabar sehari setelah rame-rame terbit Surat Edaran Kapolri no SR/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian yang dipublikasikan media beberapa waktu lalu. Tapi apa daya setelah rampung nulis belum sempat kirim listrik mati sampe tengah malam sampai akhirnya matapun terpejam. Pada saat listrik nyala lagi, hari sudah pagi dan apa daya sekali lagi mood menulis itu seakan pergi entah kemana.

Tak kurang dari limabelas tahun semenjak memasuki era reformasi yang datangnya bertepatan dengan meningkatnya laju pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat Indonesia seakan mendapatkan kebebasannya, ‘sudah lebih bebas bicara, dapat media pula’. Eforia kebebasan berpendapat ini menjadikan sebagian masyarakat ‘bak lepas bebas dari kandangnya’. Masyarakat menyampaikan pemikirannya tentang seorang warga Negara bahkan pengelola Negara sudah tidak hanya melalui tulisan yang harus di reviu oleh tim Dewan Redaksi, tetapi mereka dapat menyuarakannya sendiri melalui teks tertulis maupun lisan. Media sosial seperti Facebook, Path, Tweeter, Youtube, demikian pula media televisi memberikan peluang bagi masyarakat mengambil hak menyuarakan pendapatnya.

Di era sebelumnya, tak hanya warga bahkan mediapun akan berpikir panjang untuk mempublikasikan pendapat perorangan atau kelompok yang mengandung kritik terhadap perorangan ataupun kelompok apalagi pejabat pemerintah. Semua hati-hati, mungkin juga menjaga perasaan pembacanya, sehingga cenderung menjadi terlalu ditutup-tutupi. Kini, media televisipun tak segan bahkan dengan sengaja menyediakan ruang yang dapat menampung pendapat berisi keluhan, kritikan, juga usulan warga negaranya. Semakin pedas dan terbuka semakin mengundang penonton dan pembaca, hasilnya tentunya rating siaran meningkat dan keuntungan ekonomi di depan mata.

Keterbukaan ini sesungguhnya merupakan iklim kondusif bagi pendewasaan masyarakat dalam berbagai hal. Dalam hal politik, masyarakat menjadi semakin paham tentang kewajiban sebagai warga Negara, mereka pun mendapatkan pengetahuan tentang sistem pemerintahan, dan perpolitikan. Dalam kehidupan bisnis, masyarakat menjadi lebih akrab dengan perekonomian global, konversi nilai mata uang, peta anggaran belanja, bahkan prediksi perekonomian makro pun dapat pula diakses dengan lebih mudah. Dalam hal pendidikan sudah tidak dapat dibantah lagi beribu bahkan jutaan sumber ilmu pengetahuan tersedia dalam berbagai bentuk. Dalam kehidupan sosial, tak terhitung berapa talian baru tersambung bahkan yang selama ini putus dapat tersambung kembali. Teori ‘the sixth degree of separation’ yang mulanya fiksi karya Frigyes Karinthy nampaknya kian mewujud dalam kehidupan nyata. Setiap orang dengan orang lain dapat terhubung oleh maksimum lima penghubung saja.

Apa dampaknya? ‘Dunia semakin kecil’ artinya setiap orang dapat mengetahui segala sesuatu yang terjadi di belahan benua lain hanya dengan ‘klik’. Teknologi sudah memberi peluang bagi keterbukaan dalam berbagai hal. Temuan ilmiah sudah semakin sulit disembunyikan. Strategi pemerintahan pun semakin terbuka dibahas oleh berbagai pihak. Apakah setiap orang dapat melakukan apa saja yang ia ingin lakukan? Apakah setiap pemilik akun media sosial perlu menuliskan setiap ide yang terintas di dalam pikirannya, termasuk serapah dan rundungan? Tentu saja visi dari pencipta teknologi ini adalah hadir dan berperan dalam setiap problem manusia. Akan halnya efek samping berupa perseteruan bahkan lahirnya problem yang lebih berat sebagian besar dihasilkan oleh keterbatasan kemampuan para penggunanya.

Pemerintah dengan KUHP dan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), diperkuat oleh SE Kapolri SR/6/X/2015 merupakan pengingat bagi warga pengguna dan pekerja media. Namun aturan saja tidak cukup sehingga dari pihak pengguna sendiri dibutuhkan kesadaran untuk meningkatkan literasi digital atau literasi Internet.

Literasi digital pertama kali disebutkan oleh Paul Gilster dalam bukunya berjudul Digital Literacy pada tahun 1997, kemudian divalidasi dengan riset yang dilakukan penulis bersama tim di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, yang beranggotakan Wisnu Wiradhani dan Dita Rahmayani. Literasi digital adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh para pengguna perangkat berbasis teknologi digital atau komputer, baik untuk memahami maupun memanfaatkan informasi dalam berbagai format. Secara garis besar, literasi digital ini dapat digolongkan ke dalam empat level tergantung kepada aktivitas yang dilakukukan oleh para penggunanya.

Pertama, kemampuan instrumental yaitu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pengguna Internet yaitu keterampilan mengoperasikan komputer maupun perangkat lunak yang terinstal di dalamnya. Di dalam keterampilan ini juga termasuk memahami jargon yang digunakan oleh setiap piranti sehingga pengguna dapat secara optimal memanfaatkan piranti yang dimilikinya. Tak jarang kita menyaksikan seorang memiliki gadget canggih namun tidak memahami bagaimana memanfaatkan fitur yang ada di dalam piranti tersebut. Dalam hal memanfaatkan instrument internet, keterampilan ini juga mencakup cara melakukan navigasi berselancar di dunia maya.

Kedua, kemampuan dalam mengevaluasi informasi, yang diawali dengan menginterpretasi data baik teks, gambar, suara, maupun perpaduannya. Semakin tinggi tingkat kemampuan dalam menginterpretasi ragam informasi ini maka akan semakin banyak manfaat yang diperoleh. Di samping itu, dengan kemampuan evaluasi ini pengguna Internet akan berpikir kritis, memilah informasi mana yang sahih sehingga dapat dipercaya. Kemampuan mengevaluasi informasi ini sangat penting mengingat saat ini beragam informasi terpapar bebas, apakah pengguna Internet itu merupakan target atau audiens yang layak mengakses informasi itu. Dengan kemampuan mengevaluasi ini, informasi yang tidak tepat sasaran dapat secara cerdas ditolak oleh para pengguna.

Ketiga, kemampuan menghasilkan informasi, yang termasuk di dalamnya pembuat dan penyebar informasi perlu memiliki kemampuan dalam mengumpulkan, mengolah, dan membangun informasi menjadi sebuah produk yang berkualitas dan etis. Produk informasi yang dihasilkan diarahkan kepada produk yang bermanfaat sehingga ia tidak menjadi produsen ‘sampah elektronik’ yang semakin memenuhi dunia maya. Dalam hal menyebarluaskan informasi yang ia kembangkan perlu juga memilih media yang dapat dipercaya. Demikian pula sebaliknya, sebagai audiens yang memanfaatkan informasi, pada level ini diperlukan kemampuan dalam mengevaluasi media mana saja atau informasi mana saja yang layak dipercaya.

Keempat atau yang terakhir penanda seorang yang memenuhi kriteria literasi digital adalah memahami tanggung jawab sosial atas informasi yang diakses dan dimanfaatkan, dan dihasilkan. Pada level ini, kemampuan pengguna Internet untuk dapat peka akan karya cipta orang lain, pengetahuan tentang bagaimana menghindari plagiarism ataupun self plagiarism sudah semakin memprihatinkan. Semakin nyata lagi betapa masih terbatasnya taraf literasi digital bangsa kita pada saat berpuluh bahkan mungkin beratus laporan penipuan, salah paham akibat berita ‘hoax’, bahkan informasi-informasi penyedap aktivitas para perundung di dunia maya. Informasi yang belum jelas kebenarannya seakan menjadi suguhan tidak hanya setiap hari bahkan setiap menit.

Apakah pengguna media di Indonesia sudah memenuhi kriteria sebagai warga yang memenuhi kriteria literasi Internet? Apakah lulus dan mendapat nilai bagus dalam pelajaran TIK bagi anak-anak kita, yang sesungguhnya baru mencakup kriteria pertama saja sudah cukup? Inilah sesungguhnya pekerjaan rumah kita semua, warga Negara salah satu yang masuk ke dalam kategori konsumen gadget terbesar di dunia.

Yogyakarta, 10 November 2015.

Neila Ramdhani.

 

 

No responses yet

Nov 05 2015

Literasi Digital

Published by under Blogroll,Cyber Psychology

Awalnya agak janggal saya menuliskan judul ini. Kata literasi selama ini saya kenal bila digandengkan dengan huruf yan digandeng menjadi kata sedemikian rupa mempunyai makna. Literasi juga digunakan ketika saya ingin menggambarkan seorang yang mempunyai kemampuan sebuah bahasa. Yang satu ini? Literasi digandeng dengan digital, ya tentu saja akan berkaitan dengan teknologi digital. Mengapa teknologi ini pun digandeng dengan literasi?

Era teknologi informasi sudah tidak dapat dihambat lagi. Inovasi dan penerapannya ke dalam berbagai lini aktivitas kehidupan manusia seakan angin segar yang berhembus merasuk ke dalam setiap ruang yang dapat disapanya. Jika beberapa tahun lalu, di kala saya masih muda belia, saya mempunyai hobi sahabat pena. Surat ditulis kemudian dimasukkan ke dalam amplop dibawa ke kantor pos untuk dibelikan perangko dan dibawa oleh petugas pos ke alamat tujuan..  Sekarang surat berperangko nyaris punah diganti surat elektronik atau pesan singkat melalui mobile phone. Sahabat pena saya masih menjadi sahabat sampai sekarang. Kami tidak lagi bertulis pesan di atas lembar kertas indah warna merah jingga melainkan email dan sms.

Revolusi teknologi informasi ini tentu saja amat menguntungkan bagi sebagian insan di negeri ini. Pun sebaliknya media menyiarkan berbagai peristiwa sedih mengenaskan sebagai dampak buruk dari TI ini..  ‘Remaja pergi meninggalkan rumah dengan rekan facebooknya’..ahaaa judul manis bak pisang goreng telah meningkatkan oplah media ini. Kisahnya memang nyata apalagi disusul peristiwa berikut ”seorang ibu tertipu jutaan rupiah setelah chating dengan rekan facebooknya’..  ‘Murid SLTA di skors pihak sekolah karena telah menghina gurunya’. Halaah kok jadi begini ya? Ditambah lagi dengan ‘pemukulan wasit sepak bola pasca penulisan status seorang tentang wasit tersebut’..

Mengapa demikian?
Teknologi infomasi yang bermerger dengan media komunikasi telah menjadikan manusia sebagai pengguna tak terkendai. Tak pelak lagi, berita dan status seseorang dituliskan dengan sangat gamblang. Seringkai tanpa sempat memperhitungkan resiko pasca pemberitaan tersebut. Setiap orang jadi penulis, setiap orang dapat menyebarluaskan tulisannya. Dampak positif tentu saja ada namun negatif juga tak kurang.

Di sinilah urgensinya Literasi Digital. (bersambung)

 

No responses yet

Aug 28 2014

Menggosok semen menjadi emas

Published by under Books & Journals

Catatan kecil dari Seminar ‘Aku Bangga menjadi Guru’
Yogyakarta -26 Agustus 2014.
=============================

Kumpulan kisah inspiratif karya guru

Kumpulan kisah inspiratif karya guru

Kisah Romeo dan Juliet seakan abadi di segala generasi. Dibalut oleh luapan emosi cinta, keduanya tak akan terpisah. Sedemikian dahsyatnya efek dari emosi positif yang membuat manusia rela berkorban.

Cinta adalah salah satu wujud dari emosi positif. Ada sayang, senang, gembira, bangga, dan lainnya yang membuat manusia dapat menikmati indahnya dunia. Emosi positif juga yang membuat seorang ibu lupa akan sakit ketika melahirkan bayinya. Iwan Fals, penyanyi sohor pun melantunkan penggalan lagu pada saat seorang jatuh cinta sebagai “tai kucing serasa coklat”.

Membaca pengalaman guru-guru yang dituliskan di buku ‘Aku Bangga menjadi Guru’ mengingatkan saya kepada materi kuliah emosi, ada emosi yang positif misalnya cinta, sayang, gembira, dan bangga. Ada juga emosi yang negatif misalnya marah, jengkel, sedih, geram, bahkan benci. Emosi memberi warna bagi kehidupan, karena suasana emosi seseorang dapat mempengaruhi respon orang lain yang berinteraksi dengannya.

Coba saja, berapa banyak guru menuliskan bahwa siswanya yang nakal walaupun secara keilmuan mereka belajar dan paham betl bahwa seringkali kenakalan itu adalah salah satu ciri dari kretaivitas anak.. Kemudian berapa guru pula yang mengatakan muridnya ‘caper’ atau ‘carmuk’ sevbagai singkatan dari cari perhatian dan cari muka… Belum lagi seorang ibu guru selalu dibuat setengah kehabisan nafas menahan jengkel karena muridnya yang iseng atau usil.. yang lebih banyak membuat para guru jengkel, marah, bahkan geram yang seringkali mengganggu suasana hati guru ketika menjalankan tugas sebagai pendidik.

Menghadapi ke-nakal-an, ke-kurang perhatian, ke-iseng-an, bahkan ke-tidak tahu-an anak dengan emosi marah, jengkel, bahkan geram niscaya menuai respon yang membuat guru bertambah marah, bertambah jengkel, bertambah geram. Coba saja simak ungkapan seorang guru “… Mengapa kamu tidak mengerjakan PR?” tanyaku dengan sedikit membentak. Dia hanya terdiam. Wajahnya tegang. Teman-temannya hanya terdiam. Suasana pun jadi tegang. Hening. Ditambah hujan mulai mengguyur di pagi ini. “Maju!” kataku mulai emosi. Dia berjalan pelan. “Kamu, Ibu hukum! Tidak mungkin lari di lapangan karena hujan. Kamu cukup berjalan jongkok mengelilingi kelas ini!”

Membaca kisah ini serasa berdegup lebih keras jantung saya. Betapa tidak, ketika guru memulai dengan “sedikit membentak” hingga hukuman fisik dibebankan kepada anak “berjalan jongkok mengelilingi kelas”’. Seketika, seisi kelas pun ikut terhenyak, terdiam, tegang. Suasana kelas berubah dan dipenuhi oleh emosi negatif. Dapat dibayangkan, apakah yang akan terjadi seharian itu? Dapatkan proses pembelajaran berjalan baik?? Nyaris tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru marah, murid tegang. Siapa yang dapat belajar dalam kondisi seperti ini.

Sangat berbeda dengan suasana kelas yang dipenuhi emosi positif. Mendidik anak-anak yang “dikirimkan” untuk bersekolah dengan cinta memberikan pengalaman positif bagi guru, seperti salah satu kisah ini: “….….Kuhapus perasaan sedihnya dengan rasa sayangku seperti kepada anakku sendiri. Kubiarkan ia menangis dipelukanku seperti menangis kepada ibunya sendiri. Akhirnya ia pun mau masuk ke dalam kelas. Dan sejak itu ia mulai bersikap sopan kepadaku saat di kelas.

Terjadi perubahan perilaku pada seorang anak yang diperlakukan dengan kasih-sayang. Pada awalnya ia takut untuk masuk kelas karena terlambat akhirnya iapun mau masuk kelas. Bahkan, jika sebelumnya ia anak yang bandel telah menjelma menjadi anak yang sopan. Respon positif ini tidak hanya bermanfaat bagi anak, pun bagi guru, seakan mendapat hadiah guru senang untuk meningkatkan upayanya pada saat melihat hasil yang baik.

Coba pula simak kisah berikut ini: “Saya pun mencari cara untuk membuat Rafi bisa tersenyum sambil tentu saja mengajak semua murid kelas VB untuk aktif belajar dalam arti yang sesungguhnya, yakni benar-benar belajar. Berbagai permainan saya lakukan untuk mengajak mereka bisa bekerjasama, baik itu dengan berpasangan maupun berkelompok. Di luar jam pelajaran, saya masih berupaya untuk mengajak Rafi mengobrol agar dia merasa tidak sendirian lagi.”

Ini curahan hati seorang guru yang pada akhirnya berubah hati dan pikirannya setelah mengetahui latar belakang kemurungan ekspresi wajah muridnya yang bernama Rafi. Walaupun kesadaran itu datangnya di belakang, namun tak ada kata terlambat untuk sebuah proses perubahan ke arah yang lebih baik. “……….. saya menyadari, sebagai guru saya memiliki anak didik yang bermacam-macam baik karakter, sifat maupun latar belakangnya.” Begitulah ungkap ibu guru setelah mengikuti program TQI di Titian Foundation.

Memang seorang guru datang ke kelas untuk mengajar sehingga “Bagaimana mungkin anak hanya bermain-main di kelas?” Begitulah yang dipikirkan guru. Guru seringkali lupa bahwa anak akan sangat sulit untuk memahami gurunya karena mereka belum pernah menjadi guru. “Kepedulian guru sangat berpengaruh terhadap semangat belajar anak. Kadang guru seakan menuntut anak untuk memahami mereka.

Memabaca kisah-kisah dan ungkapan guru ini, tak terbayang ada berapa Rafi yang semula adalah seorang anak yang murung dan hanya duduk di pojok kelas  akhirnya dapat tersenyum lebar membersitkan kebahagiaan dan dimatanya mulai terlihat cahaya berkilau ke’emas’an. Ya… mungkin benar apa yang dikatakan rekan penulis St. Kartono bahwa mereka ini pada awalnya ibarat ‘seonggok semen’ yang tak dilirik siapapun. Mereka dikirimkan ke sekolah untuh di gosok agar dapat bersinar..

Terima kasih guru-ku yang telah berbagi pengalaman di sini. (Tak layak rasanya menghitung berapa waktu dan tenaga yang telah saya hibahkan untuk program TQI ini bila dibandingkan dengan rasa bangga kepada bapak dan ibu guru yang sudah mendidik anak-anak muda pemelihara bumi di masa depan, “emas” itu ada di setiap mereka. Kita, para guru, diperlukan di sini untuk menggosok mereka menjadi emas berkilauan..+++

2 responses so far

Feb 05 2014

Mendampingi anak-anak di era digital

Published by under Courses,Cyber Psychology

Selalu menyenangkan dan selalu menumbuhkan semangat.. Begitulah rasanya hati saya setiap kali diundang untuk berbagi dengan bapak/ibu guru..

Sore kemaren, 5 Februari 2014 saya diminta bu Esti, rekan dosen Fakultas Psikologi unutk berbagi dengan bapa/ibu guru dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan yang amat biasanya dilakukan oleh insan yang mengemban amanah sebagai dosen. Memang agak berbada kali ini karena topiknya adalah toppik yang sebagian besar dihadapi oleh para guru dan orang tua.. seputar teknologi..

Apakah layak kita sebagai guru melarang anak membawa HP ke sekolah?

Bagaimana jika orang tua protes pada saat sekolah menetapkan larangan memabawa HP ke sekolah?

Seorang anak sudah beberapa kali dinyatakan tidak dapat memenuhi syarat minimum TPM, ketika kami mengundang dan membicarakan dengan orang tua maka orang tua menyatakan bahwa problem mereka di rumah adalah menghadapi kenyataan anak tidak bisa lepas dari HP??

Banyak sekali pertanyaan dan saya sudah menjawab dengan lisan pada saat seminar.. Tentu saja saya ingin menuliskannya di sini karena saya yakin di luar sana ratusan bahkan ribuan guru dan orang tua mengadapi permasalahan serupa..

Berikut Moral Education for Digital Generation.ppt seminar yang saya susun berbdasarkan berbagai sumber.. silahkan sharen dan pelajari sehingga suatu saat kita dapat diskusi dan sarasehan menganai hal ini…

 

 

 

4 responses so far

Jan 12 2014

Adaptasi bahasa dan budaya Big Five Inventory

Published by under Books & Journals

Penggunaan taksonomi kepribadian Big Five di dalam penelitian psikologi makin hari makin meningkat. Di Indonesia, riset yang menggunakan inventori kepribadian Big Five memrediksi perilaku konsumtif, minat kewirausahaan, kepuasan konsumen, hingga komitmen organisasi.  Ada yang menggunakan Big Five Inventory, ada juga yang menggunakan Five Factor Model. Jumlah itemnya pun berbeda-beda, ada yang 44 item, 50 item, 100 item, bahkan ada yang 300 item.

Riset ini bertujuan untuk mengadaptasi Big Five Inventory (BFI) ke dalam Bahasa Indonesia, yang disajikan dalam dua tahap. Pertama, proses penerjemahan BFI yang dikembangkan oleh Oliver John, terdiri dari 44 item. Penerjemahan dilakukan oleh dua orang Indonesia berlatar belakang ilmu psikologi yang pernah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari lima tahun. Hasil terjemahan ini didiskusikan untuk memperoleh kesamaan pemaknaan masing-masing item. Proses diskusi ini dimoderatori oleh seorang psikolog yang bergelar Ph.D lulusan Amerika Serikat. Hasil terjemahan yang disepakati ini, selanjutnya diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh seorang penerjemah professional yang tidak berlatar belakang ilmu psikologi. Hasil terjemahan ulang ke dalam bahasa Inggris ini dibandingkan dengan BFI asli. Diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan makna antara item-item BFI asli dengan terjemahan ulang BFI versi bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Selanjutnya, BFI versi bahasa Indonesia ini dibaca oleh tiga orang awam yang bertujuan untuk mengetahui apakah hasil terjemahan tersebut dapat dipahami. Setelah diyakini bahwa item-item tersebut dipahami sesuai dengan tujuan masing-masing item maka tahap pertama riset ini dianggap selesai. Kedua, BFI versi bahasa Indonesia disajikan kepada 790 orang responden dengan latar belakang usia, pendidikan, dan daerah asal yang beragam.

Hasil penelitian tahap satu disajikan dalam bentuk paparan proses penerjemahan. Hasil penelitian tahap dua berupa uji korelasi tiap item dengan skor total. Hasil tahap dua ini menunjukkan bahwa korelasi item dengan total untuk dimensi Extraversion bergerak antara 0,30 – 0,52, Agreeableness 0,32 – 0,60, Conscientiousness 0,30 – 0,60, Neuroticism 0,31 – 0,58, dan Openness 0,30 – 0,65. Reliabelitas kelima dimensi BFI bergerak antara 0,70 – 0,78.

Baikkah tingkat kesesuaian item-item yang saya terjemahkan tersebut dengan dimensi yang dikemukakan oleh Goldberg maupun dengan skala BFI yang disusun Oliver John? Untuk mendapatkan kejelasan mengenai hal ini saya menguji model pengukuran yang disusun Oliver John ini dengan menggunakan SEM. Silahkan dibaca artikel Big Five‘ yang dimuat di Jurnal Psikologi, 39(2), halaman 189-207 ini.

Kata kunci: Big Five Inventory, reliabelitas, adaptasi budaya, kepribadian

26 responses so far

Oct 26 2013

Mulut, kata-kata, dan harimau

Published by under Life Skills

‘Aji ne diri ono ing lathi’

Pepatah ini saya baca di perempatan ring road utara atau tepatnya di dekat apotik Kentungan sebelah selatan jalan.. Sudah lama saya membaca itu, dan sesungguhnya spanduk itu dibuat untuk iklan sebuah rumah mode, karena di bawahnya ada lanjutannya yaitu ‘aji ne saliro ono ing busono’. Apa makna kata-kata tersebut?

Sebagai seorang kelahiran dan hidup besar di Sumatera, saya tidak begitu pandai berbahasa Jawa. Namun dari hasil tanya-tanya sana dan sini saya mendapatkan jawaban bahwa ‘Aji ne diri ono ing lathi’ bermakna ‘keunggulan diri ada di lidah’ atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa harga diri seseorang sangat tergantung kepada kata-kata yang diucapakannya. Sedangkan, ‘aji ne raga ono ing busono’ bermakna ‘keunggulan penampilan fisik ada pada busana’ atau dalam kalimat yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa kecantikan atau ketampanan seseorang tergantung kepada pakaian yang dikenakannya.

Saya tidak begitu tertarik kepada kata-kata yang kedua karena sesungguhnya tulisan ini lebih kepada pengingat bagi saya khususnya dan teman-teman pembaca catatan ini bahwa semua kata-kata yang kita ucapkan sangat menentukan citra diri kita. Kata-kata ini tentu saja dapat berupa teks tertulis maupun ucapan lisan.

Saya ingat pepatah lain ‘mulutmu harimaumu’…

Sudah lama sekali pepatah ini saya peroleh dari para guru dannorang tua di dalam proses pendidikan yang saya terima. Pepatah itu seakan terlupakan sejenak. Di era teknologi ini dimana setiap orang dapat menyebarluaskan ucapan atau tulisannya melalui media sosial, website, blog, twitter, bahkan media lain yang dimiliki instansi yang biasa digunakan untuk berkomunikasi antar karyawan…pepatah tersebut tiba-tiba mendesak menyeruak muncul di kepala saya… Pepatah tersebut di atas menjadi amat penting untuk diingat lagi.

Media komunikasi IT dapat menjadi beranda bagi citra diri seseorang. Segala tulisan dan foto yang kita sajikan dapat menjadi potret dari diri seseorang… Berhati-hati di dalam mempublikasikan menjadi bijak apalagi pesan yang dituliskan mengandung pesan bermuatan negatif mengenai seseorang.. Kata-katamu adalah harimaumu yang mungkin siap menerkammu bahkan siapa saja yang membacanya…

 

No responses yet

Aug 06 2013

Bermain dan belajar bersama anak-anak di alam bebas

Published by under Life Skills

Tinggal di desa merupakan sebuah kemewahan bagi saya. Bayangkan saja, setiap hari saya bisa berpuas diri menghirup udara segar dan menikmati semilir angin… Kenikmatan yang akhir-akhir ini hanya sesekali dapat dijiwai pada saat memandu acara outdoor. Lucu memang..tinggal di desa tetapi berkarya di berbagai kota..

Gak lengkap rasanya jika selama ini saya banyak kali memandu aktivitas outdoor untuk institusi lain tapi tidak di desa sendiri. Desa Palgading, itulah namanya. Sebuah Desa yang kaya akan potensi alam maupun karya warga. Mumpung sedang libur, saya menyempatkan diri bersama teman-teman mengumpulkan anak-anak. Outdoor activities untuk anak. wah keren juga ya rasanya..

Dua puluh empat anak lengkar satu lusin perem[puan dan satu lusin laki-laki… bermain bersama sambil belajar tentang alam sekitar beserta property nya.. belajar saling peduli antar sesama teman.. belajar bekerjasama… belajar sabar.. dan tentu saja belajar berani..

2 responses so far

Aug 03 2013

Menjadi Guru Inspiratif

Published by under Books & Journals

Sebuah judul yang dirancang sedeikian rupa. Huruf Guru yang letaknya di tengah ditulis menjadi lebih besar. Bukan tanpa makna karena peran Guru berbeda dengan sekedar profesi guru. Peran Guru itu ada pada setiap orang, terutama yang sudah dewasa.

Guru-Guru yang telah sedikit-demi-sedikit memahat rasa peduli ke dalam diri. Kepedulian yang sangat kepada proses pembelajaran di sekolah, sebuah transfer yang seharusnya tidak hanya ilmu pengetahuan tetapi lebih daripada itu menggugah rasa sehingga berbuah karakter kepada setiap muridnya. Sebuah proses yang memang tidak mudah namun menjadi kewajiban bagi setiap orang dewasa. Tidak hanya bicara tetapi beraksi membimbing generasi menjadi seorang yang ingin membesarkan bangsanya. Mereka tidak terlalu banyak bicara dan kagum akan kebesaran bangsa lain tetapi lebih banyak bertindak membesarkan bangsanya sendiri.

No responses yet

Nov 10 2012

Religius and historical tour

Published by under My Personal Relation

The Blue Mosque

Incredible historical building

Istanbul: Yang selalu patut untuk dikenang

Kunjungan ke Istanbul sebetulnya bukan yang pertama kali. Ini yang ketiga kalinya saya ke Istanbul. Kunjungan pertama saya sempat bercerita di posting saya ‘Istanbul: aneka warna aneka gaya aneka budaya‘.  Sebuah kota yang tidak pernah puas untuk dinikmati. Allah SWT telah memberikan karuniahNya kepada umat manusia sebuah keindahan..

Pertama kali saya mengunjungi Istanbul pada Oktober 2008, dalam perjalanan menuju Sofia ibukota Bulgaria dalam rangka mengikuti konferensi East-European Conference on Psychology 30 Oktober – 3 November 2008.

Kunjungan ini sepertinya tidak dengan sengaja direncanakan karena hanya satu hari atau lebih tepatnya satu siang. Turkish Airline yang membawa saya ke Sofia transit di kota ini semenjak subuh hingga malam hari. Saya tidak menyia-nyiakan waktu dengan bergabung ke daily city tour..

Kurang puas dengan kunjungan siang hari ini, mendorong saya untuk mengubah rancangan perjalanan pulang saya dari Sofia. Selesai acara pokok menyajikan paper di East European Conference on Psychology, saya kembali ke Istanbul yang menjadikannya unjungan kedua. Kunjungan ini sepenuhnya hanya jalan-jalan sepuas-puasnya.

Kunjungan ketiga ini saya lakukan dengan sengaja dan betul-betul terencana, yaitu menghadiri International Conference on Education and Educational Psychology.. Saya menyajikan sebuah tulisan hasil kerja selama dua tahun dalam bidang pengembangan guru dengan Titian Foundation…

Pada kunjungan kali ini, saya sempatkan menelusuri lebih jauh kota sejarah Istanbul ini. Salah satu yang menakjubkan adalah’Yerebatan Sarayi” atau “Basilica_Cistern” yang menakjubkan.. Sebuah istana di bawah tanah yang dibangun kokoh…  gak bisa membayangkan generasi nenek moyang kita itu memang betul-betul pekerja muar biasa.. Bangunan ini didirikan pada abad ke-6 ini memang salah satu bukti sejarah yang wajib untuk dikenal oleh generasi penerus saat ini..

Cerita jalan-jalannya kayaknya perlu saya imbangi dengan berita bagus tentang kegiatan sesungguhnya dalam hal berbagi ilmu.. Yaaa kunjungan kali ini dalam rangka menghadiri International Conference on Education & Educational Psychology… Saya menyajikan hasil riset yang sudah dilakukan selama tiga tahun belakangan melalui kegiatan Bapak dan Ibu guru melalui kegiatan Teacher Quality Improvement…. Silahkan unduh unuk dibaca TQI Elsevier yang diterbitkan oleh Elsevier ini…,

One response so far

Jul 07 2012

Kepadatan itu bermakna kemajuan atau kemunduran?

Published by under Opinion

Genap tiga puluh tiga tahun, saya meninggalkan kota kelahiran Prabumulih. Ini (dulunya) adalah sebuah kota kecil di Sumatera Selatan. Jika anda yang membaca tulisan ini belum pernah melihatnya di peta, jangan berkecil hati. Itu bukan berarti nilai anda kecil di dalam pelajaran ilmu bumi tetapi semata-mata karena memang kota ini kecil tak tampak di peta yang menggunakan skala 1:1000…..

Di awal-awal perantauanku ke Yogyakarta ini, hampir setiap libur semester saya pulang menjenguk kedua orang tua yang hingga tahun 1997 berdomisili di sini. Duluuuu di tahun 1979 perjalanan antara bandara Talang Betutu (sekarang baca Sultan Mahmud Badarudin International Airport) Palembang yang berjarak sekitar 100 km itu memakan waktu 2 jam. Waktu tempuh itu semakin memendek semenjak Pemerintah Daerah dan mungkin juga didukung Pertamina yang kala itu dipimpin oleh Bapak Ibnu Sutowo membangun jalan yang super mulus. Alhasil di tahun 1986, ketika aku pulang membawa ijazah sarjana psikologi, hanya membutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan dengan mobil.

Awal Juli 2012, setelah 26 tahun saya mendapat kesempatan berkunjung ke kota Tanjung Enim. Kota dimana PTBukit Asam berada. Kesempatan ini tidak saya lewatkan dengan berbagai alasan, salah satu yang paling menarik adalah napak tilas mengunjungi kota kelahiran yang penuh kenangan ini. Saya yakin, setiap orang mempunyai kenangan indah di kota kelahirannya. Sambil membayangkan akan berjumpa teman-teman masa kecil di sana. Sebuah kolam ikan yang sering kali disulap menjadi kolam renang bagi kami di masa kecil selalu melitas di mata. Sebuah lubang di bawah besi pagar kolam renang, hasil karya tangan-tangan mungil selalu saja membuat saya tertawa sendiri. Ahhh indah sekali masa kecil itu, indah sekali kota kecil itu…

Rasanya ingin meminta Mas Imam, pengendara mobil yang menjemput kami untuk meningkatkan kecepatannya. Tidak sabar rasanya ingin melihat sebuah rumah peninggalan Ayahanda (alm) di pangkal kota itu. Tetapi mengapa lambat dan semakin lambat rasanya laju kendaraan ini? Mengapa jalan yang kami lalui semakin banyak berlubang? Saya melihat pemandangan asing bak kota Muntilan paska erupsi Gunung Merapi. Berderet truck besar merayap bahkan beberapa kali betul-betul berhenti.. Saya merasakan laju kendaraan tidak dapat meningkat karena kualitas jalan yang semakin berlubang.

Dulu, semasa kecil jalanan banyak juga berlubang yang mungkin disebabkan oleh kurang majunya teknologi transportasi di negara Indonesia ini. Sekarang nampaknya jalan itu berlubang sebagai pertanda penderitaannya menopang truck bermuatan super berat…

Saat ini, di amna teknologi transportasi sudah membaik, Jakarta macet karena pemerintah gagal membendung laju pertumbuhan kendaraan yang semakin tak berimbang dengan panjang jalan raya di ibu kota. Palembang-Prabumulih mengapa ikut macet? Jika Jakarta dipenuhi kendaraan pribadi para penduduknya, jalur Palembang-Prabumulih ini dipadati truck pengangkut sumber daya alam, ada kayu, kelapa sawit, dan yang paling memenuhi jalan adalah truck angkut batubara..

Seringkali ke ibu kota dan kota metropolitan di negara lain, memuatku makin maklum akan kemacetan. Itu pertanda padatnya penduduk dengan tata kota yang (mungkin) agak lambat meresponnya. Tapi mengapa hati saya kesal dengan kemacetan yang ada di sebuah kota yang daerahnya masih banyak lahan kosong? Lantas…macet ini pertanda apa?

2 responses so far

Next »