Apr 27 2017

Keterampilan Sosial itu memang penting

Jauh sebelum tahun 2000-an atau tepatnya 1993, saya melakukan riset tentang keterampilan sosial. Sebuah variabel yang banyak menjadi kendala bagi sebagian remaja dalam menjalin hubungan interpersonal. Bukan hal yang muluk tetapi amat nyata, jika saya katakan masih cukup banyak remaja kita yang mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

Orang bilang, keteratrikan terhadap topik seringkali mempunyai relevansi dengan permasalahan pribadi yang dihadapi. Saya tidak mempunyai alasan yang kuat untuk menolak. Bagaimana tidak dapat dilupakan betapa berat melalui masa-masa remaja dengan berbagai ragam karatkter teman-teman sebaya.

‘Kepingin berkenalan namun takut bagaimana jika ia menolak saya’.
‘Kepingin gabung berkelompok namun ragu apakah saya bisa melebur dengan mereka’.
‘Ingin mengungkapkan pendapat seakan ada yang bertanya tentang kualitas pertanyaan yang akan saya ajukan’.

Itulah kunci dari dibutuhkannya keterampilan sosial.
Keterampilan yang menghantarkan seseorang terhubung dengan rekan lainnya. Keterampilan yang mengisi kekosongan tatkala hening mencekam keberadaan saya di dalam kelompok. Keterampilan yang mempermanis olah kata yang dirangkai berhadapan dengan orang lain. Keterampilan yang menambah kualitas tampilan presentasi di muka publik.

Apakah keterampilan sosial hanya dibutuhkan ketika berhubungan dengan orang lain secara tatap muka saja?
Apakah keterampilan sosial itu hanya dibutuhkan tatkala seseorang berhadapan dengan orang lain?
Ketika era teknologi itu sudah merasuk ke dalam kerumunan masyarakat, ketika waktu-waktu kosong menggoda seseorang untuk bermain solitaire. Bagaimana jika game online menjadi begitu mengasikkan daripada menjalin hubungan interpersonal, apakah keterampilan sosial ini menjadi penting?

Indah Nugraini, salah satu mahasiswa S1 bimbingan saya menemukan bahwa Keterampilan Sosial itu mampu mempertahankan kondisi sejahtera psikologis. Menarik? Silah baca di Jurnal Psikologi edisi 43, nomor 3 2016.

No responses yet

Feb 08 2017

Pengukuran variabel psikologis untuk penelitian

Published by under Methodology

Saya bukan ahli psikometri tetapi cukup banyak melakukan penelitian di bidang psikologi. Dari beberapa penelitian tersebut, ada beberapa yang menginspirasi para peneliti untuk melakukan hal serupa setidaknya meneliti variabel yang sama. Senang dan ingin sekali berbagi memudahkan proses pembelajaran terustama para mahasiswa. Hampir setiap hari saya menerima email dari mereka bertanya maupun minta ijin sampai ke mintra alat ukur yang saya gunakan. Pada prinsiopnya saya tidak berkeberatan namun kadang agak sulit mengalokasikan waktu merespon mereka satu per satu.

Laman ini sengaja saya bangun untuk mencantumkan riset-riset yang alat ukurnya dapat juga digunakan teman-teman para peneliti sehingga bagi yang membutuhkan silahkan dapat langsung menggunakannya. Persyaratannya tidak berat selama alat ukur itu digunakan untuk kepentingan sendiri dan untuk penelitian. Jangan lupa bagi yang sudah menggunakan untuk dapat share hasilnya dengan cara mencantumkan hasil temuannya pada komentar di bawah ya.

Format sharingnya seperti abstrak saja ya berisi sbb.:

Nama Anda siapa dan dari institusi mana?
Responden: siapa, usia berapa, dan berapa orang
Variabel lain yang diteliti
Metode analisis yang digunakan apa
Jika tidak semua item digunakan mohon cantumkan item apa saja yang tidak digunakan atau diubah tersebut
Jika melakukan uji analisis item tolong juga diinfo ke saya ya..
Terakhir, hasilnya bagaimana

========

 

The Big Five Inventory; penjelasan dapat dibaca di
Ramdhani, N. (2012). Adaptasi bahasa dan budaya dari skala Big Five, Jurnal Psikologi, 39(20, hal. 189-205.

 

No responses yet

Dec 24 2016

Game Internet dan Adiksi, Kontrol dirikah solusinya?

Published by under Courses

Tulisan ini sebagian dari chapter buku Psikologi untuk Indonesia Tangguh dan Bahagia, yang diterbitkan Gadjah Mada University Press.

psikologi-untuk-indonesia-tangguh-dan-bahagia-500x500

Malam bunda..
mau curhat nii.. sedang galau berat, kesel, bete banget suamiku
kecanduan game online…
sampe aku kurang di perhatiin.. lagi sakit juga cuek otaknya trus ke game..
gamee melulu yg diperhatiin.. istrinya gak..
aku bingung bund harus gimana.. udah gitu ngerokoknya kuat banget bunda..
jadi stress ngliatnya..

Sumber: ibuhamil.com (16 April 2015)

 

Pengantar

Bermain game apalagi game internet memang mengasikkan. Ragam aktivitas diperoleh ketika berada di lingkungan virtual umumnya memberi pengalaman petualang, kompetisi, hadiah merupakan penarik dari sebuah game. Dalam game internet, pemain bahkan dapat membangun relasi dengan rekan dari berbagai antero dunia. Lebih dari itu, kompetisi yang dilakukan di dalam bermain game internet menawarkan hadiah yang menggiurkan, baik berupa uang, kenaikan level, maupun pengakuan dari rekan sesama pemain game internet. Berbagai pengalaman yang umumnya bersifat emosional diperoleh seorang pemain game internet ketika berinteraksi dengan rekan bermainnya. Mereka saling mendukung sekaligus berkompetisi, mereka saling terbuka walau mereka juga mempunyai kewenangan untuk memilih informasi mana yang akan dibagikan kepada siapa.

‘Dunia ada di ujung jemari’ begitulah fakta yang dialami seorang pengguna internet khususnya pemain game. Selama bermain, mereka seakan mempunyai keleluasaan dalam mengonstruksi karakter rekan-rekan yang bermain dengannya sesuai dengan yang mereka inginkan. Pada saat ini karakter itu masuk ke dalam kehidupan intrapsikis mereka sehingga mereka mengonstruk rekan bermainnya sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dalam keadaan seperti ini, para pemain game internet memperoleh rasa nyaman karena mereka terbebas dari kewajiban sosial, termasuk berinteraksi dengan istri yang sedang sakit, dan mereka terbebas dari penilaian sosial yang selama ini mereka rasakan. Ketika para pemain berada di dalam lingkungan permainannya, mereka melakukan apa yang sebetulnya tidak mereka setujui seperti misalnya mengabaikan istri yang sedang sakit. Pada saat berada dalam lingkungan permainannya, mereka seakan kehilangan kontrol atas dirinya sendiri sehingga melakukan hanya yang mereka inginkan saat itu yaitu bermain game internet.

curhat_anak_8-tahun

Gambar di atas yang dicuplik dari sebuah laman facebook seorang dokter memuat curahan hati seorang anak berusia 6 tahun yang menyaksikan ayahnya berang ketika diingatkan oleh ibunya karena terlalu banyak menghabiskan waktu bermain game Castle of Clan, yang banyak dikenal dengan COC (baca=se-o-se). Sosial media banyak memberitakan betapa COC ini membius para lelaki pemain game internet sehingga tega menghindar dari tanggung jawab terhadap keluarganya. Tulisan ini tidak akan membahas tentang ragam game internet namun lebih ke proses psikologis yang dialami oleh seorang pemain game internet sehingga mengalami adiksi. Di bagian akhir dari tulisan ini akan diajukan beberapa usulan yang mugkin perlu ditanamkan kepada para generasi muda agar dapat lebih mampu melakukan control terhadap pilihan mereka sendiri.

Internet, akhir atau awal dari suatu permasalahan?
Game Internet, hiburan yang memabukkan
Game internet dan adiksi
Kontrol diri dan adiksi game internet
Penutup, usulan bagi penelitian dan praktek psikologi

Silahkan unduh tulisan chapter di bawah ini dan sitasi tulisan ini adalah sbb:

Ramdhani, N. (2016). Game Internet dan Adiksi, Kontrol dirikah solusinya? Dalam N. Ramdhani, S. Wimbarti, & Y.F. Susetyo. Psikologi untuk Indoensia Tangguh dan Bahagia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hal.: 46-65.

No responses yet

Dec 17 2016

Ketika Internet singgah di Rumah kita

Published by under Cyber Psychology

img_1378_kecil

Sebuah judul yang bagus dan mengandung ajakan introspeksi, itu kesan saya ketika Marty Mawarpuri menyampaikan topik acara yang (akan) diselelnggarakan di Banda Aceh. Mengapa saya kategorikan kepada judul yang bagus dan mengapa pula saya katakan mengandung ajakan introspektif? Ada apa sebetulnya dengan Internet? Mengapa kesinggahan Internet di rumah menjadi bahasan menarik yang hingga tak kurang dari 300 orang tua dan remaja yang dikawal oleh Lely Safrina, Usfur Rieda, dan tentu saja Ikatan Psikologi Klinis dibawah komando ketuanya yang pandai bermusik itu berkumpul di sebuah Auditorium kantor di Gubernur-an Banda Aceh ini? Baca beritanya di Tribun News

Internet adalah sebuah karya teknologi yang telah berhasil melahirkan peradaban baru. Internet, yang memfasilitasi penggunanya berselancar, berkomunikasi, melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti belanja, konsultasi kokter, konsultasi pendidikan, konsultasi permasalahan psikologi, bekerja dlsb…. Jika pada awalnya Internet diciptakan untuk memfasilitasi semua aktivitas dengan maksud agar para pengguna dimudahkan pada saat ini, tak dinyana oleh para babby boomers yang sebagian besar tak siap dengan perubahan, terkaget-kaget dengan perubahan tatanan kehidupan pada generasi digital.

Para babby boomers telah menyulap tanah lapang tempat yang di kala mereka muda berlari, bersepak bola, bermain kasti telah disulap menjadi apartment dan pusat perbelanjaan. Tidak menjadi masalah bagi generasi digital karena mereka dapat memainkan itu semua melalui permainan di monitor mereka. Lalu lintas yang sepanjang hari macet karena meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan perpanjangan ruas jalan, karena juga semakin tingginya daya beli para babby boomers sehingga mendorong mereka belanja mobil lebih dari satu, juga tidak menjadi maslah bagi generasi digital karena toh mereka dapat baca buku di e-library dan ebook, belanja melalui e-buy dan e-lainnya, ngobrol melalui social media dan lain-lainnya..

img_1376-kecil

Soo apa yang membuat resah?

Penggunaan yang bermanfaat sesuai dengan kebutuhan dari suatu perangkat teknologi tentu saja merupakan sebuah keharusan. Masalah mencuat ketika penggunaan itu menjadi berlebihan sehingga pengguna Internet bermain game dengan cara memangkas waktu yang seharusnya ia gunakan untuk keperluan hidup lainnya. Masalah semakin genting ketika pula pengguna Internet yang tak cukup dukungan finasial rela memangkas waktu negosiasinya dengan cara memaksa orang lain mengikuti kehendaknya, bahkan memaksa dan merebut hak orang lain demi rupiah untuk belanja perangkat atau bandwidth. Masalah menjadi darurat manakala Internet ini digunakan untuk memecah belah bangsa yang bersaudara. Media sosial telah dijadikan sarana penyebar gosip yang membuat resah pembacanya..

Lantas, apakah Internet itu buruk?

Kembali lagi ke pemahaman semula. Internet itu netral. Internet itu sebetulnya tak ubahnya seperti perangkat teknologi lain yang diciptakan untuk memudahkan manusia dalam meningkatkan efektivitas hidupnya. Internet menjadi malapetaka ketika tangan-tangan penggunanya tak mampu menyelaraskan antara emosi yang ditimbulkan dari lingkungan yang tercipta berbasis Internet ini, dengan logika berpikir tentang berbagai pesan yang tersirat dari beratus bahkan beribu dan berjuta pesan yang tersurat.

Apa dasarnya??

 

++bersambung di kala senggang yang berikutnya++

No responses yet

Jan 24 2016

Literasi Digital itu semakin penting

Published by under Cyber Psychology

Tulisan kedua dari Literasi Digital.

Entah yang keberapa kalinya saya menerima pesan yang menimbulkan pertanyaan:

Tanaman keladi beracun
Lowongan kerja BUMN
apalagi….
sharing teman tentang kejadian tengah malam tatkala sedang terlelap dibangunkan oleh seorang penelepon yang merengek ‘ma, dede dirampok ma..’ atau kejengkeladan sekaligus kesedihan seorang rekan yang tanpa disadarinya telah tertipu puluhan juta rupiah karena dengan ‘sekarela’ menguras uang di ATM

Kisah lain disampaikan seorang rekan dosen yang mendapati tugas paper yang kembar antara satu mahasiswa dengan yang lainnya. Belum lagi, ketika sedang menjalankan tugas menguji sebuah tesis menyadari adanya gaya penulisan yang ‘rasa-rasanya’ pernah kenal.

Semakin canggih media komunikasi berbasis internet yang digunakan itu semakin canggih pula pengacau yang mengecoh ketenangan hidup pengguna media, konsekuensinya urgensi akan Literasi Digital sudah tidak dapat ditunda lagi.

Literasi berasal dari kata berbahasa Inggris literate, yaitu mampu menulis atau membaca. Arti lain dari literate yang dicantumkan di kamus Cambridge online adalah memiliki pengetahuan tentang subjek tertentu. Lantas, jika judul tulisan ini literasi digital artinya kemampuan pengguna media digital, meliputi berbagai hal sedemikian rupa sehingga penggunanya dapat memperoleh manfaat dan terhindar dari berbagai kerugian.

Tulisan berikut sebetulnya saya niatkan kirim ke surat kabar sehari setelah rame-rame terbit Surat Edaran Kapolri no SR/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian yang dipublikasikan media beberapa waktu lalu. Tapi apa daya setelah rampung nulis belum sempat kirim listrik mati sampe tengah malam sampai akhirnya matapun terpejam. Pada saat listrik nyala lagi, hari sudah pagi dan apa daya sekali lagi mood menulis itu seakan pergi entah kemana.

Tak kurang dari limabelas tahun semenjak memasuki era reformasi yang datangnya bertepatan dengan meningkatnya laju pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat Indonesia seakan mendapatkan kebebasannya, ‘sudah lebih bebas bicara, dapat media pula’. Eforia kebebasan berpendapat ini menjadikan sebagian masyarakat ‘bak lepas bebas dari kandangnya’. Masyarakat menyampaikan pemikirannya tentang seorang warga Negara bahkan pengelola Negara sudah tidak hanya melalui tulisan yang harus di reviu oleh tim Dewan Redaksi, tetapi mereka dapat menyuarakannya sendiri melalui teks tertulis maupun lisan. Media sosial seperti Facebook, Path, Tweeter, Youtube, demikian pula media televisi memberikan peluang bagi masyarakat mengambil hak menyuarakan pendapatnya.

Di era sebelumnya, tak hanya warga bahkan mediapun akan berpikir panjang untuk mempublikasikan pendapat perorangan atau kelompok yang mengandung kritik terhadap perorangan ataupun kelompok apalagi pejabat pemerintah. Semua hati-hati, mungkin juga menjaga perasaan pembacanya, sehingga cenderung menjadi terlalu ditutup-tutupi. Kini, media televisipun tak segan bahkan dengan sengaja menyediakan ruang yang dapat menampung pendapat berisi keluhan, kritikan, juga usulan warga negaranya. Semakin pedas dan terbuka semakin mengundang penonton dan pembaca, hasilnya tentunya rating siaran meningkat dan keuntungan ekonomi di depan mata.

Keterbukaan ini sesungguhnya merupakan iklim kondusif bagi pendewasaan masyarakat dalam berbagai hal. Dalam hal politik, masyarakat menjadi semakin paham tentang kewajiban sebagai warga Negara, mereka pun mendapatkan pengetahuan tentang sistem pemerintahan, dan perpolitikan. Dalam kehidupan bisnis, masyarakat menjadi lebih akrab dengan perekonomian global, konversi nilai mata uang, peta anggaran belanja, bahkan prediksi perekonomian makro pun dapat pula diakses dengan lebih mudah. Dalam hal pendidikan sudah tidak dapat dibantah lagi beribu bahkan jutaan sumber ilmu pengetahuan tersedia dalam berbagai bentuk. Dalam kehidupan sosial, tak terhitung berapa talian baru tersambung bahkan yang selama ini putus dapat tersambung kembali. Teori ‘the sixth degree of separation’ yang mulanya fiksi karya Frigyes Karinthy nampaknya kian mewujud dalam kehidupan nyata. Setiap orang dengan orang lain dapat terhubung oleh maksimum lima penghubung saja.

Apa dampaknya? ‘Dunia semakin kecil’ artinya setiap orang dapat mengetahui segala sesuatu yang terjadi di belahan benua lain hanya dengan ‘klik’. Teknologi sudah memberi peluang bagi keterbukaan dalam berbagai hal. Temuan ilmiah sudah semakin sulit disembunyikan. Strategi pemerintahan pun semakin terbuka dibahas oleh berbagai pihak. Apakah setiap orang dapat melakukan apa saja yang ia ingin lakukan? Apakah setiap pemilik akun media sosial perlu menuliskan setiap ide yang terintas di dalam pikirannya, termasuk serapah dan rundungan? Tentu saja visi dari pencipta teknologi ini adalah hadir dan berperan dalam setiap problem manusia. Akan halnya efek samping berupa perseteruan bahkan lahirnya problem yang lebih berat sebagian besar dihasilkan oleh keterbatasan kemampuan para penggunanya.

Pemerintah dengan KUHP dan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), diperkuat oleh SE Kapolri SR/6/X/2015 merupakan pengingat bagi warga pengguna dan pekerja media. Namun aturan saja tidak cukup sehingga dari pihak pengguna sendiri dibutuhkan kesadaran untuk meningkatkan literasi digital atau literasi Internet.

Literasi digital pertama kali disebutkan oleh Paul Gilster dalam bukunya berjudul Digital Literacy pada tahun 1997, kemudian divalidasi dengan riset yang dilakukan penulis bersama tim di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, yang beranggotakan Wisnu Wiradhani dan Dita Rahmayani. Literasi digital adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh para pengguna perangkat berbasis teknologi digital atau komputer, baik untuk memahami maupun memanfaatkan informasi dalam berbagai format. Secara garis besar, literasi digital ini dapat digolongkan ke dalam empat level tergantung kepada aktivitas yang dilakukukan oleh para penggunanya.

Pertama, kemampuan instrumental yaitu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pengguna Internet yaitu keterampilan mengoperasikan komputer maupun perangkat lunak yang terinstal di dalamnya. Di dalam keterampilan ini juga termasuk memahami jargon yang digunakan oleh setiap piranti sehingga pengguna dapat secara optimal memanfaatkan piranti yang dimilikinya. Tak jarang kita menyaksikan seorang memiliki gadget canggih namun tidak memahami bagaimana memanfaatkan fitur yang ada di dalam piranti tersebut. Dalam hal memanfaatkan instrument internet, keterampilan ini juga mencakup cara melakukan navigasi berselancar di dunia maya.

Kedua, kemampuan dalam mengevaluasi informasi, yang diawali dengan menginterpretasi data baik teks, gambar, suara, maupun perpaduannya. Semakin tinggi tingkat kemampuan dalam menginterpretasi ragam informasi ini maka akan semakin banyak manfaat yang diperoleh. Di samping itu, dengan kemampuan evaluasi ini pengguna Internet akan berpikir kritis, memilah informasi mana yang sahih sehingga dapat dipercaya. Kemampuan mengevaluasi informasi ini sangat penting mengingat saat ini beragam informasi terpapar bebas, apakah pengguna Internet itu merupakan target atau audiens yang layak mengakses informasi itu. Dengan kemampuan mengevaluasi ini, informasi yang tidak tepat sasaran dapat secara cerdas ditolak oleh para pengguna.

Ketiga, kemampuan menghasilkan informasi, yang termasuk di dalamnya pembuat dan penyebar informasi perlu memiliki kemampuan dalam mengumpulkan, mengolah, dan membangun informasi menjadi sebuah produk yang berkualitas dan etis. Produk informasi yang dihasilkan diarahkan kepada produk yang bermanfaat sehingga ia tidak menjadi produsen ‘sampah elektronik’ yang semakin memenuhi dunia maya. Dalam hal menyebarluaskan informasi yang ia kembangkan perlu juga memilih media yang dapat dipercaya. Demikian pula sebaliknya, sebagai audiens yang memanfaatkan informasi, pada level ini diperlukan kemampuan dalam mengevaluasi media mana saja atau informasi mana saja yang layak dipercaya.

Keempat atau yang terakhir penanda seorang yang memenuhi kriteria literasi digital adalah memahami tanggung jawab sosial atas informasi yang diakses dan dimanfaatkan, dan dihasilkan. Pada level ini, kemampuan pengguna Internet untuk dapat peka akan karya cipta orang lain, pengetahuan tentang bagaimana menghindari plagiarism ataupun self plagiarism sudah semakin memprihatinkan. Semakin nyata lagi betapa masih terbatasnya taraf literasi digital bangsa kita pada saat berpuluh bahkan mungkin beratus laporan penipuan, salah paham akibat berita ‘hoax’, bahkan informasi-informasi penyedap aktivitas para perundung di dunia maya. Informasi yang belum jelas kebenarannya seakan menjadi suguhan tidak hanya setiap hari bahkan setiap menit.

Apakah pengguna media di Indonesia sudah memenuhi kriteria sebagai warga yang memenuhi kriteria literasi Internet? Apakah lulus dan mendapat nilai bagus dalam pelajaran TIK bagi anak-anak kita, yang sesungguhnya baru mencakup kriteria pertama saja sudah cukup? Inilah sesungguhnya pekerjaan rumah kita semua, warga Negara salah satu yang masuk ke dalam kategori konsumen gadget terbesar di dunia.

Yogyakarta, 10 November 2015.

Neila Ramdhani.

 

 

No responses yet

Nov 05 2015

Literasi Digital

Published by under Blogroll,Cyber Psychology

Awalnya agak janggal saya menuliskan judul ini. Kata literasi selama ini saya kenal bila digandengkan dengan huruf yan digandeng menjadi kata sedemikian rupa mempunyai makna. Literasi juga digunakan ketika saya ingin menggambarkan seorang yang mempunyai kemampuan sebuah bahasa. Yang satu ini? Literasi digandeng dengan digital, ya tentu saja akan berkaitan dengan teknologi digital. Mengapa teknologi ini pun digandeng dengan literasi?

Era teknologi informasi sudah tidak dapat dihambat lagi. Inovasi dan penerapannya ke dalam berbagai lini aktivitas kehidupan manusia seakan angin segar yang berhembus merasuk ke dalam setiap ruang yang dapat disapanya. Jika beberapa tahun lalu, di kala saya masih muda belia, saya mempunyai hobi sahabat pena. Surat ditulis kemudian dimasukkan ke dalam amplop dibawa ke kantor pos untuk dibelikan perangko dan dibawa oleh petugas pos ke alamat tujuan..  Sekarang surat berperangko nyaris punah diganti surat elektronik atau pesan singkat melalui mobile phone. Sahabat pena saya masih menjadi sahabat sampai sekarang. Kami tidak lagi bertulis pesan di atas lembar kertas indah warna merah jingga melainkan email dan sms.

Revolusi teknologi informasi ini tentu saja amat menguntungkan bagi sebagian insan di negeri ini. Pun sebaliknya media menyiarkan berbagai peristiwa sedih mengenaskan sebagai dampak buruk dari TI ini..  ‘Remaja pergi meninggalkan rumah dengan rekan facebooknya’..ahaaa judul manis bak pisang goreng telah meningkatkan oplah media ini. Kisahnya memang nyata apalagi disusul peristiwa berikut ”seorang ibu tertipu jutaan rupiah setelah chating dengan rekan facebooknya’..  ‘Murid SLTA di skors pihak sekolah karena telah menghina gurunya’. Halaah kok jadi begini ya? Ditambah lagi dengan ‘pemukulan wasit sepak bola pasca penulisan status seorang tentang wasit tersebut’..

Mengapa demikian?
Teknologi infomasi yang bermerger dengan media komunikasi telah menjadikan manusia sebagai pengguna tak terkendai. Tak pelak lagi, berita dan status seseorang dituliskan dengan sangat gamblang. Seringkai tanpa sempat memperhitungkan resiko pasca pemberitaan tersebut. Setiap orang jadi penulis, setiap orang dapat menyebarluaskan tulisannya. Dampak positif tentu saja ada namun negatif juga tak kurang.

Di sinilah urgensinya Literasi Digital. (bersambung)

 

No responses yet

Aug 28 2014

Menggosok semen menjadi emas

Published by under Books & Journals

Catatan kecil dari Seminar ‘Aku Bangga menjadi Guru’
Yogyakarta -26 Agustus 2014.
=============================

Kumpulan kisah inspiratif karya guru

Kumpulan kisah inspiratif karya guru

Kisah Romeo dan Juliet seakan abadi di segala generasi. Dibalut oleh luapan emosi cinta, keduanya tak akan terpisah. Sedemikian dahsyatnya efek dari emosi positif yang membuat manusia rela berkorban.

Cinta adalah salah satu wujud dari emosi positif. Ada sayang, senang, gembira, bangga, dan lainnya yang membuat manusia dapat menikmati indahnya dunia. Emosi positif juga yang membuat seorang ibu lupa akan sakit ketika melahirkan bayinya. Iwan Fals, penyanyi sohor pun melantunkan penggalan lagu pada saat seorang jatuh cinta sebagai “tai kucing serasa coklat”.

Membaca pengalaman guru-guru yang dituliskan di buku ‘Aku Bangga menjadi Guru’ mengingatkan saya kepada materi kuliah emosi, ada emosi yang positif misalnya cinta, sayang, gembira, dan bangga. Ada juga emosi yang negatif misalnya marah, jengkel, sedih, geram, bahkan benci. Emosi memberi warna bagi kehidupan, karena suasana emosi seseorang dapat mempengaruhi respon orang lain yang berinteraksi dengannya.

Coba saja, berapa banyak guru menuliskan bahwa siswanya yang nakal walaupun secara keilmuan mereka belajar dan paham betl bahwa seringkali kenakalan itu adalah salah satu ciri dari kretaivitas anak.. Kemudian berapa guru pula yang mengatakan muridnya ‘caper’ atau ‘carmuk’ sevbagai singkatan dari cari perhatian dan cari muka… Belum lagi seorang ibu guru selalu dibuat setengah kehabisan nafas menahan jengkel karena muridnya yang iseng atau usil.. yang lebih banyak membuat para guru jengkel, marah, bahkan geram yang seringkali mengganggu suasana hati guru ketika menjalankan tugas sebagai pendidik.

Menghadapi ke-nakal-an, ke-kurang perhatian, ke-iseng-an, bahkan ke-tidak tahu-an anak dengan emosi marah, jengkel, bahkan geram niscaya menuai respon yang membuat guru bertambah marah, bertambah jengkel, bertambah geram. Coba saja simak ungkapan seorang guru “… Mengapa kamu tidak mengerjakan PR?” tanyaku dengan sedikit membentak. Dia hanya terdiam. Wajahnya tegang. Teman-temannya hanya terdiam. Suasana pun jadi tegang. Hening. Ditambah hujan mulai mengguyur di pagi ini. “Maju!” kataku mulai emosi. Dia berjalan pelan. “Kamu, Ibu hukum! Tidak mungkin lari di lapangan karena hujan. Kamu cukup berjalan jongkok mengelilingi kelas ini!”

Membaca kisah ini serasa berdegup lebih keras jantung saya. Betapa tidak, ketika guru memulai dengan “sedikit membentak” hingga hukuman fisik dibebankan kepada anak “berjalan jongkok mengelilingi kelas”’. Seketika, seisi kelas pun ikut terhenyak, terdiam, tegang. Suasana kelas berubah dan dipenuhi oleh emosi negatif. Dapat dibayangkan, apakah yang akan terjadi seharian itu? Dapatkan proses pembelajaran berjalan baik?? Nyaris tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru marah, murid tegang. Siapa yang dapat belajar dalam kondisi seperti ini.

Sangat berbeda dengan suasana kelas yang dipenuhi emosi positif. Mendidik anak-anak yang “dikirimkan” untuk bersekolah dengan cinta memberikan pengalaman positif bagi guru, seperti salah satu kisah ini: “….….Kuhapus perasaan sedihnya dengan rasa sayangku seperti kepada anakku sendiri. Kubiarkan ia menangis dipelukanku seperti menangis kepada ibunya sendiri. Akhirnya ia pun mau masuk ke dalam kelas. Dan sejak itu ia mulai bersikap sopan kepadaku saat di kelas.

Terjadi perubahan perilaku pada seorang anak yang diperlakukan dengan kasih-sayang. Pada awalnya ia takut untuk masuk kelas karena terlambat akhirnya iapun mau masuk kelas. Bahkan, jika sebelumnya ia anak yang bandel telah menjelma menjadi anak yang sopan. Respon positif ini tidak hanya bermanfaat bagi anak, pun bagi guru, seakan mendapat hadiah guru senang untuk meningkatkan upayanya pada saat melihat hasil yang baik.

Coba pula simak kisah berikut ini: “Saya pun mencari cara untuk membuat Rafi bisa tersenyum sambil tentu saja mengajak semua murid kelas VB untuk aktif belajar dalam arti yang sesungguhnya, yakni benar-benar belajar. Berbagai permainan saya lakukan untuk mengajak mereka bisa bekerjasama, baik itu dengan berpasangan maupun berkelompok. Di luar jam pelajaran, saya masih berupaya untuk mengajak Rafi mengobrol agar dia merasa tidak sendirian lagi.”

Ini curahan hati seorang guru yang pada akhirnya berubah hati dan pikirannya setelah mengetahui latar belakang kemurungan ekspresi wajah muridnya yang bernama Rafi. Walaupun kesadaran itu datangnya di belakang, namun tak ada kata terlambat untuk sebuah proses perubahan ke arah yang lebih baik. “……….. saya menyadari, sebagai guru saya memiliki anak didik yang bermacam-macam baik karakter, sifat maupun latar belakangnya.” Begitulah ungkap ibu guru setelah mengikuti program TQI di Titian Foundation.

Memang seorang guru datang ke kelas untuk mengajar sehingga “Bagaimana mungkin anak hanya bermain-main di kelas?” Begitulah yang dipikirkan guru. Guru seringkali lupa bahwa anak akan sangat sulit untuk memahami gurunya karena mereka belum pernah menjadi guru. “Kepedulian guru sangat berpengaruh terhadap semangat belajar anak. Kadang guru seakan menuntut anak untuk memahami mereka.

Memabaca kisah-kisah dan ungkapan guru ini, tak terbayang ada berapa Rafi yang semula adalah seorang anak yang murung dan hanya duduk di pojok kelas  akhirnya dapat tersenyum lebar membersitkan kebahagiaan dan dimatanya mulai terlihat cahaya berkilau ke’emas’an. Ya… mungkin benar apa yang dikatakan rekan penulis St. Kartono bahwa mereka ini pada awalnya ibarat ‘seonggok semen’ yang tak dilirik siapapun. Mereka dikirimkan ke sekolah untuh di gosok agar dapat bersinar..

Terima kasih guru-ku yang telah berbagi pengalaman di sini. (Tak layak rasanya menghitung berapa waktu dan tenaga yang telah saya hibahkan untuk program TQI ini bila dibandingkan dengan rasa bangga kepada bapak dan ibu guru yang sudah mendidik anak-anak muda pemelihara bumi di masa depan, “emas” itu ada di setiap mereka. Kita, para guru, diperlukan di sini untuk menggosok mereka menjadi emas berkilauan..+++

2 responses so far

Feb 05 2014

Mendampingi anak-anak di era digital

Published by under Courses,Cyber Psychology

Selalu menyenangkan dan selalu menumbuhkan semangat.. Begitulah rasanya hati saya setiap kali diundang untuk berbagi dengan bapak/ibu guru..

Sore kemaren, 5 Februari 2014 saya diminta bu Esti, rekan dosen Fakultas Psikologi unutk berbagi dengan bapa/ibu guru dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan yang amat biasanya dilakukan oleh insan yang mengemban amanah sebagai dosen. Memang agak berbada kali ini karena topiknya adalah toppik yang sebagian besar dihadapi oleh para guru dan orang tua.. seputar teknologi..

Apakah layak kita sebagai guru melarang anak membawa HP ke sekolah?

Bagaimana jika orang tua protes pada saat sekolah menetapkan larangan memabawa HP ke sekolah?

Seorang anak sudah beberapa kali dinyatakan tidak dapat memenuhi syarat minimum TPM, ketika kami mengundang dan membicarakan dengan orang tua maka orang tua menyatakan bahwa problem mereka di rumah adalah menghadapi kenyataan anak tidak bisa lepas dari HP??

Banyak sekali pertanyaan dan saya sudah menjawab dengan lisan pada saat seminar.. Tentu saja saya ingin menuliskannya di sini karena saya yakin di luar sana ratusan bahkan ribuan guru dan orang tua mengadapi permasalahan serupa..

Berikut Moral Education for Digital Generation.ppt seminar yang saya susun berbdasarkan berbagai sumber.. silahkan sharen dan pelajari sehingga suatu saat kita dapat diskusi dan sarasehan menganai hal ini…

 

 

 

4 responses so far

Jan 12 2014

Adaptasi bahasa dan budaya Big Five Inventory

Published by under Books & Journals

Penggunaan taksonomi kepribadian Big Five di dalam penelitian psikologi makin hari makin meningkat. Di Indonesia, riset yang menggunakan inventori kepribadian Big Five memrediksi perilaku konsumtif, minat kewirausahaan, kepuasan konsumen, hingga komitmen organisasi.  Ada yang menggunakan Big Five Inventory, ada juga yang menggunakan Five Factor Model. Jumlah itemnya pun berbeda-beda, ada yang 44 item, 50 item, 100 item, bahkan ada yang 300 item.

Riset ini bertujuan untuk mengadaptasi Big Five Inventory (BFI) ke dalam Bahasa Indonesia, yang disajikan dalam dua tahap. Pertama, proses penerjemahan BFI yang dikembangkan oleh Oliver John, terdiri dari 44 item. Penerjemahan dilakukan oleh dua orang Indonesia berlatar belakang ilmu psikologi yang pernah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari lima tahun. Hasil terjemahan ini didiskusikan untuk memperoleh kesamaan pemaknaan masing-masing item. Proses diskusi ini dimoderatori oleh seorang psikolog yang bergelar Ph.D lulusan Amerika Serikat. Hasil terjemahan yang disepakati ini, selanjutnya diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh seorang penerjemah professional yang tidak berlatar belakang ilmu psikologi. Hasil terjemahan ulang ke dalam bahasa Inggris ini dibandingkan dengan BFI asli. Diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan makna antara item-item BFI asli dengan terjemahan ulang BFI versi bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Selanjutnya, BFI versi bahasa Indonesia ini dibaca oleh tiga orang awam yang bertujuan untuk mengetahui apakah hasil terjemahan tersebut dapat dipahami. Setelah diyakini bahwa item-item tersebut dipahami sesuai dengan tujuan masing-masing item maka tahap pertama riset ini dianggap selesai. Kedua, BFI versi bahasa Indonesia disajikan kepada 790 orang responden dengan latar belakang usia, pendidikan, dan daerah asal yang beragam.

Hasil penelitian tahap satu disajikan dalam bentuk paparan proses penerjemahan. Hasil penelitian tahap dua berupa uji korelasi tiap item dengan skor total. Hasil tahap dua ini menunjukkan bahwa korelasi item dengan total untuk dimensi Extraversion bergerak antara 0,30 – 0,52, Agreeableness 0,32 – 0,60, Conscientiousness 0,30 – 0,60, Neuroticism 0,31 – 0,58, dan Openness 0,30 – 0,65. Reliabelitas kelima dimensi BFI bergerak antara 0,70 – 0,78.

Baikkah tingkat kesesuaian item-item yang saya terjemahkan tersebut dengan dimensi yang dikemukakan oleh Goldberg maupun dengan skala BFI yang disusun Oliver John? Untuk mendapatkan kejelasan mengenai hal ini saya menguji model pengukuran yang disusun Oliver John ini dengan menggunakan SEM. Silahkan dibaca artikel Big Five‘ yang dimuat di Jurnal Psikologi, 39(2), halaman 189-207 ini.

Kata kunci: Big Five Inventory, reliabelitas, adaptasi budaya, kepribadian

28 responses so far

Oct 26 2013

Mulut, kata-kata, dan harimau

Published by under Life Skills

‘Aji ne diri ono ing lathi’

Pepatah ini saya baca di perempatan ring road utara atau tepatnya di dekat apotik Kentungan sebelah selatan jalan.. Sudah lama saya membaca itu, dan sesungguhnya spanduk itu dibuat untuk iklan sebuah rumah mode, karena di bawahnya ada lanjutannya yaitu ‘aji ne saliro ono ing busono’. Apa makna kata-kata tersebut?

Sebagai seorang kelahiran dan hidup besar di Sumatera, saya tidak begitu pandai berbahasa Jawa. Namun dari hasil tanya-tanya sana dan sini saya mendapatkan jawaban bahwa ‘Aji ne diri ono ing lathi’ bermakna ‘keunggulan diri ada di lidah’ atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa harga diri seseorang sangat tergantung kepada kata-kata yang diucapakannya. Sedangkan, ‘aji ne raga ono ing busono’ bermakna ‘keunggulan penampilan fisik ada pada busana’ atau dalam kalimat yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa kecantikan atau ketampanan seseorang tergantung kepada pakaian yang dikenakannya.

Saya tidak begitu tertarik kepada kata-kata yang kedua karena sesungguhnya tulisan ini lebih kepada pengingat bagi saya khususnya dan teman-teman pembaca catatan ini bahwa semua kata-kata yang kita ucapkan sangat menentukan citra diri kita. Kata-kata ini tentu saja dapat berupa teks tertulis maupun ucapan lisan.

Saya ingat pepatah lain ‘mulutmu harimaumu’…

Sudah lama sekali pepatah ini saya peroleh dari para guru dannorang tua di dalam proses pendidikan yang saya terima. Pepatah itu seakan terlupakan sejenak. Di era teknologi ini dimana setiap orang dapat menyebarluaskan ucapan atau tulisannya melalui media sosial, website, blog, twitter, bahkan media lain yang dimiliki instansi yang biasa digunakan untuk berkomunikasi antar karyawan…pepatah tersebut tiba-tiba mendesak menyeruak muncul di kepala saya… Pepatah tersebut di atas menjadi amat penting untuk diingat lagi.

Media komunikasi IT dapat menjadi beranda bagi citra diri seseorang. Segala tulisan dan foto yang kita sajikan dapat menjadi potret dari diri seseorang… Berhati-hati di dalam mempublikasikan menjadi bijak apalagi pesan yang dituliskan mengandung pesan bermuatan negatif mengenai seseorang.. Kata-katamu adalah harimaumu yang mungkin siap menerkammu bahkan siapa saja yang membacanya…

 

No responses yet

Next »